Laporan Wartawan TribunJatim.com, Madchan Jazuli
TRIBUNJATIM.COM, TRENGGALEK - Apapun usaha bila dikerjakan dengan telaten dan sungguh-sungguh maka akan membuahkan hasil. Itulah kalimat yang pas disematkan untuk Iwan Pebrilian (34).
Pemuda asal Desa Karanganom Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek ini awalnya dulu hanya kerja serabutan.
Sempat mencoba peruntukan dengan jual beli ikan cupang. Namun tidak bertahan lama karena harga sudah anjlok alias hanya musiman.
Hingga akhirnya memutuskan untuk mencoba membuat kerajinan yang berasal dari bambu. Itu berangkat dari hobi yang ia sukai sehari-hari dari ayam jago.
"Dulu sempat diremehkan. Kasarnya itu hasilnya berapa kok kami kerja kayak membuat kandang tersebut," kenang Iwan kepada TribunJatim.com, Minggu (24/5/2026).
Meski mendapat cemoohan orang lain. Ia tetap konsisten. Selalu belajar dari kesalahan, pun juga terus bereksperimen untuk membuat Kandang Ayam Bangkok berkualitas.
Dengan memanfaatkan berbagai platform digital media sosial. Ia mulai mendapatkan pesanan satu per satu.
Baca juga: Rahasia Bisnis Kandang Ayam Bangkok Asal Trenggalek Milik Iwan Tetap Cuan, Diminati hingga Luar Kota
"Mulai jangkauannya luas itu Di Facebook Pro, TikTok dan YouTube itu jangkauan saya tuh semakin luas," paparnya.
Iwan mulai merintis di 2015 itu masih bahan mencari sendiri di pinggir sungai tetangga desanya.
"Dulu beli bahan bambu 3 sampai 5 ribu satu lonjor di Desa Malasan memotong sendiri," akuinya.
Berbeda dulu dan sekarang. Saat ini untuk mendapatkan bahan hanya tinggal mengontak pemilik bahan bambu maupun kayu di desa sebelah.
"Kalau sekarang itu sudah apa ya sudah tinggal telepon gitu barangnya sudah dikirim untuk bahan-bahannya itu saya tinggal minta dikirim," bebernya.
Bertahun-tahun belajar otodikan menciptakan inovasi kandang ayam bangkok model laci yang kini diminati oleh para penghobi dari berbagai daerah, bahkan hingga luar pulau.
Pemuda 34 tahun ini menceritakan perjalanannya di dunia kerajinan ini tidaklah instan.
Ia mengaku harus belajar secara autodidak selama bertahun-tahun demi menguasai pembuatan kandang ayam yang berkualitas.
"Saya tidak ada yang mengajari dan tidak ada yang mengarahkan. Sebetulnya, dalam pekerjaan ini saya menyukainya, jadi saya mempunyai semangat dan ada rasa suka.
"Saya juga menyisipkan unsur seni di dalamnya. Proses belajar itu sampai memakan waktu lima hingga enam tahun," katanya.
Setelah menguasai teknik dasar, Iwan tidak lantas berpuas diri. Ia terus melakukan eksperimen untuk menciptakan produk yang berbeda dari yang sudah ada di pasaran.
Proses percobaan untuk model inovasi terbarunya ini memakan waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Iwan merombak total desain konvensional, terutama pada bagian alas dan pintu kandang.
Model tersebut murni merupakan hasil desainnya sendiri. Apabila dulu alas kandang ayam biasanya paten atau permanen, namun ini bisa dilepas.
"Terus saya buat berbeda dari yang lain, alasnya saya bikin model laci supaya kalau kotor bisa ditarik dan dicuci dengan mudah, seperti kandang burung," ulasnya.
Menariknya, laci pada bagian bawah kandang tersebut dibuat menjadi dua tingkat dengan fungsi yang berbeda.
"Lacinya ada dua. Satunya berfungsi sebagai alas kaki untuk ayam, dan satunya lagi khusus untuk menampung tempat kotorannya," tambahnya.
Tak Masalah Desainnya Ditiru Perajin Lain
Keunikan dan kepraktisan desain kandang buatan Iwan ini rupanya memikat perhatian banyak orang. Bahkan, saat ini sudah banyak perajin lain yang mulai meniru dan membuat kandang dengan model serupa.
Kendati desain orisinalnya banyak dijiplak oleh kompetitor, Iwan mengaku sama sekali tidak merasa keberatan atau tersaingi. Ia menanggapinya dengan bijak dan berlapang dada.
"Saya tidak mempermasalahkan kalau model dan desainnya ditiru oleh orang lain. Bagi saya, urusan rezeki itu sudah ada yang mengatur," ucapnya.
Kerja keras Iwan kini membuahkan hasil manis. Saat ini, pesanan kandang ayam bangkok buatannya terbilang melimpah.
Pelanggannya pun tidak hanya datang dari wilayah Trenggalek saja, melainkan sudah merambah ke berbagai kota besar di Jawa Timur hingga luar pulau.
Iwan menyebutkan untuk wilayah Jawa Timur, pesanan banyak berdatangan dari kota-kota seperti Sidoarjo, Surabaya Madura, Kediri, Lumajang hingga Jakarta.
