TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Banyak orang mengira perut begah, cepat lelah, hingga sulit tidur hanyalah tanda maag atau kelelahan biasa. Padahal, keluhan tersebut bisa menjadi gejala awal gangguan fungsi jantung yang sering tidak disadari dan baru terdeteksi saat kondisinya memburuk.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan gagal jantung, dr. Dian Yaniarti Hasanah, Sp.JP(K), FIHA, mengatakan kondisi ini tidak selalu diawali nyeri dada berat seperti yang umum dibayangkan masyarakat.
Dalam sejumlah kasus, pasien justru berulang kali berobat karena keluhan lambung, mudah lelah, hingga gangguan tidur tanpa menyadari sumber masalah sebenarnya berasal dari jantung.
“Minum obat maag nggak sembuh-sembuh, akhirnya dia ke psikiater. Padahal ternyata dia setelah dilihat lebih dalam, ini ternyata pasiennya gagal jantung,” ujar Dian dalam talkshow kesehatan virtual Kementerian Kesehatan, Minggu (24/5/2026).
Menurut Dian, gagal jantung merupakan tahap akhir dari berbagai penyakit kardiovaskular. Penyebabnya beragam, mulai dari sumbatan pembuluh darah jantung, hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol, hingga infeksi virus serta konsumsi alkohol berlebihan.
“Yang terbanyak adalah sumbatan jantung, serangan jantung misalnya dulu, pas ada sumbatan jantung, kemudian hipertensi tidak terkontrol, diabetes tidak terkontrol,” katanya.
Dian menjelaskan, salah satu tanda yang paling sering luput disadari ialah menurunnya kemampuan fisik secara perlahan.
Pasien yang sebelumnya mampu berjalan jauh atau beraktivitas normal mulai cepat lelah, mudah sesak, atau tidak lagi kuat beraktivitas seperti biasa. Namun perubahan itu kerap dianggap sekadar faktor usia, berat badan naik, atau kelelahan biasa.
“Awalnya kuat jalan 500 meter, eh sekarang cuma 50 atau 100 meter. Tapi ini mungkin karena pengaruh lambung atau pengaruh kecapekan atau pengaruh berat badan naik. Padahal harus hati-hati,” ujarnya.
Selain mudah lelah, gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi kaki bengkak, perut terasa penuh atau begah, hingga produksi urine yang mulai berkurang.
Menurut Dian, banyak pasien baru datang ke rumah sakit saat kondisi sudah berat karena gejala awal dianggap sepele atau dikira berkaitan dengan gangguan lain.
“Pasiennya ada bengkak-bengkak, dipikirnya ini masalah pembuluh darah atau masalah ginjal. Jadi tidak to the point ke penyakit dasarnya,” jelasnya.
Baca juga: Bukan Lagi Penyakit Lansia, Hipertensi dan Penyakit Jantung Kini Banyak Sasar Usia 20-30 Tahun
Untuk membantu pasien mengenali tingkat keparahan gejala, Dian membagi kondisi ini ke dalam tanda hijau, kuning, dan merah.
Kondisi merah menjadi alarm darurat ketika pasien mulai tidak bisa tidur datar, produksi urine menurun drastis, hingga muncul mual dan muntah. Pada fase ini, pasien diminta segera menuju unit gawat darurat (UGD).
“Wah saya kok udah nggak bisa tidur datar sama sekali harus duduk. Kemudian BAK atau produksi urin sudah kurang sekali atau bahkan tidak ada, perut begah, mual muntah itu emang sudah nggak bisa ditunda lagi harus ke UGD,” katanya.
Sementara kondisi kuning ditandai sesak mulai muncul, berat badan meningkat akibat penumpukan cairan, atau urine mulai berkurang.
Adapun kondisi hijau menunjukkan terapi berjalan baik dan pasien masih dapat beraktivitas normal.
“Berat badan stabil dok, saya makan enak, tidur enak, bantal satu, itu udah hijau, sesuai dengan tujuan terapi kita,” ujar Dian.
Selain berkembang perlahan, gangguan ini juga dapat muncul tiba-tiba akibat infeksi virus atau gangguan akut lain yang memicu radang otot jantung.
“Jadi tergantung, jadi progresif bisa, akut atau mendadak juga bisa,” kata Dian.
Ia mencontohkan pasien yang awalnya hanya mengalami gejala menyerupai flu biasa, tetapi ternyata mengalami infeksi virus yang memicu kerusakan serius pada jantung.
“Ada pencetus tertentu, pasiennya ternyata ada infeksi virus misalnya, infeksi virus kemudian menyebabkan radang jantung mendadak gagal jantung,” ujarnya.
Selain keterlambatan deteksi, kepatuhan minum obat juga masih menjadi tantangan besar dalam penanganan pasien.
Menurut Dian, banyak pasien menghentikan pengobatan sendiri setelah merasa kondisi tubuh membaik.
“Pasien akan merasa baik, merasa enak, bisa berkembali ke masyarakat. Tetapi tidak bisa dihentikan obatnya,” katanya.
Padahal penghentian terapi secara tiba-tiba dapat meningkatkan risiko komplikasi berat hingga kematian mendadak.
“Meninggal mendadak adalah risiko tertinggi pada pasien gagal jantung,” ujar Dian.
Ia menegaskan pengobatan bersifat jangka panjang layaknya diabetes dan hipertensi sehingga pasien perlu disiplin menjalani terapi.
“Obat-obat ini adalah obat yang sangat penting yang menjaga pasien,” katanya.
Baca juga: Gagal Jantung dan Serangan Jantung Apakah Sama? Berikut Penjelasan Dokter
Dian juga mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan kenaikan berat badan mendadak, terutama bila disertai sesak napas atau tubuh terasa tidak nyaman.
“Karena kenaikan berat badan yang lebih dari 2 kg dalam seminggu, disertai keluhan sesak, tidak enak badan, itu merupakan tanda perburukan gagal jantung,” ujarnya.
Menurut Dian, kenaikan berat badan tersebut tidak selalu disebabkan penumpukan lemak, melainkan bisa terjadi akibat cairan yang tertahan di dalam tubuh karena fungsi jantung menurun.
Karena itu, pasien dianjurkan rutin memantau berat badan setiap hari dengan metode penimbangan yang sama agar perubahan kondisi dapat dikenali lebih cepat.
Di tengah meningkatnya kasus penyakit jantung di Indonesia, Dian mengingatkan masyarakat agar tidak menyepelekan keluhan yang tampak ringan namun terus berulang. Perut begah, mudah lelah, sesak, hingga sulit tidur datar bisa menjadi alarm awal kerusakan jantung yang berkembang diam-diam sebelum terlambat disadari pasien.