Prediksi Rupiah Menguat ke Rp 15.000 di Juni 2026, Menkeu Purbaya Sarankan Segera Jual Dollar AS
Christoper Desmawangga May 24, 2026 05:19 PM

TRIBUNKALTIM.CO - Kabar gembira bagi perekonomian Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami penguatan tajam hingga menyentuh level Rp 15.000 pada Juni 2026 mendatang.

Optimisme ini disampaikan langsung oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang melihat adanya potensi besar dari guyuran valuta asing dalam waktu dekat.

Merespons proyeksi positif tersebut, Menkeu Purbaya mengimbau dan meminta kepada para pelaku pasar valuta asing untuk tidak menahan mata uang asing mereka dan segera melepas dollar AS yang dimiliki ke pasar.

Baca juga: Purbaya Bantah Ekonomi Indonesia Lesu, Sebut Narasi Dipengaruhi Ekonom TikTok

Pernyataan itu disampaikan Purbaya saat menghadiri Jogja Financial Festival 2026 di Jogja Expo Center (JEC), Kabupaten Bantul, DIY, Jumat (22/5/2026).

"Kalau punya dollar, jual dollar-nya sekarang," kata Purbaya dikutip dari kanal YouTube LPS, dilansir dari Kompas.com.

Menurut Purbaya, penguatan rupiah bakal ditopang derasnya pasokan dollar AS dari kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) serta masuknya dana hasil penerbitan obligasi global pemerintah.

"Jadi, kita harapkan dampak dari devisa hasil ekspor itu ke devisa negara akan semakin signifikan, yang akan memperkuat nilai tukar juga. Jadi, teman-teman nggak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998," ujar Purbaya.

Baca juga: Optimisme Pemerintah Akan Ekonomi Indonesia Bukan Berlebihan, Purbaya: Ini Langkah Terukur

"Nanti Juni akan ada supply dollar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi, rupiah akan menguat. Kalau saya bilang, pemain valas cepat-cepat jual lah. Kita akan dorong rupiah ke arah Rp 15.000," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Purbaya turut mengungkap alasan aturan DHE sempat tertunda berbulan-bulan.

Ia menduga ada lobi dari kalangan pengusaha yang membuat penerapannya molor dari jadwal awal Januari 2026.

"Saya duga banyak pelaku bisnis yang melobi sampai ke Istana. Jadi bukan Presiden ya, sekeliling-sekelilingnya ada yang memperlambat," ungkap Purbaya.

Baca juga: Purbaya Pastikan Belum Ada Pajak Baru pada 2027, Pemerintah Fokus Jaga Daya Beli

"Seharusnya Januari kan, mundur ke Maret, mundur ke April. Sekarang Juni. Itu keputusan yang berani dan saya pikir amat baik buat kita," sambungnya.

Purbaya menjelaskan, evaluasi internal Kementerian Keuangan menemukan banyak devisa hasil ekspor selama ini tidak menetap di Indonesia.

Dana dollar AS yang masuk disebut hanya diparkir sementara sebelum kembali dikirim ke luar negeri.

"Banyak uang itu masuk ke sini, ditukar ke rupiah, disalurkan ke bank kecil dengan cepat. Segera setelah itu bank-bank itu mengirim ke luar negeri, ke Singapura. Sehingga dollar kita di sini habis. Jadi, walaupun ekspor kita selalu surplus, dollar-nya lebih banyak, tapi nggak ada dampaknya ke cadangan devisa kita," terang Purbaya.

Baca juga: Kemenkeu Kembali Sunat Anggaran MBG, Purbaya: Jangan Nyalah-nyalahin MBG Lagi

Karena alasan itulah, pemerintah mewajibkan penempatan devisa hasil ekspor di bank-bank Himbara agar pengawasan aliran dana bisa dilakukan lebih ketat.

Purbaya juga memperingatkan direksi bank pelat merah yang terbukti memainkan aturan tersebut akan langsung dicopot dari jabatannya.

Di sisi lain, Purbaya optimis pasokan valas bakal membanjiri pasar dalam negeri yang berasal dari penerbitan global bond pada pekan ini dengan nilai mencapai 3,4 miliardollar AS.

Ia menyampaikan, surat utang negara tersebut tersedia dalam dua mata uang dengan tenor lima tahun dan 10 tahun, yakni 2 miliar dollar AS serta 1,25 miliar euro.

Baca juga: Anggaran Alutsista vs MBG, Menkeu Purbaya Pastikan Tidak Ada yang Dikorbankan

Purbaya juga menilai, kondisi pasar obligasi Indonesia masih stabil dan tetap diminati investor asing meski terjadi kenaikan yield obligasi AS yang memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

"Kita masuk ke pasar obligasi supaya yield-nya nggak naik terlalu tinggi. Artinya, asing tidak terpaksa harus keluar dari Indonesia karena rugi," ujarnya.

"Walaupun rupiah melemah, yield obligasi, bunga obligasi cenderung turun dalam satu minggu terakhir. Investor asing sudah masuk ke pasar sekunder kita, sudah masuk juga ke pasar primer. Jadi, mungkin sekarang sudah hampir Rp 2 triliun lebih masuk ke situ," lanjut Purbaya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.