Pesta Pernikahan Berubah Tragedi Berdarah, Ibu dari Pengantin Ditusuk Mantan Suami, Tamu Auto Panik
Murhan May 24, 2026 03:47 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pesta pernikahan yang seharusnya berbahagia berubah jadi tragedi berdarah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (23/5/2026).

Penyebabnya, seorang wanita berinisial ES (55) yang merupakan ibunda dari pengantin, ditusuk oleh mantan suaminya, E (67).

Melihat peristiwa ini, tamu undangan dari pesta pernikahan itu langsung panik.

Menurut Kanit Reskrim Polsek Tanjung Priok AKP Handam Samudro, peristiwa itu bermula saat pelaku mendatangi resepsi pernikahan anak kandungnya di Sunter Karya Timur, Jakarta Utara.

"Pada saat bersalaman di atas panggung resepsi tiba-tiba pelaku mengambil pisau yang diduga telah dipersiapkan terlebih dahulu yang disimpan di tas pelaku dan kemudian menusukkan pisau tersebut ke bagian perut korban sebanyak satu kali," tutur Handam Samudro, Minggu (24/5/2026). 

Baca juga: Kabur Jelang Akad Nikah, Calon Pengantin Wanita Ditemukan Bersama Kekasih di Kamar Hotel, Diamankan

Tak ayal, insiden ini membuat pesta pernikahan anak korban dan pelaku langsung geger. Sejumlah tamu panik.

Setelah kejadian, pelaku langsung diamankan, sedangkan korban dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif akibat luka tusukan. 

"Pihak keamanan gedung menelepon Polsek Tanjung Priok, selanjutnya terduga pelaku beserta barang bukti diamankan guna penyidikan lebih lanjut," kata Handam.

Motif Sakit Hati dan Dendam

Sementara itu, dugaan sementara motif penusukan dipicu rasa dendam pelaku terhadap korban. 

Namun, polisi masih mendalami motif tersebut. 

Dugaan motif itu diketahui dari selembar surat yang dibuat sebelum berangkat ke resepsi pernikahan. 

Dalam surat itu, pelaku menuliskan rasa sakit hati kepada mantan istrinya terkait beberapa hal pada saat mereka menjalani pernikahan.

"Dugaan sementara motif karena dendam. Pelaku membawa selembar surat yang paginya dibuat sebelum berangkat ke resepsi pernikahan," tuturnya.

Pelaku kini telah ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka.

Petugas di lapangan juga telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan sejumlah barang bukti.

Polisi juga telah meminta keterangan dari para saksi yang melihat peristiwa tersebut.

Pelaku kini dijerat pasal 468 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait penganiayaan berencana dengan ancaman penjara empat tahun.

Dampak Buruk Dendam bagi Kesehatan

 Menyimpan dendam terbukti tidak memberikan manfaat apa pun dalam hidup. Seiring erjalannya waktu, membiarkan amarah dan kebencian terus bersarang di pikiran justru berpotensi merusak kesehatan mental maupun fisik secara perlahan.

Dendam umumnya bermula sebagai respons terhadap ancaman, baik fisik, emosional, finansial, maupun sosial. Misalnya, pada orang asing yang menabrak tanpa meminta maaf, atau rekan kerja yang merebut hasil kerja.

"Tubuh mencoba melindungimu dari kemungkinan serangan atau ancaman lain," kata psikolog klinis dan pendiri Thrive Psychology Group, Charlynn Ruan, PhD, melansir Real Simple, Rabu (29/4/2026).

"Sayangnya, kewaspadaan berlebihan yang terus-menerus ini cenderung digeneralisasi ke orang lain," tambah dia.

Memahami dan mengatasi akar dendam di dalam diri

Alasan psikologis di balik dendam

Tubuh manusia memiliki mekanisme pertahanan yang sering kali bekerja di luar kesadaran. Saat mengingat sosok yang mengkhianati kepercayaan, fisik akan merespons melalui perubahan tertentu, seperti rahang yang menegang atau telapak tangan yang mendadak berkeringat.

