Ayah Pelaku Penganiayaan Penumpang JakLingko Minta Maaf, Sebut Anak Depresi
Dwi Rizki May 24, 2026 02:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, PESANGGRAHAN - Berliana (27), seorang wanita penumpang angkutan kota terintegrasi JakLingko diduga menjadi korban penganiayaan oleh sesama penumpang berinisial NS (30).

Korban mengaku mengalami kekerasan berupa tamparan dan tendangan saat berada di dalam angkutan rute Lebak Bulus-Cipulir, Jakarta Selatan tersebut.

Terkait peristiwa itu, ayah pelaku bernama Suhairi, mengaku tidak menutup-nutupi kondisi anaknya. 

Ia menyebut putrinya mengalami perubahan perilaku setelah berumah tangga.

"Saya secara pribadi, saya jadi orang tua enggak menutup-nutupi. Memang setelah dia berkeluarga, kondisinya berubah. Sebelum berkeluarga nggak begini,” kata Suhairi saat ditemui wartawan di Mapolsek Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5/2026).

Menurut dia, putrinya semasa kecil hingga dewasa dikenal normal dan memiliki sikap sopan kepada orang lain. 

Namun, setelah menikah, kondisi psikologisnya disebut mulai terganggu.

Baca juga: Desta Iseng Bikin Lagu NDOKASIN, Malah Jadi OST Film Warkop DKI Viralin DOoOong

“Pas pacaran normal, sopan santun, ramah. Setelah dia menikah, dibawa sama suaminya, nah ini jadi berantakan semua,” ujarnya.

Suhairi juga mengungkapkan bahwa rumah tangga putrinya bermasalah. 

Ia mengatakan suami anaknya telah meninggalkan istrinya sejak anak mereka belum berusia empat tahun.

"Sampai sekarang dia enggak ngomong-ngomong, pembiayaan itu semuanya dari saya," tuturnya.

"Emang dia di rumah emaknya. Diceraiin enggak, diapain enggak, ya sampai sekarang, digantungin," lanjut dia.

Selain itu, Suhairi membenarkan putrinya pernah bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah rumah sakit. 

Ia juga mengaku pernah mengantar anaknya menjalani perawatan di rumah sakit jiwa (RSJ).

“Saya yang antar ke RSJ,” katanya, yang mengenakan kaos warna hitam itu.

Di sisi lain, korban mengaku tidak mengalami trauma berat akibat kejadian tersebut.

“Enggak sih,” ujar Berliana, singkat saat ditanya mengenai kondisi psikologisnya pascakejadian.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Jalan Raya Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu sempat viral di media sosial usai rekaman video kejadian beredar luas.

Kapolsek Pesanggrahan, Kompol Seala Syah Alam mengatakan, pihak kepolisian telah mengamankan terduga pelaku berinisial NS (30) tak lama setelah korban melaporkan kejadian tersebut.

“Kami langsung melakukan pemeriksaan terhadap korban serta pendampingan visum setelah laporan diterima. Terduga pelaku saat ini sudah diamankan,” kata Seala dalam konferensi pers di Mapolsek Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Seala, pelaku diduga memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan baru keluar dari rumah sakit jiwa kurang dari satu tahun lalu. 

"Untuk saat ini memang, belum genap kurang lebih 1 tahun, yang bersangkutan memang baru saja keluar dari RSJ, karena ada mengalami gangguan mental atau kejiwaan," tuturnya.

Karena itu, pihaknya menggandeng Dinas Sosial untuk melakukan pendampingan dan pemeriksaan psikologis lebih lanjut terhadap pelaku.

"Selanjutnya, mengapa ada pihak Dinsos, kami hadirkan di sini? Sambil kasus ini berjalan beriringan, kami dari pihak kepolisian, tentunya bersama pihak Dinsos akan bekerja sama dengan pihak dari rumah sakit jiwa untuk melakukan uji klinis terhadap pelaku," tutur dia.

"Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar penanganan kasus sesuai prosedur hukum yang berlaku," sambung Seala.

Sementara itu, korban Berliana menjelaskan, kejadian bermula saat pelaku naik ke angkutan JakLingko dari kawasan Bintaro.

