Padang (ANTARA) - Kopi akhir pekan memang selalu terasa lebih nikmat, apalagi ketika diseruput sambil menikmati pertunjukan tari tradisional yang memukau.

Begitulah suasana yang hadir di Fabriek Blok pada Sabtu (24/5) malam. Kafe yang berada di utara Kota Padang, tepat di pinggir Jalan Prof Dr Hamka itu, mendadak berubah menjadi ruang pertunjukan budaya yang hangat dan hidup.

Di bawah langit malam yang cerah, para penari menggerakkan tubuh mereka dengan ritme yang teratur dan indah, menyatu dengan alunan musik khas Melayu yang mengiringi penampilan.

Ada semacam benang halus yang mengikat pandangan penonton. Mata seolah dipaksa mengikuti setiap gestur yang dimainkan para penari, mulai dari gerakan kaki, bahu, pinggang, jemari, tangan, hingga lenggok leher dan ekspresi wajah yang penuh penghayatan.

Sebanyak 80 penari tampil malam itu. Mereka tampil berkelompok dengan balutan pakaian tradisional dari berbagai daerah di Pulau Sumatra.

Bukan hanya busana khas Minangkabau yang mendominasi sebagai identitas mayoritas masyarakat Sumatera Barat, tetapi juga ragam kostum dari etnis lain di Sumatra yang turut memperkaya panggung pertunjukan.

Para penari merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP).

Mereka sengaja hadir di ruang publik untuk memperkenalkan tari tradisi kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, melalui pertunjukan bertajuk “Langgam Ranah Sumatra”.

Delapan karya tari ditampilkan malam itu, seluruhnya berakar dari seni tradisional Sumatra, mulai dari Aceh, Lampung, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.

Beberapa karya yang dipentaskan di antaranya “Pusaka Irama Gayo”, “Gemulai Serumpun”, “Suhul Ni Dolok”, dan “Tari Piriang Galatiak”.

“Pusaka Irama Gayo” dari Aceh merupakan tari kreasi yang berakar dari Tari Saman. Tarian itu menggambarkan kekayaan budaya masyarakat Gayo yang diwariskan turun-temurun sebagai pusaka berharga.

Melalui gerakan yang serempak, cepat, dan penuh kekompakan, para penari menghadirkan semangat kebersamaan, disiplin, dan persatuan yang menjadi ciri khas Tari Saman.

Irama tepukan tangan, dada, serta lantunan syair yang berpadu harmonis mencerminkan kehidupan masyarakat Gayo yang menjunjung tinggi adat, agama, dan solidaritas.

Setiap perubahan tempo dalam tarian menjadi simbol dinamika kehidupan, mulai dari ketenangan, kebersamaan, hingga semangat yang menyala dalam menjaga warisan budaya.

Sementara itu, “Gemulai Serumpun” dari Lampung dibawakan oleh 14 penari dengan memadukan kelembutan Tari Bedana dan ritme Tari Zapin.

Dalam penampilannya, para penari menggunakan kipas, selendang, serta properti Menara Siger sebagai simbol kehormatan dan kemuliaan.

Gerakan yang anggun dan serempak menggambarkan kebersamaan, persatuan, serta identitas budaya masyarakat Lampung.

Lewat perpaduan gerak yang harmonis, tari tersebut mengajak penonton merayakan keberagaman dan menunjukkan bahwa hidup akan terasa indah ketika dijalani dengan saling menghormati.

Dari Sumatera Utara, karya “Suhul Ni Dolok” merupakan pengembangan dari Tari Dolok Pusuk Buhit milik masyarakat Batak Toba.

Secara harfiah, “Suhul Ni Dolok” berarti gagang atau pegangan gunung, yang menggambarkan keteguhan prinsip, kuatnya pondasi hidup, dan kedalaman spiritualitas masyarakat Toba.

Tarian kreasi ini terinspirasi dari kesakralan Dolok Pusuk Buhit —gunung yang diyakini sebagai tempat asal-usul suku Batak— serta filosofi “suhul” sebagai simbol pegangan adat yang kokoh agar manusia tidak kehilangan jati diri.

Sementara “Tari Piriang Galatiak” dari Sumatera Barat menampilkan semangat, kelincahan, dan kegembiraan pemuda Minangkabau dalam mengekspresikan rasa syukur atas limpahan rezeki.

Properti piring yang dimainkan dengan ritme cepat dan dinamis membuat penampilan tari itu terasa hidup dan memikat.

Setiap karya yang ditampilkan sukses memukau pengunjung kafe malam itu. Bahkan, beberapa anak kecil yang menonton dari luar area pentas tampak ikut menirukan gerakan para penari.

Pertunjukan tersebut merupakan bagian dari kewajiban akademik mahasiswa Pendidikan Seni Tari untuk mata kuliah “Tari Industri Kreatif” dan “Tari Sumatra”.

Para dosen pengampu mata kuliah, yakni Nerosti dan Vina Aulya untuk “Tari Industri Kreatif”, serta Susmiarti untuk “Tari Sumatra”, turut hadir menyaksikan penampilan mahasiswa mereka.

“Mata kuliah Tari Industri Kreatif memang mendorong mahasiswa untuk mengakses ruang-ruang publik dan tampil di sana, sehingga apresiasi yang didapatkan menjadi lebih luas,” kata Nerosti.

Ia menilai generasi muda perlu diperkenalkan dengan seni tradisi dari berbagai daerah seperti Aceh, Minang, Batak, Lampung, hingga Bengkulu.

“Karya yang ditampilkan malam ini adalah tari kreasi, tetapi pijakan dasarnya tetap seni tradisi dari berbagai daerah di Sumatra,” ujarnya.

Menurutnya, pertunjukan semacam itu diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda bahwa Sumatra memiliki kekayaan seni tradisi yang sangat beragam.

Senada dengan itu, Susmiarti mengatakan seni tradisi merupakan ekspresi budaya masyarakat etnik di Sumatra yang harus terus dilestarikan sekaligus diperkenalkan kepada generasi penerus.

Sementara Vina Aulya menjelaskan bahwa proyek akhir mata kuliah Tari Industri Kreatif menuntut mahasiswa mampu “menjual jasa”, yang dalam konteks seni tari diwujudkan melalui pertunjukan.

Pihak kampus pun berkomitmen terus memajukan dunia tari tradisi melalui pembelajaran dan praktik, sekaligus memadukannya dengan pendekatan seni modern maupun kontemporer.

Salah seorang pengunjung kafe, Sani (36), mengaku mengapresiasi pertunjukan tari kreasi yang ditampilkan mahasiswa Pendidikan Seni Tari UNP tersebut.

Ia berharap kegiatan serupa terus dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat semakin mengenal berbagai seni tradisi dan dapat menikmatinya dalam kemasan pertunjukan yang kreatif dan segar.