Berawal dari Hobi, Koleksi Ribuan Action Figure Milik Pria di Matraman Kini jadi Aset Investasi
Rr Dewi Kartika H May 24, 2026 05:52 PM

TRIBUNJAKARTA.COM, MATRAMAN - Action figure atau boneka aksi karakter film, gim, dan komik yang dahulunya hanya dianggap menjadi bagian dekorasi atau mainan kini menjadi aset investasi.

Banyak kolektor rela merogoh kantong demi mendapatkan action figure dari tokoh favorit, bahkan untuk beberapa seri diproduksi terbatas harganya dapat mencapai puluhan juta.

Di antaranya Muhammad Dzuljabbar (31), warga Jalan Moncokerto VI, RT 05/RW 13, Kelurahan Utan Kayu Selatan, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur yang kini menjadi kolektor action figure.

Sejak kecil Dzuljabbar mengaku gemar mengkoleksi action figure, hobinya tersebut terus bertumbuh sehingga kini koleksinya bahkan sudah mencapai ribuan berbagai tokoh gim, film, komik.

“Sejak kecil saya memang senang koleksi, senang sama toko-tokohnya DC Komik dan Marvel, senang lihat bentuk Robocop, Astro Boy, Speed Racer juga Bat Mobile," kata Dzuljabbar, Minggu (24/5/2026).

Harga action figure dikoleksinya beragam, mulai dari Rp10 ribu, ratusan ribu, hingga Rp10 juta, tergantung pada jenis, detail, colour, dan jumlah produksi atau ketersediaan barang.

Untuk mendapatkan action figure diinginkan, Dzuljabbar yang merupakan karyawan swasta sebuah perusahaan di Jakarta Selatan itu kerap berburu lewat jejaring media sosial.

Dia mencontohkan action figure DC Komik, Marvel's, Godzilla, Buzz Lightyears, Woody, Sid, Hot Wheels die-cast, Matchbox hingga Disney Disney Doorables Squish'Alots yang dibeli secara daring.

"Kalau di toko enggak ada yang jual, maka di grup komunitas ada forum jual belinya, beli di teman-teman kita yang memang sudah bosan mengoleksi atau seller besar. Nah, yang seller ini juga kolektor,” ujarnya.

Meski terdapat action figure yang dibanderol dengan harga tinggi, tapi bagi kolektor hal tersebut tidak menyurutkan niat mereka untuk membeli action figure diinginkan.

Dzuljabbar menuturkan beberapa jenis action figure kini bahkan tak ubah sebagai aset investasi, karena untuk seri tertentu harga jualnya dapat terus melonjak setiap tahunnya.

Beberapa faktor yang menentukan apakah action figure dapat menjadi aset investasi di antaranya sejarah atau asal usul mainan, seperti action figure sosok Elizabeth Bathory.

“Teman cerita kalau dia beli di harga yang enggak mahal buat saya, tapi setelah saya browsing ternyata Elizabeth Bathory punya sejarah dunia. Harganya sudah mahal, jauh di atas harga disebut teman," tuturnya.

Faktor lain mempengaruhi nilai yakni action figure sudah tak lagi diproduksi lagi oleh pihak produsen, dan merupakan barang nostalgia dari masa lalu sehingga dianggap memiliki nilai sentimental.

Bahkan beberapa pabrikan hingga kini memilih masih memproduksi action figure tertentu dalam bentuk replika, meskipun harga replika tentunya jauh lebih murah dibandingkan dengan aslinya.

Ketika mendapati action figure yang langka tersebut beredar pada sebuah forum jual beli online, maka para kolektor akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.

“Mainan harganya bisa mahal karena unik, dibuat dari khayalan di masa lalu yang sekarang akhirnya khayalan itu terwujud karena perkembangan teknologi,” lanjut Dzuljabbar.

Sehingga koleksi action figure kini berkembang menjadi investasi jangka panjang, bahkan diprediksi ke depannya bisnis mainan action figure bakal terus mengalami perkembangan.

Meski memiliki nilai jual, tapi Dzuljabbar mengatakan hingga kini tidak pernah menjual koleksi action figure pribadinya yang nyaris semuanya produksi Amerika, Jepang, dan China.

Hanya saja Dzuljabbar mengaku pernah mendapatkan seri langka seperti Ratatouille dan Space Jam (Legenda Basket Ball Michael Jordan) dengan harga jauh di bawah harga pada umumnya.

“Kadang dapat dari berburu lewat online. Sekarang kan ramai orang jual barang di Facebook atau e-commerce tuh. Bisa langsung beli mau satuan atau borongan,” sambung Dzuljabbar.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.