Lestarikan Budaya, Pemkot Surabaya Gelar Ruwatan Kota dan Wayang Kulit pada Momen Hari Jadi Kota
Putra Dewangga Candra Seta May 24, 2026 10:04 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menggelar Ruwatan Kota dan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 di halaman Tugu Pahlawan, Sabtu malam (23/5/2026).

Sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi dan budaya, kegiatan ini diikuti ratusan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi simbol rasa syukur. Pemkot Surabaya juga ingin menjaga warisan budaya Jawa di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Kegiatan ruwatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas keberkahan dan keselamatan yang diberikan bagi Kota Surabaya serta seluruh warganya," kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Fauzie Mustaqiem Yos, saat dikonfirmasi di Surabaya, Minggu (24/5/2026).

Kirab Budaya dan Wayang Kulit Lakon Dewa Ruci

Rangkaian acara diawali dengan kirab budaya dan prosesi ruwatan, kemudian dilanjutkan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Dewa Ruci”.

Menariknya, pertunjukan tersebut juga menghadirkan dalang anak sebagai bagian dari regenerasi seni tradisi.

Menurut Yos, kegiatan ini menjadi bagian dari identitas Kota Surabaya.

“Ini menjadi salah satu upaya aktif dan kreatif untuk menjaga kelestarian budaya, adat istiadat, dan tradisi lokal,” ujar Yos, sapaan akrabnya.

Dalam tradisi Jawa, ruwatan dikenal sebagai ritual budaya yang bertujuan membuang sengkala atau keburukan agar terhindar dari bencana dan mara bahaya.

Melalui ruwatan, masyarakat diharapkan memperoleh keselamatan, kesejahteraan, ketenteraman, serta kehidupan kota yang harmonis.

Tugu Pahlawan Jadi Pusat Kegiatan Ruwatan Kota

Pemkot Surabaya memilih Tugu Pahlawan sebagai pusat kegiatan karena dinilai menjadi simbol penting sekaligus titik sentral Kota Pahlawan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kegiatan sedekah bumi maupun ruwatan lebih banyak dilaksanakan di tingkat kampung, RW, dan kelurahan.

“Karena itu, tahun ini dipusatkan di Tugu Pahlawan agar masyarakat bisa menikmati bersama dan merasakan semangat kebudayaan secara lebih luas,” katanya.

Tak hanya menghadirkan ritual budaya, acara tersebut juga menjadi ruang kolaborasi lintas komunitas seni dan budaya.

Sekitar 400 peserta terlibat dalam kirab budaya dengan mengenakan busana adat Nusantara sambil membawa gunungan dan sesaji ruwat bumi Surabaya.

Peserta kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai dari Pemkot Surabaya, Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), komunitas budaya, sanggar tari, budayawan, seniman, hingga masyarakat umum.

Pemkot Surabaya Ajak Generasi Muda Kenal Budaya Lokal

Pemkot Surabaya juga mengundang para pelaku dan pemerhati budaya dari berbagai daerah, seperti Gresik dan Sidoarjo.

“Selain kirab budaya, acara juga diisi pembacaan kidung suci, ujub sesaji, mantra Rajah Kalacakra, hingga prosesi pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan warga,” jelasnya.

Generasi muda juga diajak untuk mengenal budaya lokal secara langsung, bukan hanya melalui media digital.

“Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan dunia digital. Karena itu kami ingin mengenalkan bagaimana tradisi dijalankan secara langsung dan tradisional,” terangnya.

Seluruh rangkaian kegiatan terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Pemkot Surabaya berharap ruwatan kota dapat menjadi ruang edukasi budaya sekaligus memperkuat identitas Surabaya sebagai kota metropolitan yang tetap menjaga akar tradisinya.

“Surabaya bukan hanya kota metropolitan, tetapi juga kota yang memiliki dan menjaga kelestarian budayanya,” kata Yos.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.