Dua Dekade Seminar Nasional Dokter, Prodia Kenalkan Era Baru Pemeriksaan Kesehatan Usus
Rendy Nicko Ramandha May 24, 2026 10:54 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, SURABAYA - Prodia menghadirkan Seminar Nasional Dokter ke-20 yang menyoroti era baru perkembangan terkini dalam pemeriksaan kesehatan saluran cerna berbasis data dan teknologi diagnostik modern.

Bertajuk “Integrating Innovative Gut Health Testing Into Daily Practice”, agenda ini melibatkan sebanyak 116 dokter membahas tentang gangguan saluran pencernaan yang masih menjadi salah satu keluhan kesehatan.

Antonius Erbano, Area Head Central and East Java Batara Prodia menyebut seminar nasional Dokter Prodia sendiri sudah diselenggarakan secara konsisten selama dua dekade yang sebagai bagian dari komitmen dalam mendukung edukasi berkelanjutan bagi tenaga medis di Indonesia.

Forum ilmiah ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang yang mengulas bagaimana kesehatan usus dan perkembangan pemeriksaan kesehatan saluran cerna yang semakin inovatif dan berbasis data.

“Kami ingin selalu berpartisipasi aktif ikut meng-update ilmu dari tenaga medis Indonesia dan bekerja sama dengan para klinisi yang ahli di bidangnya. Kami berharap wawasan yang dibagikan dalam seminar ini dapat membantu dokter memperoleh perspektif baru dalam memahami kondisi pasien secara lebih menyeluruh, sehingga keputusan klinis yang diambil dapat menjadi lebih tepat, personal, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien,” ujar Antonius Erbano, Area Head Central and East Java Batara Prodia di Hotel Excotel Surabaya, Minggu (24/5/2026).

Sejalan dengan transformasi layanan kesehatan yang semakin digital, Prodia juga terus memperkuat dukungannya bagi komunitas medis melalui aplikasi Prodia for Doctor.

Platform ini dirancang untuk memberikan kemudahan akses layanan, informasi pemeriksaan, informasi event untuk para dokter, program loyalitas dengan konektivitas yang lebih cepat dan praktis bagi para dokter dalam mendukung praktik klinis sehari-hari.

“Kami melihat transformasi layanan kesehatan saat ini tidak hanya berkembang melalui inovasi pemeriksaan diagnostik, tetapi juga melalui dukungan ekosistem digital yang mampu memperkuat konektivitas antara laboratorium dan tenaga medis,” sebut Anton.

Melalui Prodia for Doctor, pihaknya ingin menghadirkan kemudahan akses layanan dan informasi pemeriksaan yang lebih praktis, cepat, serta mendukung kebutuhan dokter dalam pengambilan keputusan klinis sehari-hari.

Seminar Nasional Dokter ke-20 yang digelar oleh Prodia di Excotel Hotel Surabaya, Minggu (24/5/226)
KESEHATAN USUS - Seminar Nasional Dokter ke-20 yang digelar oleh Prodia di Excotel Hotel Surabaya, Minggu (24/5/2026). Bertajuk “Integrating Innovative Gut Health Testing Into Daily Practice”, agenda ini melibatkan sebanyak 116 dokter membahas tentang gangguan saluran pencernaan yang masih menjadi salah satu keluhan kesehatan.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang keilmuan, yaitu Prof. dr. Muhammad Miftahussurur, M.Kes., Sp.PD-KGEH., PhD., FINASIM yang membahas Interpreting Gut Dysbiosis in Intestinal Inflammation.

Selanjutnya dr. Dewa Ayu Liona Dewi, M.Kes., Sp.GK yang mengangkat topik Nutritional and Metabolic Perspective in Gut and Intestinal Inflammation serta Amadea Risanggita Kinanthi, S.Si., M.Farm.Klin yang membahas Fecal Biomarkers for Gut Health.

Ketiganya mengulas terkait kesehatan usus yang kini menjadi perhatian penting dalam dunia medis karena berkaitan erat dengan sistem imun, metabolisme tubuh, hingga respons inflamasi.

“Prodia menjadi partner utama kami. Prodia ini selalu menghadirkan pemeriksaan-pemeriksaan yang tidak hanya berstandar nasional. Pemeriksaan yang biasanya dilakukan di luar negeri pun kini bisa dilaksanakan melalui Prodia,” ungkap Prof. dr. Muhammad Miftahussurur.

Berbagai pemeriksaan laboratorium kini hadir untuk membantu menjawab tantangan diagnosis gangguan saluran cerna yang kompleks.

