Dua Tahun Mati Suri, Warga Desa Pematang Sukatani Kini Kembali Bisa Salat Berjemaah di Mushola
tarso romli May 25, 2026 12:27 AM

Baca juga: Pemkab Muara Enim Terima Bantuan Sapi Kurban dari Presiden Prabowo Jenis Limosin Seberat 940 Kg

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG – Dua tahun menahan rindu akibat atap bocor dan bangunan yang lapuk, masyarakat Dusun 2, Desa Pematang Sukatani, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kini dapat bernapas lega. Kerinduan untuk kembali bersujud dan beribadah bersama di mushola desa akhirnya terbayar lunas.

Sebelumnya, rumah ibadah seluas 77 meter persegi itu terpaksa ditinggalkan oleh warga.

Kondisinya yang rusak parah dan rentan ambruk membuat masyarakat sekitar harus mencari tempat alternatif lain sekadar untuk menunaikan salat berjemaah.

Namun kini, kebahagiaan perlahan kembali mengembang. Lewat program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128, Kodim 0402/OKI turun tangan memperbaiki dan merehabilitasi total bangunan tersebut menjadi jauh lebih layak.

Rasa syukur yang mendalam tidak dapat disembunyikan oleh warga setempat. Sutrisno (48), salah seorang warga Dusun 2 yang sehari-hari bekerja sebagai petani, mengungkapkan rasa harunya melihat tempat ibadah kebanggaan desanya kembali berdiri kokoh dengan kondisi yang sangat baik.

"Senang sekali rasanya. Sudah hampir dua tahun kami kesusahan kalau mau salat tarawih, salat jemaah harian, atau mengantar anak-anak mengaji," ujar Sutrisno dengan mata berkaca-kaca, Minggu (24/5/2026) siang.

"Kadang kami harus menumpang di teras rumah warga karena atap mushola yang lama bocor parah. Sekarang, berkat bantuan bapak-bapak TNI, mushola kami menjadi sangat bagus, terang, dan nyaman dipakai untuk beribadah lagi," katanya menambahkan.

Sementara itu, Komandan Satgas TMMD, Letkol Inf Gunawan Wibisono, menegaskan bahwa kompleks bangunan yang kini bersih dan kokoh tersebut tidak lagi sekadar menjadi tempat penunaian kewajiban spiritual harian.

Lebih dari itu, mushola ini diharapkan mampu mengaktifkan kembali fungsinya sebagai jangkar kultural perdesaan.

"Alhamdulillah, rehab Mushola Nur Hidayah sudah selesai seratus persen. Selama dua tahun tempat ini tidak digunakan dan tentu warga sangat merindukannya. Kami berharap keberadaan mushola ini tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan warga," kata Letkol Inf Gunawan saat dihubungi.

Bapi komunitas tani lokal, kehadiran fisik bangunan baru ini membayar tuntas kerinduan kolektif mereka terhadap rutinitas azan, pengajian malam, dan majelis taklim yang terpusat.

Aktivitas literasi keagamaan bagi anak-anak usia dini kini dipastikan bisa berjalan lagi tanpa kendala ruang belajar yang bocor atau lembap.

Sinergi taktis di lapangan antara teknisi militer dan warga dalam mengangkut material semen serta kayu membuktikan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar nonekonomi, seperti ketenteraman beribadah, memiliki bobot yang sama pentingnya dalam mengukur indeks kebahagiaan masyarakat perdesaan.

Dengan rampungnya seluruh tahapan konstruksi fisik, tantangan berikutnya kini bergeser pada aspek manajemen pemakmuran sarana.

Pemeliharaan berkala mulai dari kebersihan karpet, fasilitas tempat wudu, hingga pembiayaan operasional listrik kini menjadi tanggung jawab penuh warga untuk dikelola secara mandiri.

Oleh karena itu, Letkol Inf Gunawan berpesan agar warga bahu-membahu dalam menjaga aset spiritual tersebut.

"Peran aktif tokoh agama setempat sangat dibutuhkan untuk mengintegrasikan program pemakmuran tempat ibadah dengan penguatan kerukunan sosial di tingkat tapak. Langkah kesinambungan ini penting agar investasi sosial-spiritual yang ditanamkan mampu terus menyala dan memberikan dampak jangka panjang bagi ketahanan moral perdesaan," pungkasnya.

Baca juga: PLN dan Polisi Selidiki Penyebab Blackout Massal di Pulau Sumatra, Sempat Ada Dugaan Sabotase

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.