WARTAKOTALIVECOM, Yogyakarta — Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, melakukan pertemuan dengan Raja Keraton Yogyakarta sekaligus Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Hamengkubuwono X, dalam dua hari berturut-turut di Yogyakarta, Jumat (22/5/2026) dan Sabtu (23/5/2026).
Pertemuan dua tokoh nasional yang memiliki rekam jejak kuat dalam mendorong lahirnya Reformasi 1998 itu pun menyita perhatian publik.
Suasana hangat dan penuh keakraban tampak mewarnai perjumpaan keduanya.
Namun, intensitas pertemuan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut memunculkan spekulasi bahwa agenda tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi atau melepas rindu antarsahabat lama.
Pertemuan pertama berlangsung di Keraton Yogyakarta pada Jumat malam. Sekitar pukul 19.15 WIB, Megawati tiba di kompleks keraton dengan mengenakan kemeja batik merah.
Kedatangannya langsung disambut Sultan HB X yang telah menunggu di area penerimaan tamu dengan balutan batik coklat bermotif bunga.
Sultan hadir didampingi sang permaisuri, Gusti Kanjeng Ratu Hemas, yang juga mengenakan busana batik bernuansa merah.
Momen jabat tangan hangat dan senyum yang saling dilempar di antara kedua tokoh itu menjadi gambaran kedekatan hubungan personal yang telah terjalin selama puluhan tahun.
Dalam kunjungan tersebut, Megawati turut membawa sejumlah anggota keluarga.
Hadir mendampingi antara lain putranya, M Prananda Prabowo, bersama istrinya Nancy Prananda, kemudian cucunya, Pinka Hapsari.
Selain itu, dua keponakan Megawati, yakni Puti Soekarno dan Romy Soekarno, juga tampak hadir dalam rombongan.
Rombongan Megawati turut didampingi politikus PDI-P, Bintang Puspayoga.
Sementara itu, Sultan HB X menerima tamu bersama sejumlah anggota keluarga Keraton Yogyakarta, termasuk putri keduanya GKR Condrokirono dan putri kelimanya GKR Bendara.
Hadir pula menantu dari putri ketiga Sultan, KPH Purbodiningrat.
Kehangatan pertemuan itu dinilai memiliki makna simbolik yang kuat.
Megawati dan Sultan HB X dikenal sebagai dua tokoh nasional yang memiliki kedekatan historis sejak masa pergulatan politik menjelang runtuhnya Orde Baru.
Pada masa Reformasi 1998, keduanya termasuk figur yang aktif menyuarakan perubahan politik dan demokratisasi di Indonesia.
Karena itu, perjumpaan mereka di tengah dinamika politik nasional saat ini tak lepas dari berbagai tafsir.
Meski belum ada pernyataan resmi mengenai substansi pembicaraan, keduanya disebut terlibat dalam diskusi hangat selama pertemuan berlangsung.
Hubungan Megawati dengan Keraton Yogyakarta sendiri dikenal cukup dekat.
Dalam berbagai momentum politik maupun kebangsaan, Sultan HB X dan Megawati beberapa kali terlihat menjalin komunikasi intens, terutama terkait isu kebangsaan, demokrasi, dan persatuan nasional.