Idul Adha, Harga Komoditas Pangan Alami Lonjakan, Cabai Rawit Naik 7,93 Persen
Putu Dewi Adi Damayanthi May 25, 2026 06:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Harga sejumlah komoditas pangan mulai merangkak naik menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. 

Kenaikan harga terjadi pada berbagai bahan pangan utama, mulai dari cabai, bawang, hingga daging sapi seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia per Minggu 24 Mei 2026, lonjakan harga paling tinggi terjadi pada kelompok cabai. 

Harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp73.500 per kilogram (kg) atau naik 7,93 persen. 

Baca juga: Jelang Idul Adha, Sapi Milik Petani di Karangasem Bali Dibeli Presiden Rp54 Juta

Sementara itu, cabai rawit hijau meningkat 7,44 persen menjadi Rp54.150 per kg.

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang naik 6,09 persen menjadi Rp54.900 per kg, serta cabai merah besar yang meningkat 5,02 persen menjadi Rp57.550 per kg. 

Selain cabai, bawang merah ukuran sedang turut mengalami kenaikan sebesar 2 persen menjadi Rp48.350 per kg.

Di sisi lain, komoditas protein hewani juga mulai menunjukkan kenaikan harga. 

Harga daging sapi kualitas I tercatat mencapai Rp148.300 per kg atau naik 0,41 persen, sedangkan daging sapi kualitas II naik 0,22 persen menjadi Rp139.450 per kg. Harga beras pun mulai bergerak naik. 

Beras kualitas bawah I tercatat mencapai Rp14.600 per kg, sementara beras kualitas super I menyentuh Rp17.450 per kg.

Sekretaris Jenderal Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, mengatakan tekanan harga di pasar tradisional diperkirakan masih akan berlangsung hingga mendekati Hari Raya Idul Adha. 

Ia menyebutkan harga sejumlah komoditas di pasar bahkan sudah berada di atas rata-rata nasional.

Harga cabai rawit merah disebut telah mencapai Rp90.000 per kg, cabai merah keriting Rp60.000 per kg, cabai merah besar Rp65.000 per kg, bawang merah Rp57.000 per kg, serta bawang putih Rp42.000 per kg.

“Puncak-puncaknya nanti fase kedua di H-1 Iduladha. Hari ini (kemarin) beberapa komoditas sudah mengalami lonjakan dan tentu akan berpengaruh kepada daya beli masyarakat,” ujar Reynaldi, Minggu 24 Mei 2026.

Selain itu, harga ayam disebut telah mencapai Rp44.000 per kg, sementara telur ayam naik menjadi Rp28.500 per kg dari Rp27.000 per kg pada pekan sebelumnya. 

Harga minyak goreng curah juga berada di kisaran Rp22.000 per kg.

Menurut Reynaldi, kenaikan harga dipicu meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Iduladha yang tidak sepenuhnya diimbangi dengan pasokan yang memadai. 

“Ketika permintaannya mulai berangsur banyak, tidak diimbangi dengan pasokan yang melimpah, maka ini akan terjadi lonjakan harga,” katanya.

Ia menambahkan, kenaikan harga ayam dan telur juga dipengaruhi masih tingginya biaya produksi, terutama harga pakan ternak. 

“Untuk ayam dan telur, pakannya sendiri juga masih tinggi harganya, maka ini akan berpengaruh,” lanjut Reynaldi.

IKAPPI memperkirakan permintaan bahan pangan menjelang Iduladha dapat meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan hari biasa. 

Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya kebutuhan rumah tangga untuk perayaan dan konsumsi masyarakat.

Meski demikian, Reynaldi memperkirakan harga pangan akan mulai melandai pada H+3 hingga H+7 setelah Iduladha.

“Harapan kami setelah Iduladha harga berangsur melandai, agar terjaga pasokan dari hulu ke hilir,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Iqbal Shoffan Shofwan, menegaskan pemerintah terus menjalankan strategi untuk menjaga stabilitas harga pangan dan memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman.

“Kementerian Perdagangan menjalankan strategi terpadu secara paralel untuk menjaga pasokan, melancarkan distribusi, dan memastikan masyarakat mampu membeli kebutuhan pokok,” kata Iqbal.

Ia menjelaskan pemerintah terus memantau harga di 530 pasar melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). 

Selain itu, koordinasi juga dilakukan bersama pemerintah daerah, distributor, Badan Pangan Nasional, dan Satgas Pangan untuk mengantisipasi potensi anomali harga menjelang hari besar keagamaan.

“Kami terus memastikan jalur distribusi dan melakukan pemantauan harga. Kalau ada indikasi pelanggaran atau spekulasi, akan dikoordinasikan untuk penindakan,” tandasnya. (kontan)

Intervensi Pangan Diproyeksi Tahan Inflasi

Pengendalian harga pangan nasional hingga minggu kedua Mei 2026 dinilai relatif terkendali, seiring mulai efektifnya intervensi pemerintah. 

Namun, persoalan distribusi masih menjadi titik lemah yang berpotensi menahan stabilitas harga ke depan.

Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, menegaskan program intervensi pangan sudah berjalan cukup baik, meski belum sepenuhnya menutup risiko ketimpangan pasokan di daerah. 

Ia menyoroti sejumlah komoditas yang masih mengalami tekanan, terutama cabai merah yang dinilai bermasalah pada sisi distribusi. 

Padahal, secara produksi nasional komoditas tersebut disebut sudah swasembada.

“Masih dominan itu masalah cabai merah, ini pastinya masalahnya distribusi. Kemudian minyak goreng, bawang merah, gula pasir, beras relatif terkendali,” kata Tito dalam Rapat Pengendalian Inflasi, Jakarta, Minggu 18 Mei 2026.

Lebih lanjut, Tito mengingatkan kewaspadaan tetap diperlukan pada komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, hingga daging ayam dan sapi. 

Ia menilai peran intervensi lintas lembaga mulai terlihat, tercermin dari penurunan harga di sejumlah daerah.

Data Indeks Perkembangan Harga (IPH) minggu kedua Mei menunjukkan daging ayam ras mengalami penurunan di 232 kabupaten/kota, sementara telur ayam ras turun di 246 kabupaten/kota. 

Tren ini dinilai sebagai dampak intervensi Perum Bulog, Badan Pangan Nasional, dan Kementerian Pertanian. 

Namun, di balik penurunan harga di tingkat konsumen, tekanan justru terjadi di tingkat produsen.

Pemerintah kini menghadapi dilema kebijakan yakni menjaga harga konsumen tetap stabil, tetapi di sisi lain memastikan harga di tingkat peternak tidak jatuh terlalu dalam hingga merugikan produksi.

Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah mendorong penyerapan hasil peternak dan intervensi jagung pakan melalui skema SPHP. 

Harga jagung SPHP ditetapkan Rp 5.000–Rp 5.500 per kg, lebih rendah dari harga pasar sekitar Rp 6.700 per kg. 

Penyaluran SPHP jagung oleh Perum Bulog tercatat telah mencapai 5,97 ribu ton hingga 17 Mei 2026, dengan dominasi distribusi di Jawa Timur.

Pemerintah turut menyebut meski inflasi tahunan masih terjaga di level 2,42 persen pada April, risiko volatilitas belum sepenuhnya hilang, terutama akibat faktor eksternal seperti harga minyak dan fluktuasi nilai tukar. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.