Laporan Yolanda Putri Dewanti
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Aroma kaldu sapi yang gurih langsung menyapa siapa saja yang melangkah masuk ke kawasan Food Street Kramat, Senen, Jakarta Pusat.
Di tengah hiruk-pikuk warga ibu kota yang berburu kuliner akhir pekan pada Minggu (24/5/2026), ada satu kedai sederhana yang antreannya selalu mengular.
Itulah Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing, sebuah destinasi kuliner legendaris yang tak pernah sepi pengunjung, bahkan pembeli harus rela bertarung demi mendapatkan tempat duduk di jam makan siang.
Baca juga: Warung Arema Senen: Legenda Kuliner Malang Sejak 1981, Mendol dan Rawon Bikin Ketagihan
Kuah Unik dari Air Cucian Beras
Di dapur terbukanya, asap panas terus mengepul dari panci raksasa. Pramusaji dengan cekatan meracik mangkuk demi mangkuk berisi potongan daging sapi, paru, lidah, hati, jantung, limpa, hingga otak sapi, sebelum akhirnya diguyur kuah coto berwarna keruh kecokelatan.
Rahasia kelezatan Coto Makassar ini ternyata ada pada kuahnya. Perpaduan kaldu sapi, kacang tanah halus, dan air tajin (air cucian beras) menciptakan cita rasa gurih yang autentik dan sulit dicarikan tandingannya.
Menariknya, kuah ini sengaja diracik dengan rasa yang sedikit hambar. Pelanggan diajak meracik sendiri tingkat keasinan dan kepedasannya menggunakan perasan jeruk nipis, sambal tauco, daun bawang, bawang goreng, hingga kacang goreng yang tersedia di meja.
Kenikmatannya semakin paripurna saat disantap bersama buras—lontong khas Makassar berbahan beras dan santan yang dibungkus daun pisang.
Meski rasanya setara restoran bintang lima, harganya sangat ramah di kantong. Satu porsi Coto Makassar dengan isian bebas pilih hanya dibanderol Rp30.000.
Sebagai pencuci mulut, kedai ini juga menyediakan Es Pisang Ijo seharga Rp20.000. Potongan pisang berbalut adonan hijau kenyal yang disiram bubur sumsum, sirup pisang susu, dan susu kental manis menjadi penutup segar di tengah teriknya cuaca Jakarta.
Berawal dari Kalijodo ke Hati Tokoh Nasional
Di balik kesuksesan kedai yang kini buka 24 jam dan memiliki dua cabang di Senen ini, tersimpan sejarah panjang perjuangan keluarga.
Daeng Jaury (28), keponakan Syamsul sekaligus penerus usaha, mengungkapkan bahwa bisnis kuliner ini bermula dari kawasan Kalijodo di awal dekade 90-an.
“Pertama kali di Kalijodo, sekitar tahun 1990 atau 1992 lah. Dulu masih warung biasa, belum sebesar sekarang,” kenang Jaury di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Pada tahun 2002, usaha keluarga ini bermigrasi ke kawasan Senen dan sukses menjelma menjadi ikon kuliner Jakarta Pusat. Jaury menegaskan, meski zaman telah berubah, keaslian rasa tetap menjadi prioritas utama.
“Resepnya masih sama, enggak ada yang diubah. Ini sudah generasi ketiga,” ujarnya.
Dedikasi mempertahankan resep turun-temurun ini membuahkan hasil luar biasa. Saat akhir pekan, kedai ini bisa menghabiskan hingga 200 kilogram daging sapi sehari.
Bahkan, kenikmatan Coto Makassar Daeng Ngawing telah diakui oleh para petinggi negeri.
“Pernah juga diundang ke kediaman Pak Amran Sulaiman, Menteri Pertanian. Dulu Pak Jusuf Kalla (JK) juga pernah,” tambah Jaury dengan bangga.
Meski kini menjadi langganan para pejabat dan tokoh nasional, Coto Makassar Syamsul Daeng Ngawing tetap mempertahankan kesederhanaannya.
Deretan foto lawas yang terpajang di dinding kedai menjadi saksi bisu perjalanan panjang mereka dari warung kecil hingga melegenda di ibu kota.