Baca juga: Teknisi Pemasang Kabel Internet Tersetrum Listrik di Betung, Alami Luka Bakar di Kaki
SRIPOKU.COM, MARTAPURA – Anjloknya harga singkong hingga di bawah Rp1.000 per kilogram mulai memaksa sebagian petani di Kabupaten OKU Timur untuk mencari alternatif usaha tani yang lebih menjanjikan.
Di Desa Kotabaru, Kecamatan Martapura, seorang petani bernama Saipul memilih mengambil risiko besar dengan meninggalkan tanaman singkong dan beralih menanam cabai rawit merah, atau yang akrab dikenal masyarakat sebagai cabai setan.
Keputusan tersebut bukan sekadar pergantian komoditas biasa, melainkan sebuah upaya untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi yang kian menjerat para petani.
Lahan seluas sekitar seperempat hektare yang sebelumnya ditanami ubi racun kini disulap menjadi kebun cabai rawit merah.
Deretan tanaman tampak tertata rapi menggunakan plastik mulsa.
Bagi Saipul, bertahan menanam singkong dalam kondisi harga saat ini bukan lagi pilihan yang rasional dan menguntungkan.
Biaya produksi dan tenaga yang dikeluarkan dinilai sudah tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh saat masa panen tiba.
“Kalau singkong sekarang harganya kurang dari Rp1.000 per kilogram. Kadang hasil panen tidak menutup biaya yang sudah dikeluarkan. Kita kerja berbulan-bulan, tetapi hasilnya sangat tipis,” ujar Saipul saat ditemui jurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com di lahannya, Minggu (24/5/2026).
Kondisi tersebut membuatnya mulai mempertimbangkan berbagai komoditas lain yang memiliki prospek pasar lebih cerah.
Setelah melakukan perhitungan matang dan melihat peluang permintaan pasar, ia akhirnya menjatuhkan pilihan pada cabai rawit merah.
Menurut Saipul, meskipun membutuhkan modal awal dan perawatan yang jauh lebih intensif dibanding singkong, cabai memiliki potensi keuntungan yang jauh lebih besar ketika harga pasar berada pada level yang stabil.
“Cabai memang memerlukan lebih banyak perawatan. Harus rutin dipupuk, dibersihkan rumputnya, dan dicek potensi penyakitnya. Namun, kalau hasil panennya bagus dan harga tetap stabil, tentu peluangnya lebih besar untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” katanya.
Saat ini, harga cabai rawit merah di tingkat pasar berada di kisaran Rp45 ribu per kilogram. Angka yang cukup tinggi tersebut menjadi salah satu alasan kuat yang membuatnya optimistis untuk menjajal komoditas baru ini.
Setiap hari, Saipul menghabiskan waktunya di kebun untuk menyiram tanaman, memberikan pupuk, hingga membersihkan gulma yang tumbuh di sekitar batang cabai.
Seluruh pekerjaan tersebut dilakoninya secara mandiri dengan harapan tanaman dapat tumbuh maksimal hingga masa panen tiba.
Di bawah terik matahari, ia tetap tekun merawat kebunnya. Bagi Saipul, bertani bukan sekadar mencari penghasilan, melainkan juga perjuangan menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga di tengah fluktuasi harga komoditas pertanian yang sulit diprediksi.
“Namanya petani harus berani mencoba. Kalau hanya bertahan dengan kondisi yang merugikan, tentu sulit berkembang. Harapan saya tanaman ini berhasil, hasilnya bagus, dan harganya tetap baik saat panen nanti,” ungkapnya.
Langkah Saipul mencerminkan fenomena yang mulai muncul di kalangan petani daerah, yakni keberanian untuk beradaptasi terhadap dinamika perubahan pasar.
Ketika harga singkong terus melemah dan keuntungan semakin menipis, sebagian petani mulai melirik komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Meski penuh risiko karena rentan terhadap faktor cuaca dan serangan hama, pilihan beralih ke cabai menjadi simbol optimisme baru bagi petani yang ingin keluar dari lingkaran tekanan harga komoditas lama.
Baca juga: Video Pria Asal OKU Berbuat Asusila ke Pacar di Sawah Tersebar, Orangtua Korban Tak Terima