Remaja Tenggelam di Deli Serdang, Pamit Main ke Lapangan, Nenek Kakek Tak Tahu Pergi ke Sungai
Ayu Prasandi May 24, 2026 11:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com, DELI SERDANG- Duka mendalam bagi keluarga atas kepergian, seorang remaja, Aldi Pranata (15) yang ditemukan tewas tenggelam di aliran sungai Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Sabtu (23/5/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

Pasalnya, korban yang sehari-hari tinggal bersama kakek dan adiknya di Jalan Pertahanan, Patumbak II, Dusun IV, Kecamatan Patumbak, ternyata tidak pamit untuk pergi mandi ke sungai. 

Namun kepada kakeknya, Aldi mengaku hendak pergi ke lapangan.

Kakek korban, Junaidi (60), terkejutnya ketika mendengar kabar bahwa cucunya tenggelam. 

Informasi tersebut pertama kali diketahui dari warga desa Lantasan Lama yang kemudian mendatangi rumah korban.

"Itu kan kejadiannya, kami dikasih tahu sama warga sana, pasalnya anak itu hanyut ke sungai. Lalu datang ke sini cari rumahnya, dikasih tahulah sama kawannya kemari. Pasalnya sini rumahnya neneknya," ujar Junaidi saat ditemui Tribun Medan di rumah duka, Minggu (24/5/2026).

Junaidi menjelaskan bahwa Aldi tidak pernah memberi tahu niatnya untuk pergi ke sungai. 

"Kami enggak tahu, dia pergi gitu aja. Tahu dia pergi, katanya mau ke lapangan gitu aja, ngomongnya mau ke lapangan," ucap Junaidi menirukan ucapan terakhir almarhum Aldi. 

Junaidi menegaskan bahwa pihak keluarga sebenarnya melarang jika Aldi ingin mandi ke sungai. 

"Kalau ke sungai kami larang," tegasnya.

Junaidi mengungkapkan bahwa salah satu faktor penyebab Aldi dan warga lainnya terpaksa mandi ke sungai adalah karena pemadaman listrik yang terjadi saat itu. 

Akibat dari pemadaman listrik, membuat pompa air di rumah-rumah warga tak dapat berfungsi.

"Ya, karena kan mati lampu, kami kan susah, karena enggak bisa mandi. Kalau enggak ada di sungai, mau dapat air dari mana? Karena harus pakai listrik ngambil airnya," jelas Junaidi.

Sementara itu, pihak keluarga korban mengaku tidak akan menempuh jalur hukum apapun atau menuntut pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). 

Junaidi menganggap musibah ini sebagai kejadian alam yang tidak bisa dihindari.

"Ya mau marah kayak mana? Udah kejadian kayak gitu, mana kita marah? Itu kan mau kita tuntut kayak mana lagi, memang gitu kan dari alam," ujarnya pasrah.

Satu-satunya harapan keluarga kepada pemerintah adalah agar pemadaman listrik dapat dikelola dengan lebih baik. 

"Ya kalau masalah apa, supaya jangan matikan lampu, gitu aja," tuturnya.

Menurutnya, ia menceritakan bahwa Aldi Pranata adalah seorang remaja yang periang dan suka membantu. 

"Dia orang periang itu, dengan apa ada keadaan dia pegang, tanpa disuruh dia pun mau," kenang kakeknya.

Aldi diketahui sudah tidak bersekolah hampir satu tahun. Bukan karena faktor ekonomi, melainkan karena Aldi sendiri yang tidak mau bersekolah.

"Dia tidak bersekolah lagi. Enggak mau, kalau kita paksa, tetap enggak mau" ungkap Junaidi.

Sehari-hari, Aldi menghabiskan waktunya menjaga adik di rumah. Saat neneknya pulang, barulah Aldi diperbolehkan bermain. Di waktu pagi, Aldi kadang membantu kakeknya merumput.

Ibu korban diketahui bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia dan baru sekitar 9 bulan meninggalkan Aldi. 

(Cr9/Tribun-medan.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.