Kaltim Sudah Darurat Narkoba, BNNP: Sabu Rambah Semua Lapisan, Pelajar hingga Aparat Penegak Hukum
Amalia Husnul A May 25, 2026 05:19 AM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Rentetan pengungkapan kasus narkotika berskala besar di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam beberapa bulan terakhir memicu alarm kewaspadaan tinggi.

Mulai dari penyitaan puluhan kilogram sabu, penangkapan bandar besar, penggerebekan kampung narkoba, hingga keterlibatan oknum aparat penegak hukum dalam jaringan barang haram tersebut.

Fenomena itu memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: apakah Kalimantan Timur benar-benar telah memasuki fase darurat narkoba?

Humas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Timur, Ahmad Fadholi, tidak menampik kondisi tersebut.

Baca juga: Daftar 3 Polisi di Kaltim yang Terjerat Narkoba, Kabareskrim Polri: Tidak Ada yang Kebal Hukum

Dalam talkshow bersama Tribun Kaltim, Sabtu (23/5/2026), ia menyebut status darurat narkotika di Kaltim merupakan proyeksi nyata dari situasi nasional yang memang sudah memasuki tahap mengkhawatirkan.

“Jumlah penduduk Kaltim itu tidak sampai lima juta jiwa. Namun jika melihat angka prevalensi penyalahguna dibanding total penduduk, angkanya tergolong sangat besar. Jadi sangat wajar jika Kaltim disebut darurat narkotika,” ujarnya.

Menurutnya, kini telah terjadi pergeseran besar dalam pola penyalahgunaan narkoba di masyarakat.

Jika dahulu narkotika identik dengan kalangan berduit, artis, atau pengusaha, kini barang haram tersebut justru merambah hampir seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang status sosial dan ekonomi.

BNNP Kaltim menemukan fakta bahwa penyalahgunaan narkoba telah menjangkiti pekerja tambang, karyawan sawit, petugas kebersihan, pemanjat kelapa, aparatur sipil negara, hingga aparat penegak hukum.

Tidak hanya itu, ibu rumah tangga yang terpengaruh pasangan juga mulai terjerat.

Di kalangan pelajar, muncul tren penyalahgunaan obat-obatan oplosan seperti campuran alkohol 70 persen dengan suplemen, obat batuk, hingga fenomena “gaduk” yang ditemukan di sejumlah wilayah dari Kabupaten Paser hingga Kabupaten Berau.

Kabupaten Paser adalah kabupaten yang berada di bagian paling selatan Provinsi Kaltim yang langsung berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).

Sementara Kabupaten Berau adalah kabupaten yang terletak di bagian ujung utara Provinsi Kaltim yang berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara).

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, tercatat sekitar 140 kasus berhasil diungkap melalui sinergi Polri dan BNN dengan total sekitar 200 tersangka.

Fadholi menilai mudahnya narkoba masuk ke kelompok ekonomi bawah berkaitan erat dengan kondisi sosial dan psikologis masyarakat modern.

“Masyarakat hari ini cenderung lebih rentan stres, galau, dan mengalami tekanan hidup dibanding orang zaman dulu yang lebih nerimo.

Ketika kesehatan mental terganggu dan iman tipis, narkotika menawarkan jalan pintas, rekreasi instan untuk mengembalikan mood,” katanya.

Ia bahkan menyebut tingginya angka penyalahgunaan narkotika dapat menjadi indikator rendahnya tingkat kebahagiaan sosial di suatu wilayah.

“Jika di suatu wilayah banyak penyalahguna narkotika, itu indikator bahwa orang-orang di sana kurang bahagia,” lanjutnya.

Sebagai langkah pencegahan dari hulu, BNN kini mendorong program Ketahanan Keluarga Anti Narkotika.

Program tersebut lahir dari kekhawatiran terhadap rapuhnya hubungan keluarga modern di perkotaan yang minim komunikasi dan ikatan emosional.

Dari sisi geografis, Kaltim juga dinilai sangat strategis sekaligus rawan.

Posisi wilayah yang berbatasan dengan Malaysia melalui Kalimantan Utara, garis pantai yang panjang, hingga akses penerbangan internasional menjadi jalur potensial masuknya narkotika.

Belum lagi tingginya perputaran ekonomi dari sektor tambang, perkebunan sawit, dan migas yang menciptakan pasar besar bagi sindikat narkoba.

Ke depan, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) diprediksi menjadi tantangan baru. Gelombang urbanisasi dan meningkatnya kepadatan penduduk dikhawatirkan linear dengan potensi meningkatnya penyelundupan narkotika. 

Mirip Kartel Internasional

Salah satu tantangan terbesar aparat dalam memberantas narkotika di Kalimantan Timur adalah keberadaan kampung-kampung yang telah lama dicap sebagai kampung narkoba.

BNNP Kalimantan Timur mengungkap, di wilayah-wilayah tersebut kini telah terbentuk pola hubungan patron-client yang menyerupai sistem kartel narkotika internasional.

Humas BNNP Kaltim Ahmad Fadholi menjelaskan, bandar narkoba di kawasan tersebut tidak lagi sekadar berperan sebagai pengedar, tetapi telah menjelma menjadi sosok pelindung dan penopang ekonomi masyarakat sekitar.

“Bandar narkoba di sana membagikan jatah bulanan ke rumah tangga, menyumbang hewan kurban, sampai memberikan THR saat hari raya.

Polanya mirip dengan yang dilakukan Pablo Escobar di Kolombia pada era 1980-an,” ungkapnya.

Menurutnya, hubungan ekonomi ilegal itu membuat masyarakat akar rumput menjadi tameng hidup bagi para bandar.

Warga yang menggantungkan kehidupan dari aliran uang sindikat akhirnya sulit diajak bekerja sama dalam upaya pemberantasan narkotika.

Akibatnya, pendekatan sosialisasi normatif atau sekadar imbauan dari pemerintah sering kali tidak efektif karena kalah oleh perputaran uang tunai yang dihadirkan jaringan narkoba.

BNNP menilai kondisi ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Kampung narkoba, kata dia, tidak cukup hanya ditangani melalui penggerebekan.

Diperlukan rekayasa sosial dan pembangunan ekonomi alternatif agar masyarakat memiliki sumber penghidupan baru yang legal dan berkelanjutan.

“Harus ada konsensus dan kemauan bersama mulai dari pemerintah daerah, camat, lurah, tokoh masyarakat, hingga penegak hukum untuk membangun ruang sosial baru yang sehat,” tegasnya.

Selain itu, BNNP Kaltim juga mengingatkan bahwa tingginya angka penyalahgunaan narkoba berdampak langsung terhadap kapasitas lembaga pemasyarakatan.

Saat ini sekitar 60 hingga 70 persen penghuni lapas didominasi narapidana kasus narkotika sehingga memicu persoalan overcapacity di berbagai daerah.

BNNP berharap penanganan narkotika tidak hanya fokus pada penindakan hukum, tetapi juga menyentuh akar persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Baca juga: BNN Bongkar Jaringan Narkoba Raksasa di Kaltim, 92 Kg Sabu dan 1.000 Vape Etomidate Disita

(Tribunkaltim.co/Gregorius Agung Salmon)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.