Kewaspadaan ini membuat kita rentan menganggap kesalahpahaman kecil sebagai ancaman serius. Akibatnya, kamu bisa saja menutup diri dari hal-hal baik yang datang akibat rasa dendam tersebut.

"Ketika kamu bersiap untuk bertahan, otakmu menyaring informasi positif dan cenderung melebih-lebihkan bahaya, ancaman, dan niat negatif," ucap Ruan.

Selain itu, emosi yang intens akan menciptakan kenangan yang melekat sangat kuat di ingatan. Sering kali, kamu lebih mudah mengingat kembali pertengkaran lama dibandingkan dengan pujian manis pada masa lalu.

"Ingatan yang sangat emosional, terutama yang dipasangkan dengan emosi negatif seperti kemarahan, kesedihan, atau ketakutan, sering kali disimpan di otak kita sebagai ingatan yang paling kuat," papar Ruan.

"Kita mungkin memiliki sejumlah besar emosi yang belum diproses, atau diproses dengan buruk yang terkait dengan dendam," sambung dia.

Melepaskan amarah terkadang terasa menakutkan karena dendam seolah telah menjadi bagian identitas diri. Hilangnya perasaan itu bisa memicu rasa hampa.

Dampak buruk memelihara kebencian

Menyimpan amarah membutuhkan energi yang sangat besar. Kondisi kewaspadaan terus-menerus ini dapat memicu keluhan fisik nyata, seperti gangguan pencernaan hingga kelelahan kronis.

Tanda bahwa dendam telah menjadi masalah serius adalah ketika kamu mulai menghindari tempat tertentu, merasa tegang saat memikirkan seseorang, atau menjadi lebih sinis.

Hal ini membuat kamu sulit membangun hubungan baru, sehingga lingkaran pertemanan menyempit.

Lakukan ini untuk melepas dendam

Luapkan amarah secara fisik

Amarah kerap membuat kita merasa terjebak dalam situasi yang sama. Oleh sebab itu, penting mencari cara produktif dalam menyalurkan emosi.

Salah satu yang bisa dilakukan adalah mengikuti kelas tinju atau melampiaskannya di ruang pelampiasan amarah. Menghancurkan benda secara fisik dipercaya mampu memberikan kelegaan emosional masif.

"Wanita, khususnya, tidak memiliki banyak saluran untuk melepaskan amarah dan kebencian dengan cara fisik," ujar Ruan.

Pahami apa yang bisa dan tidak bisa dikendalikan

Selanjutnya, pahami dengan baik batas kendali diri kamu. Terkadang, pihak yang bersalah tidak akan pernah mau meminta maaf atau bahkan justru menyalahkan kamu atas keretakan yang terjadi.

"Kendalikan apa yang bisa kamu kendalikan," saran Ruan.

"Hancurkan" seluruh perasaan yang membelenggu

Membentuk sebuah ritual pembebasan juga sangat dianjurkan. Kamu bisa meluapkan seluruh perasaan di secarik kertas lalu membakarnya, atau meneriakkan keluh kesah ke sebuah benda sebelum melemparnya ke danau.

Pada akhirnya, jadikan rasa sakit tersebut sebagai sarana pendewasaan diri. Menghindari masa-masa sulit adalah hal mustahil dalam kehidupan nyata.

"Mencoba menghindari hal-hal yang sulit hanya membatasi jumlah kebaikan yang kita biarkan masuk, tapi tidak benar-benar melindungi kita dari keburukan," kata Ruan.

"Orang-orang yang memiliki kehidupan yang indah, bermakna, dan kuat adalah mereka yang belajar menggunakan rasa sakit mereka untuk pertumbuhan, penyembuhan, rasa syukur, dan koneksi yang lebih dalam," tutup dia.

(Banjarmasinpost.co.id/Kompas.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.