Salah satunya melalui analisis Short Chain Fatty Acid (SCFA) yang dapat memberikan gambaran mengenai keseimbangan mikrobiota usus dan kondisi inflamasi saluran cerna.

Pendekatan ini membantu dokter memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai kondisi pasien sehingga terapi yang diberikan dapat lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.

Tidak hanya itu, keseimbangan bakteri baik di dalam usus juga kini menjadi perhatian penting dalam dunia kesehatan.

Melalui pendekatan analisis microbiome, dokter dapat memperoleh gambaran kondisi saluran cerna yang lebih menyeluruh. 

Ketidakseimbangan mikrobiota diketahui berkaitan dengan berbagai kondisi kesehatan seperti gangguan metabolisme, daya tahan tubuh, kesehatan mental, hingga gangguan pencernaan.

“Gangguan saluran cerna sering kali menimbulkan gejala yang mirip satu sama lain, namun penyebab dasarnya dapat sangat beragam sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pada setiap pasien. Karena itu, pemeriksaan penunjang yang tepat menjadi penting untuk membantu dokter memahami kondisi pasien secara lebih komprehensif, sehingga terapi yang diberikan dapat lebih terarah, personal, dan meminimalkan pendekatan trial and error dalam proses pengobatan,” ungkap dr. Dewa Ayu Liona Dewi, M.Kes., Sp.GK.

Pendekatan ini juga diperkuat dengan edukasi mengenai pola makan dan gaya hidup sehat yang berperan penting dalam menjaga kesehatan pencernaan.

Dengan dukungan sesi diskusi ilmiah dan pembahasan kasus klinis, diharapkan wawasan yang diperoleh peserta dapat langsung diterapkan dalam praktik sehari-hari.

Sementara itu, Amadea Risanggita Kinanthi, S.Si., M.Farm. Klin mengatakan gangguan kesehatan saluran cerna masih menjadi fenomena umum di masyarakat.

Keluhan seperti sakit perut hingga diare kerap dialami banyak orang, namun penyebabnya bisa berbeda-beda pada setiap pasien.

“Kalau kita hanya melihat dari gejalanya saja, kita belum bisa mendapatkan informasi yang pasti sebenarnya apa yang menyebabkan seseorang mengalami gejala tersebut,” ujar Amadea.

Karena itu, menurutnya, diperlukan pemeriksaan diagnostik yang lebih presisi untuk mengetahui penyebab utama gangguan pencernaan sehingga pasien dapat memperoleh terapi yang tepat.

Ia menjelaskan, tema tersebut diangkat dalam seminar untuk berbagi wawasan kepada tenaga medis terkait berbagai tools diagnostik yang dapat membantu menentukan penyebab penyakit secara lebih akurat.

“Sekarang kita sudah masuk era precision medicine, jadi tidak sembarangan memberikan obat. Penanganan harus disesuaikan dengan penyebab dan kondisi pasien,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Prodia juga memperkenalkan sejumlah pemeriksaan terbaru yang mulai rutin dikerjakan sejak tahun lalu. Amadea menyebut, setidaknya setiap tahun Prodia mengembangkan lebih dari 10 pemeriksaan baru.

Kali ini, pihaknya mengenalkan Fecal Lactoferrin, Gut Microbiome Analysis, dan Tumor M2 Pyruvate Kinase (M2PK). Selain itu, Prodia juga memaparkan analisis Short Chain Fatty Acid (SCFA) sebagai salah satu tools untuk menganalisis gut microbiota yang kini menjadi tren dalam dunia penelitian kesehatan.

“Kami tidak hanya memperkenalkan pemeriksaan baru, tetapi juga menjelaskan bagaimana cara mengaplikasikan pemeriksaan tersebut dalam praktik klinis. Itu yang penting bagi dokter,” jelasnya.

Amadea berharap ke depan berbagai metode pemeriksaan modern tersebut dapat semakin dimanfaatkan oleh tenaga kesehatan dalam menangani pasien.

Dengan dukungan teknologi pemeriksaan yang lebih detail, proses diagnosis diharapkan menjadi lebih akurat sehingga membantu dokter menentukan penanganan yang tepat bagi pasien.

“Tujuannya tentu untuk membantu para klinisi agar bisa melakukan diagnosis yang lebih baik kepada pasien. Kami juga berharap masyarakat bisa lebih aware kapan harus memeriksakan diri supaya mendapatkan diagnosis yang pasti dan penanganan yang tepat,” pungkasnya. (*)

(Nurika Anisa/ Tribun Jatim Network)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.