SURYA.CO.ID. SURABAYA - Kasus rabun jauh atau Miopia diperkirakan akan menyerang separuh jumlah total penduduk dunia, pada 2050 mendatang.
Kondisi itu mendorong RSUD Dr Soetomo Surabaya bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang Jawa Timur, menggelar Bakti Sosial Pemeriksaan Mata bagi anak-anak.
Bertempat di Graha Amerta, Minggu (24/5/2026) pukul 10.00 WIB, ratusan anak anak dari berbagai daerah di Jawa Timur, antusias mengecek kondisi kesehatan mata mereka.
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof. Dr. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, dr., Sp.DVE, Subsp.DAI., FINSDV, FAADV, MARS, menyambut positif bakti sosial ini.
“Bentuk kepedulian kepada kemanusiaan dan dengan kolaborasi bersama Perdami. Kami berharap masyarakat sekitar bisa menerima manfaat dari pemeriksaan kesehatan mata,” kata Dokter Cita.
Pada kesempatan yang sama, RSUD Dr.Soetomo sekaligus meresmikan Amerta Eye Center, fasilitas kesehatan unggulan menangani gangguan penglihatan mata.
“Semua pelayanan sub spesialis ada 9 namun fokusnya adalah pada Miopia Center. Melalui Myopia Awareness Week, kesadaran tentang Miopia lebih meningkat, dan kualitas hidup dari pasien lebih baik lagi,” pungkasnya.
Baca juga: Tren Rabun Jauh Meningkat Didominasi Anak Anak, Perdami Ingatkan Peran Orang Tua
Di tempat yang sama, Ketua Perdami Cabang Jatim dr. Sutjipto, SpM(K) menerangkan, total ada 102 pasien dan 120 dokter spesialis mata, hadir dalam kegiatan bakti sosial tersebut.
Menurutnya, rata- rata pasien berasal dari kalangan anak anak, dengan rentang usia 8 sampai dengan 18 tahun.
Mereka tidak hanya berasal dari Kota Surabaya, tapi luar kota seperti Kabupaten Ponorogo.
“Gangguan penglihatan mata merupakan masalah penting dan kadang-kadang bisa terabaikan,” terang dr Sutjipto.
Ia menambahkan, pemeriksaan pertama adalah Screening untuk mengetahui ukuran Visus atau kemampuan mata, dalam mengenali detail atau objek tertentu.
“Bisa dicek mulai dari retinanya, panjang sumbu bola matanya, karena itu menjadi faktor utama. Semakin panjang bola matanya nanti minusnya juga akan semakin tinggi,” imbuhnya.
Pemilihan pasien anak anak bukan tanpa pertimbangan, dirinya menilai, mereka sering melihat gadget dalam jarak dekat. Bahkan jarang beraktivitas di luar.
“Mereka jarang melihat objek jarak jauh, mainnya di dalam rumah, sehingga sumbu bola matanya terpancing untuk jadi lebih panjang. Ini yang menyebabkan miopi jadi progresif,” tandasnya.