Untuk memenuhi permintaan dari luar Pulau Jawa, Iwan menerapkan sistem pengiriman khusus agar tidak terkendala dimensi dan ongkos kirim.
Kandang dikirim dalam bentuk rakitan atau lembaran terpisah setelah melalui proses pengecekan kualitas di bengkel kerjanya.
"Kalau untuk pengiriman luar pulau itu sistemnya rakitan. Nanti saya cek dulu di sini, kemudian dikirim dalam bentuk lembaran. Begitu sampai di lokasi tujuan, pembeli tinggal memasangnya dengan sekrup atau baut saja," jelasnya.
Saat ditanya mengenai kelebihan produknya dibandingkan perajin lain, Iwan dengan rendah hati menyatakan bahwa pada dasarnya semua kandang ayam memiliki fungsi yang sama.
Menurutnya, hal ini kembali lagi pada selera dan hobi dari masing-masing pemilik ayam.
"Sebenarnya semua kandang sama saja. Hal itu tergantung selera dan apa hobi masing-masing. Ayam bangkok itu kan ayam mahal, jadi biasanya para penghobi akan menyesuaikan kandangnya dengan selera mereka sendiri," jelasnya.
Ia mengaku pelanggan bisa menyesuaikan permintaan berapa pintu. Untuk 12 pintu bisa satu minggu. Termasuk juga pesanan yang berada di belakang saat dimintai keterangan ini, ada 6 pintu atau 6 plong orang menyebutnya dikerjakan dalam 7 hari.
"Yang di belakang ini 6 plong sudah komplit sama gordennya. Kalau model seperti ini maksimalnya 1 minggu di saja," ulasnya.
Pemuda yang hanya lulusan SMPN 2 Gondang, Tulungagung ini menerangkan untuk harga yang termurah per pintu dibanderol Rp 350 sampai Rp 700 ribu.
"Untuk harga sekitar itu, namun menyesuaikan dengan permintaan pelanggan," bebernya.
Saking banyaknya pesanan yang masuk, para pelanggan setianya bahkan harus rela mengantre hingga berbulan-bulan demi mendapatkan kandang ayam berkualitas premium buatannya.
"Kalau yang pesan di sini biasanya pesanan itu lima bulan sampai enam bulan bisa molor. Karena terkadang ada keterlambatan bahan baku dan soalnya tempatnya juga di sini untuk merakit tidak cukup banyak, minim tempat lokasi," akuinya.
Pemuda yang hobi semua olahraga ini mengaku rahasia kekuatan dan estetika kandang ayamnya terletak pada pemilihan bahan baku dan modelnya.
Model yang ia buat, menurutnya baru pertama kali ini. Kemudian semakin berkembangnya waktu ke waktu, banyak yang ikut mencontoh.
"Ya ada yang bilang, modelnya mas ini saya contoh. Ada yang sama sekali tidak bilang. Tidak apa-apa sih, kalau memang itu rezekinya melalui itu. Semua sudah ada yang mengatur," paparnya.
Ia sangat selektif dan hanya menggunakan kayu mahoni yang sudah berumur tua agar hasilnya maksimal.
Meskipun kayu mahoni mudah ditemui di sekitar tempat tinggalnya, ia tetap memesan ukuran secara khusus sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam menjalankan usahanya sehari-hari, Iwan kini dibantu oleh dua orang pekerja yang sudah mengerti dan berpengalaman.
Sebelumnya, ia memiliki tiga orang pekerja, namun satu di antaranya kini sudah tidak ikut membantu lagi.
Mengenai merek dagang yang ia gunakan, Iwan mengungkapkan ada filosofi unik di balik nama "Jago Anom" yang kini melekat pada produknya.
Nama tersebut merupakan gabungan dari jenis usaha dan identitas asal desanya. Kata Jago Anom itu, 'Jago' itu produksi kandang ayam jago. Kemudian 'Anom' berinisiatif mengambil dari nama desanya.
"Kan nama desa saya adalah Karanganom, Durenan. Saya ambil Anom, sehingga kandang saya berikan nama Jago Anom. Alhamdulillah nama itu sudah banyak yang tahu," kata Iwan sembari tersenyum.
Berkat konsistensinya menjaga kualitas, merek Jago Anom kini sudah dikenal luas oleh para pencinta ayam.
Baik dari kalangan penghobi rumahan maupun peternak berskala besar yang memesan kandang berukuran jumbo.
Pasar kandang ayam Jago Anom juga telah menembus berbagai wilayah di Jawa Timur dan luar provinsi.
Iwan memaparkan bahwa pemesanan dari luar kota seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Kediri, dan Blitar sudah sangat sering ia layani.
Tidak hanya itu, produknya bahkan pernah dikirim hingga ke Ibu Kota Jakarta. Namun, untuk pengiriman luar provinsi, Iwan memberlakukan syarat khusus demi efisiensi operasional.
"Untuk luar provinsi saya target untuk pesanan minimal ada 30 pintu, cuma untuk pengirimannya saya menyesuaikan jarak tujuan," tuturnya