TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Geliat pariwisata di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, mulai menunjukkan tren positif memasuki musim liburan pertengahan tahun.
Tingkat hunian hotel diproyeksi terus meningkat seiring datangnya periode high season pada Juli hingga Agustus 2026.
General Manager Prama Sanur Beach Hotel, I Gusti Bagus Surya, mengatakan rata-rata pemesanan hotel di kawasan Sanur untuk dua bulan ke depan sudah mencapai 75 persen.
Bahkan khusus di Prama Sanur Beach Hotel, okupansi pemesanan kamar telah menembus angka 80 persen.
Baca juga: Tekanan Pariwisata Meningkat, UHA Jaga Mental dan Kesehatan Pekerja Hotel Lewat Turnamen Futsal
Pria asal Desa Adat Tista, Kecamatan Busungbiu, Buleleng itu menilai tingginya animo wisatawan menjadi sinyal positif bagi pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata Bali, khususnya di kawasan Sanur.
"Untuk dua bulan ke depan okupansi sangat bagus karena sudah memasuki high season Juli dan Agustus. Rata-rata on hand booking hotel di Sanur sudah 75 persen, sedangkan di Prama Sanur Beach Hotel sendiri booking yang masuk sudah mencapai 80 persen," katanya, Minggu 24 Mei 2026.
Namun menurutnya, persoalan sampah dinilai masih menjadi pekerjaan rumah serius bagi sektor pariwisata Bali.
Meski begitu, ia mengapresiasi sinergi seluruh stakeholder pariwisata yang mulai mampu mengurai persoalan tersebut secara bertahap.
Menurutnya, sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka) harus mampu mengelola sampah secara mandiri sesuai ketentuan, terutama dalam pemilahan sampah dan penanganan sampah organik.
"Masalah sampah masih menjadi kendala, walaupun sekarang sudah mulai terurai berkat sinergi semua stakeholder pariwisata. Kami berharap Juli 2027 persoalan sampah ini bisa benar-benar rampung," katanya.
Ia juga mengapresiasi penataan kawasan Sanur yang dinilai semakin tertata dan nyaman.
Rencana penggunaan kabel bawah tanah disebut akan semakin mempercantik kawasan wisata tersebut sekaligus mendukung konsep pariwisata berkelanjutan.
"Penataan Sanur saat ini sudah sangat bagus. Apalagi nanti dengan kabel bawah tanah, tentu akan membuat wisatawan lebih nyaman dan senang. Ini juga mendukung konsep sustainable tourism," jelasnya.
Di sisi lain, kebijakan efisiensi pemerintah saat ini disebut turut berdampak terhadap sektor pariwisata Sanur, khususnya pasar Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE).
Karena itu, pihaknya berharap ada fleksibilitas kebijakan agar sektor MICE tetap bergerak optimal.
Sebagai masukan untuk pengembangan kawasan Sanur ke depan, ia menekankan pentingnya pembentukan forum komunikasi kawasan guna memperkuat koordinasi antar pelaku pariwisata.
Selain itu, diperlukan standar kebersihan bersama, pengaturan lalu lintas, penataan parkir, hingga pengendalian pembangunan berlebihan agar kualitas kawasan tetap terjaga.
Tak hanya itu, implementasi konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) serta standar pariwisata berkelanjutan GSTC (Global Sustainable Tourism Council) juga dinilai penting untuk menjaga daya saing Sanur sebagai destinasi kelas dunia.
Terkait rencana pengembangan kawasan Pulau Kura-kura, pihaknya mengaku belum mengetahui detail proyek tersebut.
Namun ia berharap kehadiran pusat kegiatan di kawasan itu nantinya mampu menarik lebih banyak investor ke Bali, khususnya di sektor pariwisata. (*)