"Dia naik dari Bintaro, lalu masuk, duduk di barisan belakang supir, tapi paling pojok, bentukannya mobilnya itu mobil Grand Max yang slide. Terus dia biasa seperti penumpang biasa, dia minta tolong untuk di-tap kartunya. Terus duduk seperti biasa, terus tidak lama dia naik, tiba-tiba dia membentak ibu-ibu kayak "mau di-tapin gak kartunya" kalau ditanya apa, jawab apa," kata Berliana.

"Itu semua nengok memang karena dia ngebentak kan, terus aku jelasin, karena mesin card itu lagi eror. Jadi kalau misalnya kita mau tap itu tuh, lampu hijaunya harus mati, nah ini lampu hijaunya gak mati-mati gitu, terus dia kayak apa jawab apa, terus ya udah kelar gitu. Nah mesin tap-nya itu misah, jadi di-tap karena ibu-ibunya juga takut, ibu-ibunya kasih kartu ke aku buat oper ke dia, dia narik cepat. Yaudah clear kayak, yaudah aku melihat jalan aja biasa," sambungnya.

Berliana mengaku sempat membantu penumpang lain menyerahkan kartu elektronik kepada pelaku. 

Namun beberapa saat kemudian, saat dirinya hendak membantu membuka akses penumpang yang akan turun, pelaku tiba-tiba menamparnya.

Korban mengatakan dirinya juga sempat ditendang oleh pelaku. 

Sebagian kejadian berhasil direkam menggunakan telepon genggam sebelum akhirnya video tersebut viral di media sosial.

"Terus tidak lama, yang samping aku itu, samping kanan mau turun, karena mau turun karena selain lewat yang agak susah. Aku mau bantuin buka, tapi aku lihat dulu bisa atau enggak, tiba-tiba dia udah turun gitu, udah turun, tiba-tiba di tampar aja sebelah kiri gitu," kata dia.

"Terus saya kaget, kenapa ditampar gitu, terus dia balik lagi ngomong kayak, "lu ditanya aku jawab apa", gitu kan. Terus yaudah aku foto, aku record-nya itu di video pertama itu, pertama kali, pertama kali dia masih kayak "foto aja, record aja gitu". Terus habis itu ditampar lagi gitu, ya kenapa ditampar, ditampar 4-5 kali, saya agak lupa, karena kerjanya terlalu cepet juga sih," lanjut Berliana. 

Usai kejadian, Berliana sempat bimbang antara melanjutkan aktivitas kerja atau membuat laporan polisi. 

Namun akhirnya ia memutuskan melapor ke Polsek Pesanggrahan dalam kondisi masih syok.

"Saya sebenarnya masih bingung juga, karena posisi saya kan, saya mau berangkat kerja kan, saya masih mikir laporan atau kerja, akhirnya saya turun di Cipulir. Yaudah laporan aja dengan kondisi tidak stabil," tuturnya.

"Kalau ODGJ sih enggak (nyangka), cuma kayak orang stres mungkin, terus kayak butuh perhatian sama orang, gitu sih, karena dari apa namanya, dari penampilan dia tuh juga rapi gitu ya, pakai perhiasan, terus diajak ngobrol tuh nyambung, cuma kayak kayak apa yang dia coba bilang kemarin tuh kayak orang salah, panik gitu loh," tambah dia.

Sementara itu, ayah terduga pelaku Suhairi menyampaikan permohonan maaf kepada korban dan masyarakat atas tindakan anaknya.

“Saya mohon maaf sedalam-dalamnya apabila anak saya telah menyusahkan orang lain. Kondisi fisiknya memang sedang kurang baik,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Sosial Kecamatan Pesanggrahan, Sansan, mengatakan pihaknya akan mendampingi proses rujukan pelaku ke rumah sakit jiwa sesuai prosedur yang berlaku.

“Kami melakukan pendampingan dari kepolisian menuju rumah sakit agar aman selama perjalanan. Untuk rekam medis dan durasi perawatan menjadi kewenangan rumah sakit,” kata dia.

Ia menambahkan, layanan pendampingan dari Dinas Sosial tidak dipungut biaya.

Masyarakat juga dapat melaporkan persoalan sosial, termasuk penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), melalui aplikasi JAKI milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.