TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Penangkapan 9 Warga Negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 untuk membawa misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, memicu kecaman keras dari berbagai pihak.
Salah satunya dari Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar, KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam.
Gus Salam menilai perlakuan zionis Israel terhadap relawan GSF sebagai tindakan yang sama sekali tidak manusiawi.
Baca juga: Bantah Ada Penculikan WNI oleh Israel, Sikap Menlu Sugiono Disorot Tajam Guru Besar UI
Ia menegaskan bahwa aspek kemanusiaan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap tindakan.
“Ketika sedang menjalankan salat wajib saja boleh dibatalkan, bahkan wajib dibatalkan, bila kondisi darurat untuk menyelamatkan manusia,” kata Gus Salam dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Ia juga menyatakan keraguannya bahwa Zionis Israel akan tunduk pada hukum internasional.
Karakter politik Israel selama ini terus menunjukkan kecenderungan merusak tatanan global dan mengabaikan nilai kemanusiaan demi kekuasaan.
“Susahnya mengubah watak yahudi, terlebih dengan politik zionis membentuk Israel Raya. Itu kalau tidak dihentikan, krisis kemanusian akan terus terjadi di Asia Barat atau Timur Tengah,” ungkapnya.
“Di jaman Mesir kuno, keturunan Yahuda, disebut Yahudi, rata-rata berotak cerdas. Tetapi sebagian besar berwatak buruk, kikir, sombong, keduniaan, berkeinginan menguasai bangsa lain, ashabiyah (fanatis), kejam, dan sebagainya,” tambahnya.
Kawasan Timur Tengah yang kaya sumber daya kini hanya menjadi arena perebutan kekuasaan, di mana kepemimpinan tokoh seperti Benjamin Netanyahu dan Itamar Ben-Gvir menutup rapat ruang dialog yang setara.
“Kalau seperti itu, korban manusia dan krisis kemanusiaan di Gaza, Yerusalem, Tepi Barat, Lebanon, Suriah dan negara lain di Timur Tengah, tidak pernah berhenti,” ujar Gus Salam.
Oleh karena itu, Gus Salam mendesak agar tekanan internasional tidak boleh kendur. Jika jalur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus terhambat oleh hak veto negara-negara besar, maka jalur masyarakat sipil harus bergerak.
“Bila negara tidak bisa, maka kelompok atau organisasi masyarakat sipil di dunia bisa secara mandiri atau berjejaring melakukan seruan moral untuk menekan dan memberi sanksi terhadap zionis Israel,” tegas Gus Salam.
Bentuk tekanan nyata ini bisa dilakukan lewat berbagai cara, yang paling utama adalah memboikot produk maupun pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan kepentingan ekonomi dan politik Israel.
Gus Salam menekankan bahwa dunia tidak bisa lagi hanya berdiam diri atau berharap pada perundinga1n yang tak berujung.
“Terlalu naif mengandalkan dialog dengan zionis Israel. Sebaliknya, sikap dan tindakan nyata diperlukan untuk menghentikan kekejaman Israel,” pungkasnya.
Tragedi Penangkapan dan Penyiksaan Relawan
Mereka ditahan selama tiga hingga empat hari dan baru menghirup udara kebebasan pada Kamis (21/5/2026).
Selama masa penahanan, para pahlawan kemanusiaan ini mengalami perlakuan yang sangat tidak manusiawi. Hal ini dikonfirmasi langsung dalam video yang dibagikan Menlu RI Sugiono pada Jumat (22/5/2026).
“Ada yang ditendang, ada yang dipukul, atau disetrum,” kata Kepala Perwakilan Konsul Jenderal RI di Istanbul, Darianto Harsono.