TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Perjuangan menghadirkan pendidikan bagi anak-anak di wilayah terpencil mengantarkan Isrodin, pendiri Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pakis di lereng Gunung Slamet, meraih penghargaan Liputan6 Award 2026.
Dedikasi guru asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tersebut mendapat apresiasi luas, karena berhasil membuka akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di kawasan pinggir hutan.
Isrodin diketahui merupakan alumni Program Studi Kependidikan Islam (KI) yang kini berganti nama menjadi Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto.
Isrodin memiliki komitmen kuat dalam menghadirkan layanan pendidikan nonformal dan alternatif bagi anak-anak di kawasan lereng Gunung Slamet. Selain dikenal sebagai pendiri MTs Pakis, Isrodin juga merupakan mantan Ketua Faktapala angkatan ke-5.
Pengalaman tersebut membentuk kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan.
Melalui MTs Pakis, Isrodin membuktikan bahwa pendidikan berbasis lingkungan dan budaya lokal mampu menjadi solusi nyata bagi masyarakat terpencil yang selama ini sulit menjangkau sekolah formal karena keterbatasan biaya maupun akses transportasi.
MTs Pakis berdiri di Dusun Pesawahan, Desa Gununglurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sekolah alternatif tersebut didirikan Isrodin bersama relawan dan komunitas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Argo Wilis.
Kehadiran sekolah ini menjadi solusi bagi anak-anak yang kesulitan mengakses pendidikan formal akibat faktor jarak, ekonomi, hingga keterbatasan sarana transportasi. Tidak hanya menyediakan pendidikan gratis, MTs Pakis juga hadir sebagai upaya mencegah pernikahan dini di wilayah lereng Gunung Slamet.
Penghargaan yang diterima Isrodin turut mendapat perhatian Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar yang menilai perjuangan pendidikan di daerah terpencil masih sangat dibutuhkan hingga saat ini.
Keunikan MTs Pakis terletak pada sistem pembelajaran berbasis agroforestri dan kearifan lokal. Isrodin mengintegrasikan pendidikan lingkungan, pelestarian alam, serta pemberdayaan masyarakat ke dalam kurikulum sekolah.
Salah satu kebijakan yang menarik perhatian publik ialah siswa diperbolehkan membayar daftar ulang menggunakan hasil bumi. Konsep tersebut dinilai lebih relevan dengan kondisi sosial masyarakat sekitar yang mayoritas hidup dari sektor pertanian dan kawasan hutan.
Menurut Isrodin, pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan konsep sekolah gratis, tetapi juga harus mampu menyentuh kebutuhan nyata masyarakat.
“Pendidikan harus berdampak dan punya makna dalam kehidupan masyarakat. Semua pihak perlu terlibat karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama,” ujar Isrodin di Studio Liputan6 Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus memperjuangkan pendidikan demi masa depan generasi berikutnya. “Mari menjadikan alam sebagai guru dan sekolah sebagai rumah bersama,” katanya.
Menteri Agama RI, Prof Nasaruddin Umar menilai perjuangan Isrodin menjadi contoh nyata bagaimana perubahan dapat dimulai dari keterbatasan.
Menurut Menag, masih banyak anak-anak di Indonesia yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak, khususnya di wilayah dengan akses terbatas.
“Masih ada anak-anak yang harus berjuang hanya untuk bisa bersekolah. Di tengah kondisi itu, hadir orang-orang yang memilih tetap bergerak dan percaya bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan,” ujar Menag dikutip dari laman resmi Kemenag RI.
Dia menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya soal ruang kelas formal, tetapi juga tentang menghadirkan harapan, keberanian, dan kesempatan yang setara bagi seluruh anak bangsa.
“Ada ungkapan besar bahwa yang mampu menaklukkan dunia dan akhirat adalah ilmu. Pak Isrodin menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi jalan untuk mengubah kehidupan,” tambahnya. (***)