TRIBUNTRENDS.COM - Suasana haru menyelimuti kepulangan sembilan relawan Indonesia peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla II yang sempat ditahan tentara Israel. Di balik kepulangan mereka ke Tanah Air, tersimpan kisah penuh tekanan, kekerasan, hingga aksi mogok makan yang dilakukan para aktivis selama berada dalam tahanan.
Salah satu relawan asal Indonesia, Hendro Prasetyo, mengungkap pengalaman mencekam yang dialaminya selama ditahan sejak 18 hingga 21 Mei 2026.
Saat tiba di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026), Hendro mengatakan dirinya bersama aktivis lain memilih melakukan aksi mogok makan karena tidak yakin terhadap keamanan makanan dan minuman yang diberikan tentara Israel.
Baca juga: Skenario Pemulangan 9 WNI dari Cengkeraman Israel: Turkiye Siapkan 3 Pesawat Turkish Airlines
Menurut Hendro, tentara Israel sempat memberikan roti dan air minum kepada para tahanan. Namun para aktivis merasa khawatir makanan maupun minuman tersebut tidak aman untuk dikonsumsi.
"Kita enggak tahu apakah ada racun atau enggak gitu. Sehingga ya pasti dari saya sendiri melakukan hunger strike (mogok makan), tidak makan rotinya sama sekali," ujar Hendro.
Meski demikian, ia mengaku akhirnya tetap minum karena kondisi tubuh mengalami dehidrasi berat selama berada dalam tahanan.
"Tapi karena dehidrasi itu sangat enggak bisa saya tahan, jadi minum (dari keran)," tuturnya.
Hendro menjelaskan, kondisi para tahanan semakin sulit setelah mereka dipindahkan ke kapal induk Israel dan dimasukkan ke dalam ruang penjara berbentuk kontainer.
Di lokasi itu, air minum hanya diberikan dalam jumlah terbatas untuk puluhan orang.
"Jadi kita minum air keran, bahkan dikasih kayak teko itu pun teko dibagi untuk 30 orang," tutur Hendro.
Hendro menceritakan, penahanan bermula saat sejumlah drone mulai mengitari kapal yang membawa relawan Global Sumud Flotilla II menuju Gaza.
Situasi yang dianggap tidak aman membuat seluruh awak kapal menghentikan akses komunikasi dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
"Kita mulai pakai semacam life jacket. Kemudian memastikan alat komunikasi kita harus kita buang karena khawatir akan dimanfaatkan Israel dan segala informasinya akan tersebar," ungkap Hendro.
Baca juga: Menlu Video Call dengan 9 WNI yang Dibebaskan Israel: Alhamdulillah Kami Sehat Meski 4 Hari Disiksa
Tak lama kemudian, sejumlah tentara Israel datang menggunakan speedboat dan memindahkan para aktivis ke kapal tanker sebelum akhirnya dibawa ke kapal utama milik Israel.
Di kapal itulah para relawan dimasukkan ke penjara kontainer yang disebut Hendro sangat gelap dan penuh intimidasi.
"Nah, di situ baru ada penyiksaan khusus dalam satu kontainer yang sangat-sangat gelap. Tapi saya alhamdulillah masih bisa melihat ada tiga tentara Israel dengan badan besar menggunakan senjata panjang," tuturnya.
Menurut Hendro, para tahanan mengalami kekerasan fisik selama berada di penjara kontainer tersebut.
Ia mengaku para aktivis dipukul, ditendang, hingga disetrum menggunakan senjata listrik yang dibawa tentara Israel.
"Karena ketika ditendang, dipukul dan sebagainya, enggak ada respons gitu. Jadi disetrum adalah penyiksaan yang paling menyakitkan buat saya," jelas Hendro.
Baca juga: Kabar 9 WNI yang Disiksa Israel, Berhasil Dievakuasi ke Istanbul, Menlu Sugiono: Proses Pemulangan
Selain kekerasan fisik, para tahanan juga disebut mengalami tekanan psikologis berupa ledakan keras yang sengaja diarahkan ke dekat kontainer penjara.
"Ada bom peledakan gitu loh, diarahkan ke kontainer. Jadi kan suaranya besar. Pagi-pagi itu diminta supaya aktivis pada bangun," ungkapnya.
Menurut Hendro, beberapa relawan sebenarnya berada dalam kondisi sakit dan membutuhkan istirahat. Namun mereka tetap dipaksa bangun oleh tentara Israel.
"Padahal mereka masih ada yang sakit, masih butuh istirahat, dipaksa bangun," katanya.
Hendro mengatakan para aktivis akhirnya bisa dibebaskan setelah adanya bantuan dari tim hukum Global Sumud Flotilla.
Ia bersama delapan relawan Indonesia lainnya akhirnya dipulangkan dan tiba kembali di Indonesia pada Minggu sore sekitar pukul 16.52 WIB.
***
(TribunTrends/Kompas)