Siasat Sopir Hadapi Antrean Solar di Padang: Korbankan Waktu Demi Kelancaran Kerja
Fajar Alfaridho Herman May 24, 2026 02:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Menghadapi situasi ketidakpastian pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar di Kota Padang, para sopir truk angkutan barang kini harus memutar otak lebih keras.

Mereka dipaksa menyusun strategi matang agar roda perekonomian dan aktivitas pekerjaan mereka tidak terhenti total pada keesokan harinya.

Langkah antisipasi inilah yang terlihat jelas di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina Kayu Gadang, Simpang Kampus, Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat.

Pantauan Reporter TribunPadang.com, Arif Ramanda pada Minggu (24/5/2026) pagi sekitar pukul 10.45 WIB, puluhan sopir truk rela mengorbankan waktu istirahat akhir pekan mereka demi mengamankan bahan bakar.

Bagi para pekerja sektor logistik dan angkutan material, solar adalah urat nadi utama yang menentukan apakah mereka bisa membawa pulang nafkah atau tidak.

Baca juga: Cerita Sopir di Padang Rela Antre Solar Sejak Pagi: Pas Giliran Kita Habis, Itu Bikin Pusing

Situasi di lapangan menunjukkan antrean armada angkutan barang tersebut sudah mengular sangat panjang.

Barisan kendaraan roda enam atau lebih itu bahkan meluber hingga ke bahu jalan di sekitar area SPBU, menciptakan pemandangan yang padat merayap.

Siasat Cerdik Menghindari Keterlambatan

Di tengah hiruk-pikuk antrean tersebut, terselip cerita tentang siasat cerdik para pengemudi truk dalam menyiasati keadaan yang serbakompleks ini.

Salah seorang sopir truk asal Kota Padang bernama Nurman, membagikan ceritanya mengapa ia berada di SPBU tersebut pada hari libur.

Nurman memilih untuk mengambil langkah proaktif dengan ikut mengantre sejak pagi hari, alih-alih menunggu hingga hari kerja tiba.

"Saat ini saya baru mengantre sekitar setengah jam. Langkah ini sengaja saya ambil dari sekarang daripada besok ketakutan kehabisan solar," ungkap Nurman kepada TribunPadang.com.

Baca juga: Pasien Tak Perlu Lagi ke Faskes, Puskesmas Lubeg Buka Layanan Dokter Warga di Padang

Strategi ini rupanya berkaitan erat dengan jadwal pekerjaannya yang sudah tersusun rapi untuk keesokan harinya.

Nurman menjelaskan bahwa berdasarkan rencana kerja, ia dijadwalkan harus memuat material pasir pada Senin pagi.

Menolak Kalah oleh Waktu

Jika ia baru memutuskan untuk mencari dan mengantre solar pada esok hari, maka waktu kerjanya dipastikan akan habis di jalan.

"Esok hari jadwalnya baru muat pasir. Jadi, daripada besok pagi saya harus terjebak antrean panjang lagi, lebih baik hari ini semuanya diselesaikan," tegasnya.

Bagi Nurman, mengorbankan waktu senggang di hari Minggu jauh lebih baik daripada melihat pekerjaannya tertunda terlalu lama pada hari kerja.

Dengan tangki kendaraan yang sudah terisi penuh sejak hari ini, ia bisa langsung menuju lokasi penambangan pasir besok pagi tanpa rasa cemas.

Efisiensi waktu seperti inilah yang kini menjadi kunci bertahan hidup bagi para sopir truk di tengah kondisi antrean BBM yang tidak menentu.

Meski demikian, Nurman tidak menampik bahwa proses mengamankan bahan bakar ini membutuhkan pasokan kesabaran yang luar biasa banyak.

Melihat panjangnya barisan truk yang ada di depannya, ia hanya bisa pasrah dan mengikuti ritme pergerakan antrean yang lambat.

