TRIBUNPEKANBARU.COM - Selengkapnya kami sajikan Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 24 Kegiatan 10 Menilai Kohesi dan Koherensi Kurikulum Merdeka.
Kemampuan memahami kohesi dan koherensi sangat penting agar sebuah paragraf mudah dipahami pembaca.
Pada halaman 24 Kurikulum Merdeka, siswa Kelas 9 diajak mengikuti Kegiatan 10 tentang menilai kohesi dan koherensi dalam paragraf deskripsi.
Dalam aktivitas ini, siswa diminta memilih satu halaman dari buku cerita atau buku lainnya, kemudian membaca isi paragraf dengan teliti.
Setelah itu, siswa menilai apakah paragraf tersebut sudah memiliki hubungan antarkalimat yang padu dan runtut.
Bagian yang menunjukkan kohesi dan koherensi perlu ditandai agar siswa lebih mudah memahami unsur keterpaduan dalam teks.
Selain memberikan penilaian, siswa juga diminta menyebutkan alasan yang mendukung pendapat mereka.
Kegiatan ini membantu siswa melatih kemampuan berpikir kritis dan memahami struktur paragraf dengan lebih baik.
Melalui latihan seperti ini, siswa diharapkan mampu menulis paragraf yang runtut, jelas, dan nyaman dibaca.
Berikut Soal dan Kunci Bahasa Indonesia Kelas 9 Halaman 24 Kurikulum Merdeka:
1. Ambil sebuah buku cerita atau buku jenis lain. Jika tidak ada buku lain, kalian dapat menggunakan Buku Siswa ini.
2. Bukalah halamannya secara acak.
3. Bacalah satu halaman saja.
4.Berikan penilaian apakah paragraf tersebut mengandung kohesi dan koherensi (tandai bagian yang memiliki kohesi dan koherensi tersebut).
5. Sebutkan alasan kalian.
Jawaban:
Wiwitan, Tanamkan Kearifan Lokal ke Peserta Didik Wiwit atau wiwitan adalah sebuah tradisi yang hidup dalam akar budaya masyarakat Jawa. Di Yogyakarta, setiap kali akan melakukan panen pertama dilakukan tradisi wiwitan. Ritual masyarakat sebagai ungkapan rasa syukur pada Sang Pencipta atas panen yang telah tiba.
Kohesi: Ada pengulangan kata dari kalimat sebelumnya yaitu kata wiwit.
Koherensi : Kalimat-kalimat berhubungan erat dengan gagasan utama.
Upacara ini menggunakan uba rampe yang terdiri atas berbagai jenis tumbuhan dan jajanan pasar yang kesemuanya merupakan simbol-simbol dengan arti dan filosofi tersendiri. Sebagai kearifan lokal, tradisi ini patut dilestarikan dan dikenalkan ke generasi muda. Itu pula yang dilakukan sekolah Sanggar Anak Alam (SALAM) di Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta. Perlu diketahui, sekolah ini berada di tengah-tengah persawahan. Untuk menuju ke sekolah pun peserta didik dari SD hingga SMA harus melewati pematang sawah atau saluran irigasi. Tentu, beriringan dan bertemu dengan bapak dan ibu tani merupakan hal yang biasa.
Kohesi: Ada pengulangan kata dari kalimat sebelumnya yaitu kata sawah.
Koherensi : Kalimat kedua dan kalimat selanjutnya selalu berkaitan.
Berangkat dari situ, SALAM sebagai bagian dari warga Nitiprayan, bersama kelompok tani Suka Tani Dusun VII Jomegatan, Nitiprayan serta didukung pula oleh Dinas Kebudayaan Bantul mengadakan acara wiwitan atau Pesta Panen Raya pada 20 September 2017. Dalam penyelenggaraannya, guru, peserta didik, orang tua peserta didik, dan petani di sekitar sekolah turut aktif sebagai peserta. Prosesi dimulai dari arak-arakan kirab gunungan dari rumah kepala dukuh setempat menuju sekolah. Di ujung saluran irigasi di dekat sekolah, simbolisasi Dewi Sri, yang diperankan oleh peserta didik, menunggu gunungan datang. Arak-arakan berlanjut menuju areal persawahan. "Melibatkan peserta didik dan orang tua serta masyarakat sekitar sekolah dalam tradisi wiwitan ini. Upaya mengenalkan dan melestarikan tradisi serta kearifan lokal," ujar Ketua Panitia Wiwitan dan Panen Raya Budi Widanarko, yang juga salah satu orang tua peserta didik.
Acara juga diisi dengan kesenian tradisional gejug lesung (pertunjukan musik mengg- unakan lesung dan alu), wayang serangga (wayang dengan tokoh serangga) dengan dalang Sih Agung, dan ditutup dengan kembulbujana sego wiwit (makan bersama nasi dan hidangan lain dalam acara itu). Tema yang diangkat adalah "Eling Dewi Sri". Tema ini sebagai pengingat bahwa budaya warisan nenek moyang kita ini diciptakan bukan tanpa alasan. Namun, supaya manusia terus mengingat untuk menjaga keseimbangan alam, tidak mengeksploitasi kekayaannya, bahwa bumi dan isinya harus dipelihara, agar dapat diwariskan ke anak cucu.
Kohesi: Ada kata ganti tunjuk yaitu ini dan itu
Pendiri Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih menambahkan, tradisi ini merupakan sarana nenek moyang dalam memberikan
pembelajaran, yang tidak dapat ditangkap hanya dengan keterampilan membaca teks tak bermakna saja. Tetapi memerlukan keterampilan membaca suasana, membaca situasi, dan membaca arti. "Anak-anak pun dapat belajar dari acara tradisi ini," ujarnya. (Reren Indranila)
Kohesi: Ada kata ganti tunjuk yaitu ini, ada kata ganti-nya