Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Saat konvoi juara Persib Bandung pada Minggu (24/5/2026) siang, suhu udara di Kota Bandung cukup panas sampai 30 derajat celcius.
Namun teriknya sinar matahari itu tak menyurutkan semangat para bobotoh untuk memadati kawasan Jembatan Penyebrangan Orang (JPO) di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu (24/5/2026).
Lokasi ini memang digandrungi oleh bobotoh, sebagai lokasi strategis pengangkatan piala Liga Indonesia 2026 yang disabet tiga kali berturut-turut oleh Persib Bandung.
Animonya tak terbendung dan mengular di sepanjang Jalan Asia Afrika hingga simpang lima.
Di titik tersebut telah parkir mobil damkar di halaman Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Bahkan, bobotoh menaiki mobil tersebut sebagai lokasi strategis menonton konvoi kemenangan Persib Juara.
Sejak pagi hari warga telah bersabar menanti squad Pangeran Biru untuk memamerkan trofi hasil kerja kerasnya pada musim ini.
Beberapa warga tampak terus menggenggam gawainya, sekadar memastikan rombongan Persib sudah berada di titik mana.
Waktu menunjukkan pukul 11.00. Namun iring-iringan yang start dari Gedung Sate pukul 08.20 itu belum juga tiba di sejumlah titik.
Antusiasme bobotoh yang tak terbendung membuat aparat harus bekerja ekstra mengamankan jalanan.
Arus kendaraan tersendat dan jadwal pawai pun molor dari waktu yang telah ditentukan.
Hawa panas yang memantul dari aspal jalan yang kian menyengat ini membuat semburan air dari mobil pemadam kebakaran mendadak menjadi pelepas dahaga.
Air yang dikucurkan ke arah kerumunan massa disambut sorak sorai bobotoh. Mereka makin bersemangat, bernyanyi lebih nyaring, dan mengibarkan syal serta bendera Persib ke udara.
Namun tak semua menikmati guyuran air itu. Sejumlah warga buru-buru menyingkir menghindari semprotan.
Tangis seorang bocah pecah ketika air mengenai wajahnya. Namun orangtuanya sigap menenangkan di tengah keramaian yang terus bergemuruh oleh nyanyian kemenangan.
Rombongan yang dinantinya belum juga tiba. Saat bus wisata tiba-tiba melewati jalanan tersebut disambut dengan sorak dan teriakan warga meminta agar bus tersebut ikut menikmati oase sepintas itu.
Ati (50), warga Karapitan, mengaku sudah menunggu hampir lima jam demi menyaksikan langsung perayaan Persib.
Ia bahkan beberapa kali berpindah posisi untuk mencari tempat yang sedikit teduh.
“Panas banget, mau lihat Pak Dedi Mulyadi dan Bojan Hodak. Dari jam 8 di sini, bahkan belum sempat sarapan,” ujar Ati, Minggu (24/5/2026).
Meski lelah dan berdesakan, Ati mengaku senang melihat antusiasme masyarakat merayakan gelar juara Persib.
“Luar biasa sekali meriahnya. Ini momen yang dinantikan, lihat anak senang,” katanya.
Baginya, ini menjadi pengalaman pertama ikut larut dalam perayaan besar bobotoh di jalanan Kota Bandung.
Cuaca panas, tubuh yang saling berimpitan, hingga jadwal pawai yang molor tak mengurangi semangat warga.
“Tadi banyak yang nyeletuk, lagi panas terik gini tiba-tiba hujan. Karena cuaca panas, desak-desakan, eh tiba-tiba disembur air sama Damkar. Tapi gapapa demi Persib,” ucap Ati.