Ini Kebiasaan yang Diam-Diam Memperparah Gagal Jantung, dari Mie Instan hingga Stop Obat Sendiri
Facundo Chrysnha Pradipha May 25, 2026 12:18 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banyak pasien gagal jantung merasa kondisinya sudah membaik lalu menghentikan obat sendiri. 

Padahal kebiasaan ini justru bisa memicu kondisi memburuk hingga kematian mendadak.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dengan keahlian subspesialis (konsultan) di bidang gagal jantung dr. Dian Yaniarti Hasanah, Sp.JP(K), menegaskan gagal jantung merupakan penyakit kronis yang membutuhkan terapi jangka panjang.

“Pasien akan merasa baik, merasa enak, bisa berkembali ke masyarakat. Tetapi tidak bisa dihentikan obatnya,” ujar Dian pada talkshow kesehatan virtual, Minggu (24/5/2026). 

Menurut dia, salah satu tantangan terbesar dalam pengobatan gagal jantung adalah rasa bosan pasien karena harus minum banyak obat setiap hari.

“Biasanya tidak pernah minum obat, tiba-tiba harus minum 4 jenis obat. Itu kadang membuat pasien jadi bosan, jenuh,” katanya.

Risiko Tertinggi: Meninggal Mendadak

Dian mengingatkan, pasien gagal jantung tetap berisiko mengalami kematian mendadak meski tampak sehat.

“Kadang-kadang pasien gagal jantung, terutama yang pompa rendah, kelihatan baik-baik saja, tetapi obatnya tidak diminum atau tidak dinaikkan, tiba-tiba sudden death,” ujarnya.

Baca juga: Gejala Gagal Jantung Kerap Disangka Maag dan Kelelahan, Dokter Minta Waspada

Karena itu, kontrol rutin dan kepatuhan terapi menjadi sangat penting.

“Meninggal mendadak adalah risiko tertinggi pada pasien gagal jantung,” kata Dian.

Bukan Obat Tekanan Darah Biasa

Menurut Dian, masih banyak pasien salah paham terhadap obat gagal jantung.

“Pasien juga sering khawatir, dok gimana ginjal saya, minum obat terus,” ujarnya.

Padahal, obat tersebut justru membantu menjaga aliran darah ke organ tubuh termasuk ginjal.

“Kalau jantungnya dijaga dengan obat-obatan ini, aliran ke ginjal baik, fungsi ginjal akan baik,” katanya.

Ia juga menegaskan obat gagal jantung berbeda dengan obat hipertensi biasa.

“Pasien salah paham, dok saya tensinya rendah, kok saya dikasih obat tensi, padahal obat gagal jantung ini bukan obat tensi,” ujar Dian.

Berat Badan Harus Dipantau Ketat

Salah satu hal penting yang sering dilupakan pasien gagal jantung adalah memantau berat badan secara rutin.

Menurut Dian, kenaikan berat badan cepat bisa menjadi tanda penumpukan cairan.

“Kenaikan berat badan yang lebih dari 2 kg dalam seminggu, disertai keluhan sesak, tidak enak badan, itu merupakan tanda perburukan gagal jantung,” katanya.

Karena itu pasien diminta menimbang berat badan dengan kondisi yang sama setiap hari.

“Harus memakai baju dengan berat yang sama,” ujar dia.

Cairan dan Garam Tidak Boleh Berlebihan

Selain obat, pasien gagal jantung juga harus mengatur asupan cairan dan garam.

“Pada beberapa kasus ketika kelebihan cairannya masih banyak, memang intake cairan dibatasi,” kata Dian.

Ia mengingatkan cairan bukan hanya air putih, tetapi juga kuah makanan.

“Intake cairan ini termasuk adalah sop dan lain-lain,” ujarnya.

Sementara untuk garam, masyarakat diminta waspada terhadap makanan instan.

“Mie goreng atau makan sosis, itu juga kadar garamnya tinggi,” kata Dian.

Tetap Bergerak dan Berolahraga

Meski sakit jantung, pasien tidak dianjurkan hanya berbaring di rumah.

“Tidak bisa pasien gagal jantung karena pompanya rendah, tidak gerak sama sekali,” ujar Dian.

Menurutnya, olahraga tetap menjadi bagian penting terapi gagal jantung.

Namun aktivitas harus disesuaikan dengan kondisi pasien dan anjuran dokter.

Pemeriksaan Jantung Tidak Cukup dari Keluhan Saja

Dian menjelaskan diagnosis gagal jantung membutuhkan pemeriksaan menyeluruh.

Mulai dari rekam jantung, foto rontgen, pemeriksaan darah, hingga USG jantung.

“USG jantung wajib, ini sangat menentukan, membantu kita menilai pompa jantung,” katanya.

Pada kondisi tertentu, pasien juga memerlukan MRI jantung dan kateterisasi.

“Kateterisasi jantung, untuk melihat apakah ada sumbatan yang signifikan yang menyebabkan gagal jantung ini,” ujar Dian.

Jangan Tunggu Sesak Berat

Dian mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu kondisi berat untuk memeriksakan diri.

Apalagi jika mulai muncul kaki bengkak, cepat lelah, perut begah, atau sulit tidur datar.

“Kalau misalkan Anda nggak tahu kenapa kok tiba-tiba saya kaki bengkak, perut saya begah, dan saya merasa berat badan saya naik banyak, walaupun saya tidak enak makan, atau produksi kencing saya kok berkurang ya, kok kencingnya jarang, ya itu harus segera,” tutupnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.