Perhiasan Emas pun Jadi Satu Instrumen Jaga Nilai Aset
Vito May 24, 2026 11:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dekan Fekultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Heri Prabowo mengatakan, masyarakat sekarang banyak memilih emas, termasuk dalam bentuk perhiasan, sebagai satu bentuk investasi. 

Meski demikian, hal itu dilakukan ada yang memang tujuannya investasi, tapi ada juga yang ingin tetap bisa dipakai untuk menunjang penampilan.

"Kalau untuk investasi murni sebenarnya emas batangan lebih stabil. Tetapi masyarakat Indonesia punya kedekatan budaya dengan emas perhiasan," katanya, Minggu (24/5). 

Heri menuturkan, dari dulu emas juga identik dengan gaya hidup dan tradisi, misalnya emas kawin saat pernikahan. Sehingga, emas di masyarakat bukan hanya soal investasi, tetapi juga simbol status, penampilan, dan budaya. 

"Meski begitu, untuk perhiasan memang potongan harga jual kembalinya biasanya lebih tinggi dibanding emas batangan," jelasnya.

Ia menyebut, fenomena dolar AS dan emas sebenarnya dua hal yang berbeda, meskipun keduanya sama-sama bisa menjadi sarana investasi. 

Menurut dia, harga emas biasanya naik ketika ada situasi negatif seperti perang, bencana alam, atau kondisi ekonomi yang tidak menentu. Jadi emas itu cenderung naik saat ada sentimen negatif global.

Hal itu berbeda dengan dolar. Heri menyatakan, dolar bisa naik karena berbagai faktor, salah satunya kondisi investasi di suatu negara yang dianggap kurang menguntungkan bagi investor. 

"Selain itu juga dipengaruhi sentimen pasar modal, kebijakan pemerintah, hingga pernyataan-pernyataan pejabat yang memengaruhi psikologi pasar," katanya, Minggu (24/5).

Berkait dengan emas yang saat ini banyak diminati masyarakat, Heri mengungkapkan, satu penyebabnya karena emas dianggap mampu menjaga inflasi dan daya beli.

"Sekarang masyarakat semakin banyak referensi dan mulai memahami bahwa emas bisa menjadi instrumen untuk menjaga nilai aset," tuturnya.

Saat harga emas melonjak tinggi, ia berujar, biasanya hal itu juga berbarengan dengan inflasi yang meningkat. Maka, masyarakat memilih investasi emas untuk menjaga daya beli, baik secara personal maupun keluarga.

"Namun di sisi lain, kalau harga emas terlalu tinggi sampai di titik tertentu, hal itu juga bisa memunculkan kepanikan pasar," tukasnya. 

Meski demikian, Heri menyampaikan, jika masyarakat lebih banyak menyimpan uang dalam bentuk emas dibanding membelanjakannya, sehingga konsumsi rumah tangga bisa tertahan.

Berkait dengan kenaikan dolar, ia menyebut, satu penyebabnya juga karena kondisi pasar modal Indonesia yang sedang tidak terlalu baik. IHSG sempat turun cukup dalam, dan itu memengaruhi psikologi pasar terhadap dolar. 

"Selain faktor global, pemerintah juga perlu memikirkan bagaimana menarik investasi asing agar modal dari luar bisa masuk ke Indonesia," ucapnya. (rad)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.