Tangis Keluarga Iringi Pemakaman Dedi, ASN yang Tewas Ditembak di Lampung
Noval Andriansyah May 24, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Kota Metro - Jenazah Dedi Kristian Agung (40) akhirnya dimakamkan di kampung halamannya di TPU 16C Metro Barat, Kota Metro, Lampung.

Pedagang ayam geprek itu tewas seusai ditembak OTK di kawasan Jembatan Hitam, Ganjar Asri, Sabtu (23/5/2026) malam.

Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman pria yang juga ternyata berprofesi sebagai ASN Pemkab Lampung Tengah tersebut.

Sejak pagi, rumah duka dipenuhi pelayat yang datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Rekan kerja, warga sekitar, hingga jajaran pemerintah daerah tampak hadir mengiringi pemakaman Dedi.

Baca juga: Alasan Pelaku Penembakan Pedagang Ayam Geprek di Lampung Serahkan Diri ke Polisi

Korban diketahui merupakan ASN di Dinas Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Lampung Tengah yang tewas ditembak saat sedang berjualan ayam geprek bersama keluarganya.

Prosesi pemakaman berlangsung pada Minggu (24/5/2026) di TPU 16C Metro Barat. Sejumlah pentakziah terlihat tak kuasa menahan tangis saat jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir.

Hadir di antara para pelayat, Wali Kota Metro bersama aparat desa setempat yang datang langsung untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

Tragedi penembakan yang terjadi di Jl. Khairbras Jembatan Hitam, Kelurahan Ganjar Asri tersebut menyisakan luka psikologis yang sangat dalam untuk keluarga.

Vita Lestari selaku istri mengatakan, suaminya menerima serangan senjata api oleh pelaku di depan matanya dan kedua anak mereka yang masih balita (berusia 7 tahun dan 3 tahun) saat sedang berjualan ayam geprek.

"Anak saya terus terang langsung teriak, Ayah kenapa, Bu? Ayah kenapa?," ungkap Vita, Minggu (24/5/2026).

Vita mengaku dalam kondisi syok luar biasa dan tidak bisa berbuat banyak saat peristiwa terjadi.

Dia mengatakan, warga sekitar pun sempat tidak berani mendekat untuk menolong karena pelaku terus menodongkan senjata apinya.

Korban baru bisa dievakuasi ke rumah sakit sekitar 15 menit kemudian oleh petugas Babinsa dan warga setelah pelaku melarikan diri, namun nyawanya tidak tertolong akibat luka tembak yang fatal.

Vita mengatakan, peristiwa berdarah ini dipicu oleh masalah utang piutang.

Sebelum penembakan terjadi, kata dia, sempat ada cekcok mulut dan perkelahian fisik antara korban dan pelaku.

Vita mensinyalir aksi ini sudah direncanakan oleh pelaku, mengingat pelaku kerap melontarkan ancaman setiap kali bertemu korban.

Vita selaku istri meminta aparat penegak hukum bertindak transparan dan memberikan hukuman seberat-beratnya tanpa adanya intervensi dari pihak luar.

"Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Jangan ada backing-an apa pun. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Enak dia mati tidak ada tanggungan, sedangkan suami saya mati meninggalkan dua anak yang masih kecil," pungkas Vita.

(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.