Dari Kamar Kos di Bengkulu, Tania Rasakan Dampak Rupiah Melemah, Mi Instan Kini Tak Lagi Ramah
Ricky Jenihansen May 24, 2026 03:38 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Lampu kamar kos itu masih menyala ketika malam di kawasan Rawa Makmur Permai, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu mulai sunyi.

Di atas meja kecil yang dipenuhi buku kuliah dan lembar revisi tugas, Tania R duduk menatap layar laptopnya.

Jari mahasiswi semester 6 itu bergerak cepat mengetik tugas kuliah, lalu berhenti sejenak untuk menyeruput kuah mi instan hangat yang baru dimasaknya.

Bagi Tania, mi instan bukan sekadar makanan praktis.

Mi instan sudah lama menjadi teman malamnya saat tenggat tugas datang bersamaan, ketika rasa lapar muncul di tengah malam, atau saat uang kiriman mulai menipis sebelum akhir bulan.

Namun kini, makanan yang dulu identik dengan “penyelamat mahasiswa” itu perlahan mulai terasa mahal.

“Kalau dulu harga mi instan itu Rp2.500 per bungkus, jadi bawa uang Rp5.000 dapat dua bungkus. Kemarin beli sudah ada yang Rp4.500,” ungkap Tania kepada TribunBengkulu.com, Sabtu (23/5/2026).

Ia masih mengingat rasa malu yang sempat muncul ketika datang ke warung dekat kosannya sambil menggenggam uang Rp5.000 seperti biasanya.

Dalam pikirannya, uang itu masih cukup untuk membeli dua bungkus mi instan.

Namun ternyata tidak lagi.

“Jadi cuman beli satu bungkus saja,” katanya pelan.

Hidup Hemat Mahasiswi Rantau

Bagi sebagian orang, selisih harga beberapa ribu rupiah mungkin bukan persoalan besar.

Namun bagi mahasiswa rantau seperti Tania, perubahan kecil itu cukup terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, Tania membawa harapan besar keluarganya.

Ia menjadi orang pertama di keluarganya yang berhasil menempuh pendidikan perguruan tinggi.

Orang tuanya di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, mengirim uang Rp1 juta setiap bulan untuk biaya hidupnya di Kota Bengkulu.

Kiriman itu pun diberikan bertahap, Rp500 ribu setiap dua minggu.

Uang tersebut harus cukup untuk makan, bensin motor, kebutuhan kuliah hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Setiap pagi, Tania berangkat kuliah menggunakan sepeda motor.

Sarapan paginya sederhana.

Kadang hanya roti yang dibeli untuk stok beberapa hari, kadang telur ceplok yang dimasak sendiri di kamar kos.

“Kalau sudah berangkat ke kampus biasanya sarapan roti, kadang telor ceplok,” tuturnya.

Di tengah kondisi serba pas-pasan itu, Tania juga tetap berusaha merawat dirinya.

Ia menyisihkan uang sekitar Rp600 ribu setiap tiga bulan untuk membeli skin care.

Baginya, kebutuhan perempuan tetap perlu diperhatikan meski harus hidup hemat.

“Ya kiriman orang tua tidak cukup,” ujarnya.

Untuk menambah uang jajan, Tania bekerja sebagai freelancer penulis.

Honor yang diterimanya tidak menentu.

Kadang hanya Rp20 ribu, kadang bisa mencapai Rp250 ribu untuk satu pekerjaan.

Namun pekerjaan itu tidak datang setiap hari.

“Kadang ada, kadang tidak,” katanya.

Rupiah Melemah, Harga Pangan Ikut Naik

Kisah Tania menjadi gambaran kecil bagaimana pelemahan nilai tukar rupiah perlahan mulai terasa hingga ke kamar-kamar kos mahasiswa rantau.

Kenaikan harga mi instan yang selama ini dikenal sebagai makanan hemat ternyata berkaitan dengan kondisi ekonomi global dan melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Salah satu bahan utama mi instan adalah tepung terigu yang berasal dari gandum impor.

Sementara Indonesia masih bergantung pada impor gandum dari luar negeri.

Dikutip dari Kompas.com, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Sabtu (23/5/2026) berada di angka Rp17.698 per dolar AS.

Kondisi tersebut mulai memberi tekanan terhadap harga bahan pangan berbasis impor seperti gandum dan kedelai.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengatakan kenaikan harga bahan baku impor mulai dirasakan produsen sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan kepada konsumen dalam beberapa bulan ke depan.

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma.

Menurut Rahma, dampak tersebut paling terasa bagi masyarakat kelas menengah dan bawah yang sangat bergantung pada bahan pangan murah dan praktis.

Bertahan di Tengah Biaya Hidup yang Meningkat

Bagi mahasiswa rantau seperti Tania, kenaikan harga mi instan mungkin tampak sederhana.

Namun di balik itu, ada cerita tentang bertambahnya tekanan biaya hidup yang harus mereka hadapi setiap hari.

Ketika uang bulanan tetap, sementara harga kebutuhan perlahan naik, mahasiswa dituntut semakin pandai mengatur pengeluaran.

Malam itu, di kamar kos kecilnya, Tania kembali melanjutkan tugas kuliahnya.

Di samping laptopnya, tersisa setengah bungkus mi instan yang sengaja dihemat agar cukup hingga esok hari.

Bagi sebagian orang, mi instan mungkin hanya makanan cepat saji biasa.

Namun bagi mahasiswa rantau seperti Tania, mi instan adalah cara bertahan hidup di tengah perjuangan mengejar masa depan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.