Merah Marun Noktah Biru, si Cantik Ikan Mungil dari Pulau Bangka
suhendri May 24, 2026 11:03 PM

Oleh: Dr. Sulvi Puwayantie - KSDA, Universitas Muhammadiyah

MASYAALLAH... Tanggokers, Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung yang didirikan oleh seorang pegawai swasta, Bapak Swarlanda, sebagai satu-satunya pihak yang melakukan konservasi ikan tawar di Babel, yang berwawasan maju ke depan, yang ingin melindungi lingkungan, yang peduli masa depan perikanan tawar Babel, memberikan pengetahuan baru yang brillian.

Kami berkunjung ke Tanggokers bersama mahasiswa tahun I (2025) semester II Prodi KSDA, Universitas Muhammadiyah Babel, Jumat (8/5/2026) siang. Tujuan kunjungan ini adalah dalam rangka pengenalan mahasiswa terhadap adanya konservasi eksitu di Pangkalpinang (bagian dari MK Konservasi Sumber Daya Alam Lingkungan).

 Ada 7 ikan endemik dari Babel, di antaranya terdapat si merah marun, cantik dan mungil bak sang penari menarikan Tari Men Sahang Lah Mirah, dengan mata birunya. Dengan fisik antik seperti itu maka ikan cupang ini sangat ekonomis diperdagangkan sebagai ikan hias.

Si mungil merah marun ini berasal dan hanya ada di Kabupaten Bangka Selatan (Desa Bikang). Hal ini telah dibuktikan dengan adanya Sertifikat Kekayaan Intelektual Komunal Sumber Daya Genetik dari Kementerian Hukum dan HAM. Ada juga pihak yang menyatakan si gemulai merah mata biru ditemukan juga di Kabupaten Bangka (perairan Dusun Tuing, Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip), akan tetapi belum dapat disebarluaskan secara hukum karena belum dicatatkan di Kemenhunkam RI. Nama latin dari si gemulai adalah Betta burdigala (tempalak mirah).

Sang ikan cupang merah ini sangat indah gemulai di pentas dunia. Sayang seribu sayang, sang penari jumlahnya makin sedikit dan sejak 1994 oleh Kottelat & Ng telah menyebutkan ikan cupang ini sudah rawan/rentan (vulnerable). Baru pada tahun 1996, ikan ini digolongkan rentan dalam IUCN Red List. Selama 30 tahun lebih sang penari makin menyusut menjadi status Critically Endangered (terancam punah), miris. Termasuk bisnis ikan akuarium, jenis ini juga sudah mulai tak nampak lagi diperdagangkan (Low, 2019). Data terakhir dari South dkk. (2025) harga sepasang ikan Betta burdigala seharga 15 dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp225.000.

Sebenarnya yang dikonservasikan bukan hanya ikannya saja, tetapi konservasi lahan tempat tinggal si mungil gemulai juga sangat menentukan keberhasilan. Tapi ini tak mudah, membutuhkan keilmuan khusus terkait perikanan, seperti profil ekosistem habitat gambut-aliran air hitam (black water streams), morfometrik dan mersitik, DNA (meristik-genomik), pengaruh musim hujan-kering, dan lain-lain. 

Ikan tempalak mirah
Ikan tempalak mirah (www.tanggokers.org)

Sementara itu, tanpa ada bantuan dari pemerintah setempat (DLH, Perikanan), kantor, laboratorium dan SDM yang mumpuni, alhamdulillah Yayasan Tanggokers masih bisa bekerja semaksimal mungkin sampai saat ini. 

Dengan demikian, bila warga ingin ikan cupang endemik menjadi bagian dari pendapatan ekonomis, maka warga diharapkan ikut membantu dan mendukung konservasinya mulai dari tidak menangkap liar, akan tetapi melakukan usaha pengembangan semaksimal mungkin agar ikan makin bertambah banyak. Bila ikan sudah berlebih di alam (invasif), maka fungsi konservasi dapat ditujukan untuk pemanfaatan baru dapat dilakukan, misal dijual sebagai ikan hias atau ekspor ikan tempalak merah sangat potensial dilakukan.

Mulai hari ini diharapkan warga Babel, seluruh stakeholder (pemerintah, pengusaha, perguruan tinggi), pelajar, mahasiswa yang mempunyai hobi ikan cupang agar berusaha dan berikhtiar untuk melakukan restock, riset budi daya ikan cupang ini masih perlu dilakukan maksimal.

Yang menarik kalau di USA ikan cupang tempalak merah dapat hidup dengan cara sederhana, mengapa stakeholder Babel tidak mampu? Warga dapat membaca website https://www.ingloriousbettas.com/betta-burdigala.html. Sepasang ikan tempalak merah ditempatkan di akuarium persegi 6 galon tanpa alas, tidak terisi penuh dan diberi kayu apung saja, sedangkan untuk mendapatkan air warna hitam hanya dengan cara memberi sampah daun ketapang (yang sangat banyak ditemukan di Babel), dan seterusnya.

Mari kita bersama Yayasan Tanggokers menyelamatkan si cantik merah marun mungil noktah biru dengan segenap cara selama tujuannya untuk melestarikan kekayan alam Babel agar tidak punah dan anak cucu kita masih dapat melihat tarian Men Sahang Lah Mirah dari aquarium. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.