Baca juga: Semen Padang FC Tutup Musim dengan Kekalahan 0-3 dari Persija Jakarta

Namun, rasa lelah dan bosan selama mengantre dianggapnya bukan sebuah masalah besar, asalkan tujuan utamanya tercapai.

"Antrean hari ini memang tergolong sangat panjang dan kita semua harus ekstra bersabar. Tapi itu tidak jadi masalah bagi saya pribadi, yang penting kita bisa dapat solar," tambahnya.

Bagi para pengemudi, kepastian mendapatkan bahan bakar adalah segalanya, meskipun harus dibayar dengan waktu tunggu yang lama.

Momok Menakutkan di Ujung Jalur Pengisian

Meski berusaha tetap positif, Nurman mengakui ada satu kekhawatiran terbesar yang selalu membayangi pikiran setiap sopir saat mengantre.

Momok menakutkan tersebut adalah risiko kehabisan pasokan solar tepat di saat kendaraan mereka sudah mendekati mesin pompa dispenser.

Situasi tersebut dinilai sebagai skenario terburuk yang paling dihindari oleh seluruh pengemudi angkutan barang.

"Kalau kita sudah capek-capek antre panjang, tapi pas giliran truk kita yang maju ternyata solarnya habis, nah itu yang paling bikin pusing kepala," kata Nurman dengan nada getir.

Jika hal buruk itu sampai terjadi, maka seluruh strategi dan waktu yang dikorbankan hari ini akan menjadi sia-sia tanpa hasil.

Fenomena Jalur Pertalite yang Tak Kalah Padat

Siasat bertahan menghadapi antrean BBM ternyata tidak hanya monopoli para sopir truk angkutan barang yang memburu solar subsidi.

Pantauan Reporter TribunPadang.com di lokasi yang sama juga memperlihatkan kepadatan luar biasa di jalur pengisian BBM jenis Pertalite.

Jika jalur solar dikuasai oleh kendaraan-kendaraan besar, maka jalur pertalite tampak didominasi oleh ratusan kendaraan roda dua.

Masyarakat pengguna sepeda motor juga tampak rela berbaris rapi demi mendapatkan bahan bakar penunjang mobilitas harian mereka.

Kondisi SPBU Kayu Gadang pada Minggu pagi itu benar-benar menjadi potret nyata bagaimana warga Padang harus berjuang demi seliter bahan bakar.

Baca juga: Terekam CCTV Curi Udang dan Ikan dalam Rumah Makan di Padang, Korban Rugi Rp2 Juta

Migrasi Konsumen Bikin Antrean Makin Menggila

Kondisi antrean solar yang kian parah ini juga mendapat sorotan dari kalangan pengguna jalan lainnya yang kerap mengamati situasi SPBU.

Fajar, salah seorang pengendara bus yang sedang melintas, memberikan analisisnya mengenai penyebab penumpukan kendaraan yang tak kunjung usai.

Menurut Fajar, salah satu pemicu utama makin panjangnya antrean solar adalah adanya fenomena penurunan kelas atau migrasi konsumen.

Ia melihat banyak pemilik kendaraan yang seharusnya menggunakan BBM nonsubsidi jenis dexlite, kini mulai melirik solar subsidi.

"Sebenarnya masih ada untungnya karena harga solar tidak mengalami kenaikan saat ini," kata Fajar memberikan pandangan.

Beban Berat di Jalur Subsidi

Namun di sisi lain, stabilitas harga solar subsidi tersebut justru menjadi daya tarik yang luar biasa bagi konsumen yang ingin menghemat biaya operasional.

Dampaknya, kendaraan-kendaraan yang biasanya diisi dengan dexlite kini ikut mengular di jalur solar, membuat volume kendaraan bertambah berkali-kali lipat.

"Orang-orang yang biasanya mengisi dexlite sekarang kadang ikut-ikutan antre isi solar. Akibatnya, antrean di SPBU menjadi tambah padat dan panjang seperti sekarang," tutur Fajar menutup perbincangan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.