TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Tampuk kepemimpinan PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Trenggalek telah resmi berganti. Pengurus baru akan berkomitmen memperbanyak ruang diskusi hingga mengawal aspirasi masyarakat.
Ketua PC PMII Trenggalek Beni Kusuma Wardani menerangkan slogan di pelantikan ini adalah menjala dan mengakar. Pihaknya perlu mengakar pada nilai identitas atau nilai dasar pergerakan
"Agar arah gerak PMII Trenggalek ini bisa lebih konsisten, lebih berdampak. Serta lebih punya ketegasan keberpihakan kepada masyarakat terutama di masyarakat Trenggalek," ujar Beni Kusuma Wardani di Gedung PCNU Trenggalek lantai 3, Minggu (24/5/2026).
Beni mengaku untuk kata menjalar ini harapan besar seluruh pengurus bisa menjalar ke mana-mana. Ia tidak ingin berdiri sendiri sebagai organisasi yang ada di Kabupaten Trenggalek.
Baca juga: Ular Python Sepanjang 6 Meter Gegerkan Warga Gurah Kediri, Dievakuasi Damkar dari Kebun
"Namun kami ingin menggandeng sesama organisasi bahkan yang non organisasi untuk bergandengan tangan untuk dalam sebuah suatu gerakan seperti ini," ulasnya.
Pemuda yang pernah mengenyam pendidikan di SMKN 1 Pogalan Trenggalek ini mengakui periode kepengurusan ini sangat singkat hanya sampai di 2027 mendatang.
Beni memiliki langkah strategis untuk mempercepat visi misi di kepengurusan baru ini. Pertama adalah kajian diskusi-diskusi di cabang dan di komisariat.
"Kemudian untuk saya sendiri saya punya basic sebagai penulis dan sinematografer. Maka itu yang bisa langsung saya saya berikan ke kader-kader," akuinya.
Dikatakannya, dengan begitu sehingga program kerja seperti ini tidak menunggu pendanaan atau bahkan narasumber yang dari eksternal untuk memulai sebuah kegiatan.
Beni menerangkan selain menyoroti pemerintah pusat, Beni juga menyoroti kondisi yang ada di Bumi Menak Sopal ini.
Salah satunya Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan Bagong yang menghabiskan anggaran triliunan. Ia tak mempersoalkan nominal, namun mendorong agar segera diselesaikan.
Supaya masyarakat sekitar bisa memperoleh kemanfaatan dari aliran bendungan tersebut.
"Proyek Bagong ini yang mohon maaf mungkin memang anggarannya cukup besar, tapi bukan berarti negara itu harus apa menganaktirikan proyek tersebut. Karena sudah terlanjur dibangun tapi prosesnya itu tidak kunjung selesai sehingga ini dampaknya sangat panjang," bebernya.
Ia mengaku ada temuan serta dari kader-kader yang melakukan riset sewaktu Kuliah Kerja Nyata (KKN) ada sawah yang hilang.
Baca juga: Atlet Kabaddi Kabupaten Kediri Jalani Latihan dan Tes Parameter Usai Raih 2 Perak di Kejurprov Jatim
Hal itu disebabkan dugaan besar karena erosi dari Sungai Temon. Yang ternyata di daerah di pegunungan daerah resapan air hilang.
"Sehingga air itu langsung ee mengalir ke sungai. Sehingga dengan arus yang deras maka bantaran sungai ini tererosi seperti itu," tegasnya.
Beni menduga kemungkinan besar seperti dari proyek tersebut. Karena tidak ada aktivitas masyarakat di atas gunung atau di gunung di di kawasan bendungan yang punya apa yang membuka lahan cukup besar selain dari proyek Bendungan Bagong.
"Namun, meski demikian kami juga belum mengkeresek lagi ke lapangan dan melakukan riset kolaboratif. Agar hasilnya itu lebih faktual dan punya dasar yang lebih jelas," paparnya.
(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)