Sekda Budiar Matangkan Lokasi Alun-alun Kepanjen di Belakang Stadion Kanjuruhan, Dekat Kandang Arema
Eko Darmoko May 24, 2026 08:45 PM

SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Rencana pembangunan Alun-alun Kepanjen, Kabupaten Malang, yang sempat tertunda sejak 2007 lalu, kini kian dimatangkan.

Bupati Malang, Muhammad Sanusi, terus merangkul anggota DPRD Kabupaten Malang, untuk mempercepat terwujudnya pembangunan alun-alun seluas 3 hektare (Ha), yang diperkirakan akan menelan anggaran sekitar Rp 300 miliar.

Dari kalangan anggota dewan, Fraksi PDI Perjuangan, yang langsung mendukungnya, karena fraksi lainnya mesti setuju namun masih diam.

"Fraksi PDIP mendukung penuh. Termasuk ide Pak Bupati yang menggeser lokasinya, dari rencana awal di belakang Pendopo Pemkab Malang, di Kepanjen, dipindah ke belakang Stadion Kanjuruhan," tutur Abdul Qodir atau Adeng, Ketua Fraksi PDI Perjuangan kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (24/6/2026).

Calon tempatnya sudah disurvei ramai-ramai, Kamis (7/5/2026) lalu. Yakni, Bupati Sanusi mengajak sejumlah anggota dewan dari berbagai fraksi, Sekda Kabupaten Malang, Budiar dan para kepala dinas.

Mereka meninjau calon tempatnya, yang ada di belakang stadion.

Itu dipindahkan ke selatan stadion karena lahannya sudah siap, yakni dari luas yang dibutuhkan 3 hektare (Ha), tinggal beli 1,5 Ha, karena Pemkab Malang sudah punya 1,5 Ha.

Baca juga: Pemkab Malang Bakal Gelar Sayembara Desain Alun-alun Kepanjen, Lokasi Dekat Stadion Kanjuruhan

"Itu bisa mengirit pembiayaan di tengah perintah pusat untuk efesiensi anggaran," ungkap Adeng, yang juga Sekretaris DPC PDIP itu.

Sebab informasinya, jika pembangunan Alun-alun tetap di belakang pendopo, sepertinya terkendala lahannya.

Sebab, lahannya itu milik pengusaha rokok ternama, yang tak mungkin dijual.

Bahkan, kalau pun dijual, itu pasti selain prosesnya, berbelit, harganya pun selangit.

Makanya, begitu Bupati Sanusi mewacanakan pembangunan di belakang stadion, Fraksi PDIP langsung mengamini.

Memang, idealnya Alun-alun itu berada di depan atau di komplek pendopo, jika ada lahannya.

"Tapi jika tak punya lahan, ya bisa seperti itu (wacana Bupati itu)."

"Sebab, tak ada aturan yang mengharuskan Alun-alun berada di depan pendopo atau jadi satu dengan komplek pendopo."

"Itu konsep warisan tata kota kolonial, yang memang dirancang agar rakyat itu patuh atau berkumpul dengan menghadap ke pusat kekuasaan (penjajah)," tutur mantan aktivis yang dikenal dulu 'tukang' demo itu.

Menurutnya, justru jika Alun-alun Kepanjen menyatu dengan stadion, itu dinilai visioner karena bukan cuma akan jadi pusat buat menggerakkan UMKM.

Namun, itu akan jadi ruang terbuka hijau yang bisa jadi pusat smart center.

Selain itu, jika Arema FC bertanding, itu juga bisa mengurai kemacetan, dan penumpukan massa atau suporter.

"Ibaratnya, jika stadion itu jantung sportivitas, maka Alun-alun itu jadi paru-paru intelektualnya."

"Makanya, kita harus berani keluar dari konsep dan simbol-simbol warisan penjajah," ungkapnya.

Sementara, Sekda Kabupaten Malang, Budiar, akan segera menyiapkan tim, yang akan bertugas untuk penetapan lokasi (Penlok).

"Minggu depan, tim Penlok itu akan terbentuk," ungkap Budiar.

Seperti diketahui, rencana pembangunan Alun-alun itu terus tertunda, meski sudah diwacanakan sejak perkantoran Pemkab Malang pindah ke Kepanjen dulu.

Jika itu akan dibangun 2027 nanti, berarti akan jadi legacy Bupati Sanusi, yang akan diceritakan sepanjang masa karena dua bupati sebelumnya tak terwujud.

Baca juga: Lokasi Alun-Alun Kepanjen Dipindah dekat Stadion Kanjuruhan Malang, Realisasi Pembangunan Tahun 2027

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.