TRIBUNBANYUMAS.COM, SOLO – Gelombang kekecewaan mendalam melanda Kota Surakarta setelah klub kebanggaan mereka, Persis Solo, dipastikan degradasi ke Liga 2 musim depan.
Meskipun sukses memetik kemenangan tipis atas Persita Tangerang pada laga pamungkas, raihan poin Laskar Sambernyawa tetap tidak mampu mengejar Madura United yang berhasil lolos dari zona merah.
Ironisnya kemenangan di laga terakhir tersebut tidak mengubah kenyataan pahit. Tim yang akrab disapa Laskar Sambernyawa ini harus menyudahi kompetisi di peringkat ke-16 klasemen akhir dengan torehan 34 poin, yang sekaligus melempar mereka keluar dari kasta tertinggi sepak bola tanah air.
Aksi Penyegelan Persis Store dan Vandalisme Mess Pemain
Turun takhtanya klub legendaris ini langsung memicu reaksi keras dari para pendukung fanatiknya. Pada Sabtu (23/5/2026) malam sekitar pukul 22.00 WIB, massa suporter meluapkan amarah dengan melakukan aksi corat-coret bermuatan kritik tajam di beberapa fasilitas penting milik klub.
Pantauan di lokasi pada Minggu (24/5/2026) menunjukkan bahwa pintu utama Persis Store telah disegel total oleh suporter, sehingga para karyawan terpaksa masuk melalui pintu belakang.
Bagian depan toko dipenuhi coretan cat semprot yang menuntut pembenahan total dari manajemen. "Liga 2 wis pasti. Sing rung pasti kapan berbenahe (Liga 2 sudah pasti. Yang belum pasti kapan berbenahnya)," tulis salah satu sudut dinding.
Tidak hanya toko resmi, Mangesthi Boutique Hotel yang selama ini difungsikan sebagai mess pemain juga menjadi sasaran vandalisme kekecewaan massa. Coretan makian seperti "Reset manajemen bodoh" tampak jelas menghiasi dinding bangunan.
Sebelumnya pada Sabtu sore, ribuan suporter juga sempat memadati area parkir selatan Stadion Manahan Solo untuk menyanyikan yel-yel sindiran keras menggunakan flare dan kembang api, sebelum akhirnya membubarkan diri secara tertib tanpa kericuhan.
Baca juga: Menang di Laga Pamungkas, Persis Tetap Degradasi Usai Madura United Tumbangkan PSM
Respon Manajemen: Memaklumi Amarah dan Siap Melapor ke Pemilik
Menanggapi situasi yang memanas, Direktur PT Persis Solo Saestu, Ginda Ferachtriawan, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh elemen pendukung. Pihaknya mengaku sangat memaklumi tindakan destruktif yang dilakukan oleh suporter sebagai bentuk puncak frustrasi.
"Kita meminta maaf dan menyesal tidak bisa sesuai ekspektasi harapan dari teman-teman, khususnya suporter. Ketika bentuk-bentuk kekecewaan itu dituangkan dalam aksi-aksi itu, kita masih bisa memaklumi lah," kata Ginda saat dihubungi pada Minggu (24/5/2026).
Ginda menegaskan akan segera menghadap jajaran pemilik (owner) klub untuk mengevaluasi rapor merah musim ini sekaligus menentukan arah kebijakan masa depan tim.
"Saya segera melapor ke owner kenapa semua ini bisa terjadi. Apa yang diinginkan untuk langkah selanjutnya, kami siap menjalankan apa pun keputusannya. Jelas, tekad untuk kembali ke Liga 1 itu masih ada karena ini bukan sekadar klub, melainkan identitas kota," tambah Ginda seraya berjanji akan membuka ruang dialog dengan suporter dalam waktu dekat.
Sikap Kelompok Suporter: Isu Penyelamatan Hanya Angin Lalu
Sebelum laga krusial kontra Persita dimainkan, sejatinya sempat berembus isu mengenai adanya skenario atau misi penyelamatan agar Persis Solo tetap bertahan di kasta tertinggi. Namun, kabar burung tersebut ditanggapi dingin oleh sejumlah kelompok suporter.
Baca juga: Berkedok Konsultan Trading, Ruko di Solo Baru Ternyata Jadi Pusat Penipuan Kripto Jaringan Global
Anggota Ultras Curvas Sud, Beto, menilai desas-desus tersebut sebagai dinamika yang lumrah menerpa tim papan bawah di akhir musim. Ketimbang larut dalam isu, ia memilih fokus memberikan dukungan moril langsung pada internal tim. "Semua tim di papan bawah punya misi menyelamatkan timnya masing-masing, jadi misi penyelamatan Persis juga hal wajar," cetusnya.
Senada dengan hal tersebut, Presiden DPP Pasoepati, Arif Djodi Purnomo, menegaskan bahwa ormasnya hanya menganggap isu penyelamatan tersebut sebagai angin lalu belaka. Bagi Pasoepati, loyalitas terhadap lambang di dada jauh melampaui ego tingkatan kasta kompetisi.
"Bagi kami kasta hanya sebuah nama, tapi sejatinya lambang Persis adalah bahasa hati yang tidak bisa dibohongi. Kami akan tetap mendukung tim ini ke depan di manapun berkompetisi, sesuai slogan Tutup Mata Tutup Telinga Persis Solo Selamanya," pungkas Djodi. (amd/dre)