Pelaku UMKM di Aceh Tamiang Resah dan Dihantui Penyitaan Aset, Dampak Bantuan Stimulan Macet
Saifullah May 24, 2026 11:03 PM

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Aceh Tamiang dilanda keresahan lantaran dihantui penyitaan aset oleh perbankan.

Ketakutan ini disebabkan kredit macet akibat ambruknya unit usaha pascabanjir bandang akhir November 2025 lalu.

Fitriana, pemilik toko fotokopi di Karangbaru, Aceh Tamiang mengungkapkan, usahanya lumpuh total karena kerusakan asetnya belum belum teratasi. 

Kerusakan ini menyebabkan roda bisnisnya tidak berputar.

“Kekhawatiran kami itu bagaimana tentang KUR (kredit usaha rakyat). Relaksasi sudah habis, kami bingung karena utang bank terus berjalan,” kata Fitriana, Minggu (24/5/2026).

Diakuinya, selama ini dia terus dihantui aset yang menjadi agunan kredit akan disita pihak perbankan. 

Ketakutan ini juga dirasakan para pegiat UMKM yang bernasib serupa dengan dirinya.

Baca juga: Apindo Dorong Pelaku UMKM Naik Kelas

“Kami semua terus-terusan merasa takut, maunya jangan sampai pihak bank menyita, maunya adalah keringanan,”  harapnya.

Seperti diketahui, banjir bandang akhir tahun 2025 lalu, menyebabkan usaha fotokopi milik Fitriana hancur total. 

Setidaknya empat unit mesin fotokopi senilai Rp120 juta, rusak berat. 

“Belum lagi komputer, laptop, dan stok jualan, semuanya habis,” ungkapnya.

Harapan untuk bangkit sempat muncul ketika Menteri UMKM, Maman Abdurrahman berjanji mengucurkan bantuan stimulan ketika berkunjung ke Aceh Tamiang di awal 2026.

Namun sudah lima berlalu, janji tersebut baru sebatas pendaftaran melalui aplikasinya. 

Baca juga: HIPMI Aceh Harap Pemerintah Pusat Berikan Relaksasi Kredit Pasca Bencana

Sejauh ini, pedagang maupun pegiat UMKM tidak mendapat informasi apapun.

“Jangankan bantuannya, informasinya saja kami gak dapat. Jadi memang gak tahu kayak mana kelanjutannya,” keluh Fitriana.

Di sisi lain, dia harus tetap memenuhi kebutuhan keluarga dan tanggung jawab ekonomi kepada pihak lain. 

Solusi jangka pendek yang dilakukan saat ini menyulap usaha fotokopi menjadi lapak jualan sarapan. 

Begitupun usaha ini dilakukan secara “gotong royong” dengan keluarga.

“Kami gak punya modal, usaha sarapan ini kami buka dengan patungan, ini usaha keluarga,” beber Fitri.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.