Perang Iran Gerus Stok Rudal Amerika, Jepang Kena Dampak untuk Hadapi Kekuatan China
Hasiolan Eko P Gultom May 24, 2026 09:38 PM

Perang Iran Gerus Stok Rudal Amerika, Jepang Kena Dampak untuk Hadapi Kekuatan China

TRIBUNNEWS.COM - Amerika Serikat (AS) dilaporkan mulai mengalami penipisan stok rudal akibat penggunaan besar-besaran dalam konflik melawan Iran.

Situasi tersebut membuat Washington memperingatkan Jepang bahwa pengiriman 400 rudal Tomahawk yang telah dipesan Tokyo kemungkinan akan mengalami keterlambatan.

Laporan Financial Times menyebut, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth telah menyampaikan hal itu kepada Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi dalam percakapan bulan lalu.

Baca juga: AS Kirim Sinyal Keras ke China di Indo-Pasifik: Luncurkan Tomahawk dari Sistem Typhon di Filipina

Penundaan tersebut menjadi pukulan bagi Jepang yang memesan rudal itu pada 2024 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan militernya menghadapi meningkatnya pengaruh dan kekuatan militer China di kawasan Indo-Pasifik.

Kesepakatan pembelian rudal senilai US$2,35 miliar itu sebelumnya tercapai setelah Amerika Serikat mendorong Jepang meningkatkan anggaran pertahanannya.

Rudal Tomahawk memiliki jangkauan sekitar 1.600 kilometer dan dianggap penting bagi Jepang untuk membangun kemampuan “counterstrike” atau serangan balasan jarak jauh.

Dengan kemampuan itu, Jepang secara teori dapat menyerang target militer di wilayah pesisir China jika terjadi konflik.

Namun kini Pentagon disebut lebih memprioritaskan kebutuhan militer di Timur Tengah setelah stok senjata mereka banyak terkuras dalam operasi militer terhadap Iran yang disebut sebagai “Operation Epic Fury”.

Menurut laporan tersebut, AS juga telah memberi peringatan kepada sejumlah sekutu Eropa seperti Inggris dan Polandia bahwa pengiriman beberapa sistem senjata kemungkinan ikut mengalami keterlambatan.

AS Prioritaskan Timur Tengah Ketimbang Indo-Pasifik

Analis keamanan Asia dari American Enterprise Institute, Zack Cooper, mengatakan keputusan Pentagon menunjukkan bahwa Timur Tengah kini menjadi prioritas utama Washington meski sebelumnya pejabat AS berkali-kali menegaskan fokus strategis mereka akan diarahkan ke Asia.

Ia juga memperingatkan bahwa dampak perang Iran terhadap produksi dan persediaan amunisi AS kemungkinan akan dirasakan sekutu-sekutu Amerika di Asia dalam waktu lama, bahkan setelah konflik berakhir.

Awalnya, rudal Tomahawk itu dijadwalkan mulai dikirim ke Jepang pada 2028. Namun menurut sumber yang dikutip Financial Times, pengiriman kini berpotensi mundur hingga dua tahun.

Kasus ini menunjukkan bahwa bahkan negara sebesar Amerika Serikat pun memiliki batas kemampuan produksi senjata.

Perang melawan Iran ternyata menghabiskan banyak stok rudal AS.

Akibatnya, Washington harus memilih prioritas: apakah senjata digunakan untuk konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah atau dikirim ke sekutu di Asia seperti Jepang.

Bagi Jepang, penundaan ini cukup serius karena Tokyo sedang berusaha memperkuat pertahanan menghadapi China.

Rudal Tomahawk dianggap penting agar Jepang memiliki kemampuan menyerang balik jika sewaktu-waktu terjadi konflik regional.

Sementara bagi kawasan Indo-Pasifik, keterlambatan ini memunculkan pertanyaan besar, apakah AS benar-benar siap menghadapi tekanan China di Asia,
atau justru terlalu sibuk dengan konflik di Timur Tengah.

Dengan kata lain, perang Iran tidak hanya berdampak pada Timur Tengah, tetapi juga memengaruhi keseimbangan militer di Asia.

Gambar dirilis US Navy Visual News Service pada 19 Maret 2011 dan diambil pada 16 Januari 2003 menunjukkan kapal selam rudal balistik USS Florida Ohio meluncurkan rudal jelajah Tomahawk selama Giant Shadow di perairan lepas pantai Bahama. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan pada 16 September 2021 bahwa negara itu akan memperoleh rudal jelajah jarak jauh Tomahawk AS, karena memperkuat pertahanan militer dalam menghadapi kebangkitan China.
Gambar dirilis US Navy Visual News Service pada 19 Maret 2011 dan diambil pada 16 Januari 2003 menunjukkan kapal selam rudal balistik USS Florida Ohio meluncurkan rudal jelajah Tomahawk selama Giant Shadow di perairan lepas pantai Bahama. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan pada 16 September 2021 bahwa negara itu akan memperoleh rudal jelajah jarak jauh Tomahawk AS, karena memperkuat pertahanan militer dalam menghadapi kebangkitan China. (Selebaran / Angkatan Laut AS / AFP)

Fokus AS Terpecah antara China dan Iran

Sejak beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat berupaya mengalihkan fokus strategi militernya ke kawasan Indo-Pasifik untuk menghadapi kebangkitan China.

Dalam strategi tersebut, Jepang menjadi sekutu terpenting Washington di Asia Timur karena posisinya dekat dengan Taiwan, Laut China Timur, dan jalur strategis Pasifik.

Karena itu, AS mendorong Jepang meningkatkan kemampuan militernya, termasuk membeli rudal Tomahawk jarak jauh yang mampu menjangkau target hingga 1.600 kilometer.

Di sisi lain, konflik besar antara AS dan Iran di Timur Tengah justru menguras stok persenjataan Amerika dalam jumlah besar.

Operasi militer yang intens membutuhkan produksi rudal dan amunisi dalam skala tinggi, sementara industri pertahanan AS membutuhkan waktu lama untuk mengisi kembali persediaan tersebut.

Akibatnya, Pentagon mulai menunda pengiriman senjata ke sejumlah sekutu, termasuk Jepang dan beberapa negara Eropa.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran di Asia bahwa perhatian dan sumber daya militer AS kembali tersedot ke Timur Tengah, padahal Washington sebelumnya berulang kali menyatakan bahwa ancaman utama jangka panjang berasal dari China.

Penundaan pengiriman rudal ke Jepang juga dinilai dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik karena Tokyo sedang membangun kemampuan serangan balasan untuk meningkatkan daya gentar terhadap Beijing.

 

 

(oln/wn/ft/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.