Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang
SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Pelaku UMKM di Aceh Tamiang banyak yang gulung tikar pascabanjir bandang akhir 2025.
Realita ini menambah banyak pengangguran dan otomatis bersinggungan langsung dengan meningkatnya angka kemiskinan.
“Kami sebelumnya punya lima pekerja, sejak banjir sudah tidak kerja lagi,” kata Fitriana, pemilik usaha fotokopi di depan kantor Bupati Aceh Tamiang, Minggu (24/5/2026).
Baca juga: Sedimentasi Hulu Sungai Tamiang Kian Parah, Anak-anak Bermain Bola di Tengah Sungai
Banjir bandang akhir tahun 2025 menyebabkan usaha fotokopinya hancur total.
Setidaknya empat unit mesin fotokopi senilai Rp120 juta rusak.
“Belum lagi komputer, laptop dan stok jualan, semuanya habis,” ungkapnya.
Harapan untuk bangkit sempat muncul ketika Menteri UMKM Maman Abdurrahman berjanji mengucurkan bantuan stimulan ketika berkunjung ke Aceh Tamiang di awal 2026.
Namun sudah lima berlalu, janji tersebut baru sebatas pendaftaran melalui aplikasinya.
Sejauh ini pedagang maupun pegiat UMKM tidak mendapat informasi apapun.
Baca juga: Gedung Sekolah belum Normal, Sebagian Murid di Aceh Tamiang Belajar Pakai Meja Lipat
“Jangankan bantuannya, informasinya saja kami gak dapat. Jadi memang gak tahu kayak mana kelanjutannya,” ujarnya.
Di sisi lain, dia harus tetap memenuhi kebutuhan keluarga dan tanggung jawab ekonomi kepada pihak lain.
Solusi jangka pendek yang dilakukan saat ini menyulap usaha fotokopi menjadi lapak jualan sarapan.
Begitupun usaha ini dilakukan secara “gotong royong” dengan keluarga.
“Kami gak punya modal, usaha sarapan ini kami buka dengan patungan, ini usaha keluarga,” kata Fitri. (mad)
Baca juga: PLN Sebut Gardu Induk Sudah Pulih Usai Blackout Sumatera, Kenapa Listrik di Aceh Belum Normal?