TRIBUNPADANG.COM, TANAH DATAR – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar MTs Diniyah Pandai Sikek setelah salah seorang santrinya, Haikal Arya Kamil (15), meninggal dunia diduga akibat keracunan asap genset di Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.
Kepala MTs Diniyah Pandai Sikek, Nailil Husna, mengaku sangat kehilangan atas kepergian siswanya tersebut. Menurutnya, Haikal dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, dan mudah bergaul dengan teman-temannya.
“Saya mengenal dia tidak pernah bermasalah, pokoknya anak baik,” ujar Nailil kepada TribunPadang.com, Minggu (24/5/2026).
Ia menuturkan, Haikal merupakan sosok yang mudah tersenyum dan memiliki banyak teman di lingkungan sekolah. Meski tidak terlalu menonjol dalam bidang prestasi akademik, Haikal dikenal aktif berinteraksi dengan teman-temannya.
Baca juga: Sempat Padam Massal, Sistem Kelistrikan Sumbar Kini Sudah Stabil 100 Persen
“Dia anak yang suka berteman juga. Kami tentu sangat kehilangan,” katanya.
Nailil membenarkan bahwa Haikal merupakan santri MTs Diniyah Pandai Sikek. Sementara korban meninggal lainnya, Gibran Arrasyid (15), merupakan santri Pondok Pesantren MTI Koto Tinggi.
Adapun korban selamat, Burhanuddin Hakim (16), tercatat sebagai pelajar MAN 2 Koto Baru Padang Panjang.
Menurut Nailil, pihak sekolah pertama kali mengetahui kabar duka tersebut dari para guru yang melihat suasana ramai di sekitar rumah korban yang berada tidak jauh dari lingkungan sekolah.
“Informasi mulai dibagikan guru di grup WhatsApp sekolah sekitar pukul 06.37 WIB. Rumah korban memang dekat dengan sekolah,” ujarnya.
Setelah menerima kabar tersebut, pihak sekolah langsung mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman.
“Korban sudah disemayamkan sebelum salat Zuhur,” katanya.
Baca juga: Pohon 15 Meter Tumbang di Padang, Timpa Dapur dan Tutup Jalan Warga
Berdasarkan informasi yang diperoleh pihak sekolah, peristiwa itu bermula saat terjadi pemadaman listrik massal di Sumatera Barat pada Jumat malam. Ketiga remaja tersebut diduga menyalakan genset untuk mengisi daya telepon genggam mereka.
Namun, mereka diduga tertidur di dalam ruangan dengan genset masih menyala dan pintu dalam keadaan tertutup.
Keesokan paginya, ketiganya ditemukan dalam kondisi tidak sadarkan diri. Menurut informasi yang diterima pihak sekolah, Haikal dan Gibran ditemukan dengan kondisi mulut berbusa, sedangkan Burhanuddin Hakim masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan meski dalam kondisi kritis.
“Bidan desa dipanggil ke lokasi karena jaraknya dekat. Setelah diperiksa, satu korban masih bernapas dan langsung dibawa ke RS Ibnu Sina (Yarsi) Padang Panjang,” ujar Nailil.
Di rumah sakit tersebut, Haikal dan Gibran kemudian dinyatakan meninggal dunia, sedangkan Burhanuddin masih menjalani perawatan.
Baca juga: Kebakaran Tengah Malam di Limapuluh Kota, Satu Rumah Semi Permanen Rusak Berat
Nailil mengungkapkan ketiga korban diketahui memiliki hubungan pertemanan yang sangat dekat. Selain bersekolah di lembaga pendidikan yang berbeda, mereka juga sama-sama menimba ilmu agama di Rumah Tahfiz Surau Dakwah.
“Haikal dan Gibran sama-sama santri di Surau Dakwah. Pagi mereka sekolah di masing-masing pondok, sore belajar Alquran di sana,” tuturnya.
Ia juga menegaskan bahwa Haikal tidak tinggal di asrama sekolah, melainkan bersama orang tuanya. Rumah korban berada hanya beberapa meter dari MTs Diniyah Pandai Sikek dan dipisahkan oleh jalan.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta lingkungan pendidikan tempat para korban menimba ilmu. Hingga kini, Burhanuddin Hakim masih menjalani perawatan medis, sementara penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang.