Penjualan Kambing Kurban di Malang Lesu, Pembeli Banyak Bandingkan Harga, Ekonomi Belum Stabil
Samsul Arifin May 24, 2026 03:14 PM

 

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Benni Indo

TRIBUNJATIM.COM, MALANG – Warga Kota Malang mulai berpikir ulang untuk membeli hewan kurban menjelang Iduladha 2026, terutama kambing.

Meskipun harga kambing mengalami penurunan, namun tidak mudah bagi beberapa warga memutuskan untuk segera membeli.

Warga Selektif Cari Harga Kambing

Rohman, warga Purwantoro lebih berhati-hati mengatur pengeluaran di tengah situasi ekonomi yang dinilai belum stabil. 

Ia masih belum membeli hewan kurban hingga H-3 Iduladha. Ia mengaku sudah mendatangi beberapa lapak penjualan kambing kurban untuk mencari harga yang sesuai dengan kemampuan keuangannya.

“Sudah keliling beberapa lapak, lihat-lihat harga kambing. Tapi sampai sekarang masih belum cocok,” ujar Rohman, Minggu (24/5/2026).

Baca juga: Lapak Hewan Kurban di Kota Malang Sepi Pembeli, Pedagang Hanya Berharap Modal Kembali

Rohman menceritakan, sebenarnya ia memiliki keinginan untuk berkurban tahun ini. Namun kondisi ekonomi membuatnya harus lebih selektif sebelum memutuskan membeli hewan kurban.

Ia mengaku mencari kambing dengan harga yang relatif terjangkau. Sebab, pengeluaran rumah tangga dan kebutuhan usaha belakangan semakin meningkat.

“Sekarang harus benar-benar dihitung. Cari yang harganya masih masuk di kantong,” katanya.

Pelemahan Rupiah Pengaruhi Usaha

Rohman mengatakan kondisi ekonomi saat ini membuat dirinya tidak bisa sebebas tahun-tahun sebelumnya dalam mengeluarkan uang. Terlebih, usaha yang dijalankannya ikut terdampak akibat pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat.

Menurutnya, melemahnya Rupiah berdampak langsung terhadap harga sejumlah barang kebutuhan usaha yang mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Banyak barang naik. Untuk usaha juga terasa sekali dampaknya,” ujarnya lelaki yang memiliki usaha jualan bahan pokok tersebut.

Baca juga: Penjualan Hewan Kurban di Kota Batu Lesu, Pedagang Sebut Kondisi Ekonomi Pengaruhi Pembeli

Karena itu, ia memilih lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, termasuk untuk membeli hewan kurban. Ia harus mempertimbangkan kondisi keuangan agar usaha dan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.

“Kalau tahun-tahun sebelumnya mungkin lebih longgar. Sekarang lebih hati-hati karena kondisi ekonomi belum pasti,” katanya.

Meski belum membeli kambing kurban, Rohman mengaku masih terus mencari lapak yang menawarkan harga lebih terjangkau. Ia berharap masih ada penjual yang memberikan harga sesuai kemampuan masyarakat menengah seperti dirinya.

“Masih cari-cari dulu. Semoga ada yang cocok,” ujarnya.

Fenomena tersebut disebut mulai banyak dirasakan pedagang hewan kurban di Kota Malang. Sejumlah penjual mengaku pembeli tahun ini cenderung lebih banyak bertanya dan membandingkan harga dibanding langsung membeli.

Salah satu pedagang kambing kurban, Halimah, mengatakan kondisi penjualan tahun ini berbeda dibanding momen Iduladha sebelumnya. Biasanya, suasana lapak sudah ramai sejak sepekan sebelum hari raya hingga H-1 Iduladha. Namun tahun ini, jumlah pembeli yang datang untuk sekadar melihat maupun membandingkan harga disebut jauh berkurang. 

“Biasanya weekend itu ramai, walaupun cuma melihat-lihat atau tanya harga. Sekarang sepi. Sabtu kemarin cuma pagi saja yang ada pembeli. Itu pun hanya satu,” ujar Halimah, Minggu (24/5/2026).

Perempuan yang sudah 19 tahun berjualan hewan kurban itu mengaku kini lebih berhati-hati mendatangkan stok kambing. Jika sebelumnya ia berani menyediakan hingga 100 sampai 150 ekor kambing, tahun ini ia hanya menyiapkan sekitar 60 ekor. Hingga H-3 Iduladha, kambing yang terjual baru sekitar 40 persen dari stok awal. 

“Sisa 60 persen. Biasanya H-3 seperti sekarang ini sudah ramai. Saya berharap memang segera ada yang beli,” harapnya.

Menurut Halimah, kondisi tersebut tidak lazim. Pada tahun-tahun sebelumnya, menjelang H-3 Iduladha stok kambing biasanya sudah hampir habis dan hanya menyisakan sekitar 20 persen. Bahkan saat malam takbiran, kambing yang tersisa biasanya tinggal dua hingga empat ekor saja. 

“Kalau sekarang yang laku baru sekitar 40 persen. Sisanya masih banyak,” katanya. 

Menariknya, lesunya penjualan terjadi di tengah harga kambing yang justru mengalami penurunan dibanding tahun lalu. Halimah menyebut kambing yang tahun lalu dijual sekitar Rp 7 juta, kini hanya berkisar Rp 5 juta. Sementara kambing ukuran besar yang tahun lalu bisa terjual Rp 8,5 juta, kini hanya laku sekitar Rp 6,75 juta. 

“Saya tidak tahu, apakah daya beli masyarakat turun atau bagaimana,” ujarnya.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab turunnya harga kambing tahun ini. Sebab biasanya sejak setelah Idulfitri harga kambing mulai naik menjelang Iduladha. Namun tahun ini harga cenderung stagnan bahkan menurun.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.