Kisah Penyanyi Surabaya Jadi Korban Pelecehan Seksual, Kini Trauma Lihat Ruang Medis
Alga W May 25, 2026 01:14 AM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Febrianto Ramadani

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Bayang-bayang masa lalu menjadi korban pelecehan seksual masih menghantui Bunga (nama samaran), di tengah menjalani profesinya sebagai penyanyi.

Bunga yang telah melanglang buana sejak tahun 2018, kerap melantunkan suara emas di atas kapal ferry antar pulau. 

Baca juga: Pastikan Fasilitas Publik Aman untuk Semuanya, Pemkot Surabaya Libatkan Banyak Pihak Jaga Ketertiban

Ia membagikan pengalaman kelam saat menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang petugas kesehatan.

Ketika itu kapal berlayar di tengah musim ombak besar, pada tahun 2024 lalu.

"Setelah tampil membawakan beberapa lagu, kondisi saya drop, mabuk laut yang parah, sudah tidak kuat, muntah muntah, setengah pingsan.Pada hari itu untuk pertama kalinya saya dibantu seorang petugas kesehatan kapal," ungkap Bunga, Minggu (24/5/2026).

Melihat kondisi yang ia keluhkan, beberapa staf, termasuk petugas kesehatan, mengarahkannya ke ruang medis.

Lantaran tidak punya prasangka buruk, Bunga menuruti, karena mengira akan diobati.

"Saya diberi obat dan minyak angin, lalu disuruh berbaring. ​Namun, obat yang diberikan oleh petugas kesehatan justru memberikan efek samping, membuat tubuh saya lemas dan tidak berdaya," tuturnya.

"Pikiran saya sadar dan tahu apa yang sedang terjadi. Di saat kondisi saya tidak berdaya itulah, petugas kesehatan mulai melakukan tindakan pelecehan seksual," imbuhnya.

Bunga mengaku berada dalam kondisi setengah sadar.

Dia berusaha melawan, namun seluruh otot tubuhnya lemas dan sama sekali tidak bisa digerakkan. 

​"Untuk berteriak atau berbicara saja rasanya sangat berat. Secara mental saya benar-benar ketakutan," kenangnya.

Ia mencoba melaporkan kasus ini sesuai prosedur perusahaan, mulai dari menemui manajemen, kemudian dijembatani ke pihak atasan.

Menurutnya, kasus ini sudah sampai ke telinga nahkoda.

Namun, para atasan dan kru di kapal justru menyarankan agar masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan saja.

"Saya merasa sangat kecewa. Ini bukan kasus pemukulan, ini pelecehan seksual," ucapnya.

"Di sisi lain, saya juga tidak berani langsung speak up ke media sosial karena memikirkan nama baik keluarga dan merasa malu," tuturnya.

Karena merasa masalah ini tidak terselesaikan dengan adil dan tidak dihargai di sana, akhirnya Bunga memutuskan untuk berhenti bekerja.

"Saya juga tidak sampai melapor ke polisi saat itu karena mental saya sudah jatuh," tuturnya.

Meski kini Bunga kembali menjalani profesinya sebagai penyanyi kapal, namun bayang-bayang hitam kejadian tahun 2024 belum sepenuhnya hilang. 

Dirinya mengaku mengalami trauma mendalam terhadap ruang medis dan profesi mantri kesehatan kapal.

Agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi, Bunga sekarang menerapkan prosedur pengamanan mandiri yang ketat.

​"Jika saya merasa sakit di kapal, saya menolak untuk datang ke ruang medis. Saya komunikasikan kepada kru."

"Saya meminta agar petugas yang menangani saya, dengan syarat tidak boleh berduaan saja di dalam ruangan. Harus ada teman atau orang lain yang mendampingi," jelasnya.

Berani bersuara

​Melalui pengalaman pahitnya, Bunga menyelipkan pesan mendalam bagi masyarakat, khususnya kaum perempuan yang bekerja di sektor rantau atau area yang minim keterwakilan perempuan.

​Ia menyesali keputusannya di masa lalu yang memilih diam dan memendam kasus tersebut.

Karena menurutnya, sikap diam justru membuat oknum pelaku kejahatan seksual merasa di atas angin dan memandang remeh perempuan.

​"Kita harus menunjukkan bahwa perempuan itu tidak lemah. Alangkah baiknya jika kita berani bersuara dan melaporkannya secara hukum ke pihak kepolisian."

"Ini penting sebagai pembelajaran agar oknum-oknum seperti itu jera dan tidak bertindak semena-mena. Apapun yang terjadi dan dimanapun tempatnya, kita harus berani bersuara," tandas Bunga.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.