Warga Makassar Waspada Preeklampsia, Penyebab Utama Kematian Ibu dan Bayi
Ansar May 24, 2026 12:05 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ratusan peserta ikut meramaikan peringatan Hari Preeklampsia Sedunia di halaman depan Hotel Unhas, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) Minggu (24/5/2026).

Hari Preeklampsia Sedunia diperingati setiap 22 Mei.

Preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan serius yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tanda-tanda kerusakan organ lain, biasanya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu.

Acara dimulai senam bersama yang diikuti ibu hamil, tenaga kesehatan, hingga masyarakat umum pada pukul 07.00 Wita.

Tak hanya senam sehat, kegiatan yang bekerja sama dengan Prodia itu dirangkaikan dengan talkshow edukatif seputar preeklampsia.

Acara tersebut dihadirkan Himpunan Kedokteran Fetomaternal (HKFM) yang merupakan bagian dari Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Makassar.

Tahun ini, mengangkat tema “Kenali, Waspadai, Selamatkan Ibu dan Bayinya”.

Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai preeklampsia sebagai salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir melalui edukasi, deteksi dini, dan promosi kesehatan kehamilan.

Ketua HKFM Indonesia, Dr Alamsyah Aziz, mengatakan peringatan World Preeclampsia Day dilaksanakan secara nasional dari Sabang sampai Merauke.

Namun, untuk puncak kegiatan tahun ini dipusatkan di Makassar.

“Jadi kegiatan World Preeclampsia Day ini adalah kegiatan yang kita laksanakan sebagai peringatan agar ibu-ibu hamil kita jangan sampai terkena preeklampsia,” kata Alamsyah, saat ditemui, usai kegiatan.

Alamsyah menjelaskan, preeklampsia masih menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu di Indonesia.

Bahkan sekitar 30 persen kasus kematian ibu disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan.

“Ini yang ingin kita tekankan, termasuk di Kota Makassar sendiri karena angka kejadiannya cukup tinggi. Kita berharap kasus preeklampsia ini bisa segera kita tuntaskan dan diturunkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan, upaya pencegahan dapat dilakukan dengan mengenali faktor risiko sejak awal kehamilan dan rutin melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan.

Pemeriksaan tekanan darah hingga skrining ultrasonografi menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko preeklampsia lebih dini.

“Kalau ibu hamil sudah diketahui memiliki faktor risiko, maka bisa diberikan terapi pencegahan. Saat ini ada dua obat yang digunakan, yaitu aspirin dan kalsium,” tambahnya.

Perkuat Kolaborasi

Sementara itu, Ketua HKFM Makassar, Prof Siti Maisuri T Chalid, menambahkan, ke depan pihaknya akan terus memperkuat kolaborasi dengan fasilitas kesehatan dan masyarakat melalui program edukasi serta pendampingan di puskesmas.

“Kami ingin lebih banyak kolaborasi. Tidak hanya menunggu di rumah sakit, tetapi juga mengawal fasilitas kesehatan dan lebih aktif melakukan pengabdian masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Makassar, dr Nursaidah Sirajuddin, mengapresiasi edukasi preeklampsia di Makassar.

“Kolaborasi ini sangat kami apresiasi. Ke depan semoga angka kematian akibat preeklampsia ini bisa ditekan,” kata Nursaidah. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.