Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan
TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG – Pagi belum terlalu tinggi ketika Usman dan istrinya mulai memungut biji kopi merah dari kebun mereka di Kabupaten Kepahiang, Minggu (24/5/2026).
Sudah empat hari terakhir, pasangan suami istri itu menghabiskan waktu dari pukul 09.00 WIB hingga 16.00 WIB di kebun demi memastikan hasil panen tetap bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
Kopi Jadi Sumber Penghidupan
Bagi Usman, kopi bukan sekadar tanaman.
Kebun kopi menjadi sumber penghidupan, harapan keluarga, sekaligus penopang ekonomi yang selama ini diandalkan masyarakat di Kabupaten Kepahiang.
Namun, di tengah musim panen, keresahan justru ikut tumbuh di antara batang-batang kopi miliknya.
Harga jual kopi mengalami penurunan, sementara biaya kebutuhan kebun terus meningkat.
"Yang pasti keluhan kami di bagian pupuk yang naik, kebutuhan pupuk dalam satu hektare itu empat sak dan plastik yang sudah jauh naiknya karena kita petani kopi ini perlu plastik itu untuk stek," ucap Usman.
Tidak hanya pupuk dan plastik, biaya perawatan kebun juga menjadi beban tersendiri yang harus rutin dikeluarkan demi menjaga hasil panen tetap maksimal.
"Selain itu biaya perawatan kebun ini dilakukan per dua bulan sekali," ujar Usman.
Harga Kopi Turun
Di sisi lain, harga kopi di tingkat pengepul justru mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi itu membuat para petani kopi semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Dengan harga kopi yang saat ini tidak stabil sekarang lagi turun di Rp 46.000 -47.000 di pengepul," ungkap Usman.
Usman mengaku hasil panen kopi sebenarnya masih memberikan keuntungan.
Namun, keuntungan tersebut kini terasa tidak lagi sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup lainnya.
"Dari segi keuntunga iya memang ada, tetapi berhubung segala berang naik seperti minyak dan bahan pokok itu sudah tidak mencukupi lagi," terang Usman.
Kini Kerjakan Kebun Sendiri
Keadaan ekonomi yang semakin sulit membuat Usman dan istrinya kini harus mengerjakan sendiri pekerjaan di kebun mereka.
Jika sebelumnya mereka masih mampu mempekerjakan orang untuk membantu panen dan perawatan kebun, kondisi itu kini tidak lagi memungkinkan.
"Sebelumnya kita bisa mempekerjakan orang untuk bantu kita, baru tahun ini lah kami yang kerjakan sendiri karena biaya yang harus dikeluarkan untuk upah pekerja itu sudah tidak lagi cukup," jelas Usman.
Meski demikian, Usman tetap berharap ada perhatian terhadap kestabilan harga kopi dan pupuk agar kehidupan petani bisa lebih seimbang.
"Harapan kami selaku petani kopi kedepan harga kopi dengan pupuk ini distabilkan, jadi kalau kopi ini naik bisa seimbang dengan pupuk dan kebutuhan lain," harap Usman.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini