Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Tari Rahmaniar
TRIBUNFLORES.COM, LABUAN BAJO – Manggarai Barat bukan hanya dikenal karena panorama wisata kelas dunia, tetapi juga karena kekayaan ekosistem dan spesies endemiknya yang menjadi perhatian internasional.
Potensi besar itu menjadi sorotan dalam kegiatan loka karya bertajuk Peran Para Pihak di Tingkat Daerah dalam Mengkomunikasikan dan Melaksanakan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025-2045 yang digelar di Hotel Jayakarta Labuan Bajo, Kamis 21 Mei 2026.
Kegiatan ini mempertemukan pemerintah daerah, privat sektor industri pariwisata, Badan Pelaksanaan Otoritas Labuan Bajo Flores (BPO LBF) serta masyarakat sipil untuk memperkuat kolaborasi dalam menjaga dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
Program Manager Burung Indonesia, Tiburtius Hani, mengatakan keanekaragaman hayati bukan sekadar hutan atau kumpulan pohon, tetapi mencakup ekosistem, spesies, hingga proses ekologis yang menopang kehidupan masyarakat.
Baca juga: Jadi Korban Pengeroyokan, Pemuda di Ende NTT Malah Ditahan Dalam Perkara Lama
“Daerah kita ini dianggap sebagai berkat yang luar biasa, terutama dengan kelimpahan area-area pantai dan berbagai ekosistem yang menyediakan layanan lingkungan bagi kehidupan masyarakat,” ungkap Tibertius, Kamis (21/05).
Ia menjelaskan, kekayaan hayati Manggarai Barat telah menjadi daya tarik dunia yang mendukung sektor pariwisata sebagai sektor unggulan daerah.
Menurutnya, pembangunan dan konservasi tidak boleh dipisahkan karena kerusakan lingkungan akan berdampak langsung terhadap sektor wisata.
“Kita telah menempatkan pariwisata sebagai leading sector. Maka sektor ini tidak mungkin dipisahkan dari keanekaragaman hayati. Kalau alamnya rusak, maka daya tarik wisata juga akan ikut hilang,” ujarnya.
Berdasarkan materi yang dipaparkan dalam loka karya, IBSAP 2025-2045 selaras dengan kerangka global Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework dan terintegrasi dengan RPJPN 2025-2045 serta RPJMN 2025-2029.
Keanekaragaman hayati diposisikan sebagai modal dasar pembangunan berkelanjutan sekaligus bagian penting menuju ekonomi hijau dan Visi Indonesia 2045.
Provinsi NTT memiliki 36 Important Bird Areas (IBA) dan 85 Kawasan Keanekaragaman Hayati (KBA), terdiri dari 63 KBA daratan dan 22 KBA laut, dengan ragam ekosistem mulai dari hutan, savana, agroekologi, hingga mangrove, lamun, dan terumbu karang.
Selain itu, NTT juga menjadi rumah bagi berbagai satwa endemik dan terancam punah seperti Komodo, Elang Flores, Kura-kura Leher Ular Rote, dan Kakatua Jambul Kuning.
Berdasarkan materi yang diperoleh TRIBUNFLORES terdapat sedikitnya 42 spesies endemik Wallacea yang masuk kategori terancam punah.
Keberadaan spesies tersebut dinilai tidak hanya penting secara ekologis, tetapi juga menopang kehidupan masyarakat, termasuk sektor pertanian yang bergantung pada keberadaan penyerbuk alami.
Selain menopang ekonomi dan lingkungan, keanekaragaman hayati juga berkaitan erat dengan budaya masyarakat Manggarai dan Flores. Berbagai bahan alam untuk rumah adat, kebutuhan pangan, hingga tradisi lokal bergantung pada keberlanjutan sumber daya alam.
“Keanekaragaman hayati ini harus kita lihat sebagai aset pembangunan daerah. Kalau alam terjaga, maka pariwisata, budaya, ketahanan pangan, hingga kehidupan masyarakat juga akan tetap terjaga,” ujarnya.
Sementara itu Kordinator Pokja Sinkronisasi Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem dan Spesies Bambang Nooryanto mengatakan Pemerintah daerah didorong mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati ke dalam RPJPD, RPJMD, RTRW, dan RDTR, termasuk penetapan kawasan lindung, taman kehati, serta perlindungan habitat dari kerusakan akibat pembangunan dan ekspansi ekonomi.
"Selain itu, daerah juga diarahkan memperkuat koordinasi lintas sektor, membangun sistem pemantauan berbasis sains, serta mendorong kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, media, dan organisasi lingkungan dalam mendukung konservasi dan pendanaan program kehati," ujarnya saat pemaparan materi.
Manggarai Barat memiliki luas wilayah 9.450 kilometer persegi dengan jumlah penduduk mencapai 276.284 jiwa pada tahun 2024. Wilayah ini terdiri dari 12 kecamatan, 169 desa, dan 5 kelurahan dengan ibu kota di Labuan Bajo.
Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Manggarai Barat Martha Alfanita mengatakan di Taman Nasional Komodo tercatat terdapat 277 spesies hewan, terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptil, termasuk komodo, pari manta, kakatua kecil jambul kuning, hingga lebih dari 1.000 spesies ikan di kawasan perairannya.
"Sementara itu, kawasan Hutan Mbeliling disebut menjadi habitat berbagai spesies endemik Flores seperti Serindit Flores, Kehicap Flores, dan Gagak Flores," ungkapnya.
Kawasan tersebut juga memiliki fungsi ekologis penting sebagai daerah tangkapan air bagi sejumlah daerah aliran sungai di Manggarai Barat dan Manggarai.
Dalam pemaparan materinya ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat sendiri telah memiliki sejumlah kebijakan pendukung konservasi, salah satunya Peraturan Bupati Nomor 18 Tahun 2019 tentang perlindungan keanekaragaman hayati ikan hiu dan pari manta sebagai daya tarik wisata daerah.
Selain itu, pemerintah daerah juga terus memperkuat pengelolaan sumber daya air melalui pembangunan jaringan irigasi di sejumlah wilayah. Pada tahun 2023 hingga 2024, pemerintah mengalokasikan anggaran miliaran rupiah dari Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pengembangan jaringan irigasi dalam mendukung program food estate.
Daerah penting menyiapkan profil keanekargaman hayati di daerah sebagai dasar Menyusun Rencana Induk Pengelolaan Kehati (RIPK) di daerah, ini merupakah mandat dari Permen LH nomor 29 tahun 2009 tentang Pedoman Konservasi Keankaragaman Hayati di daerah. Sekaligus sebagai bentuk turunan dari IBSAP di teingkat operasional di daerah. (Iar)