Renungan Harian Katolik Senin 25 Mei 2026, Kasih Itu Selamanya
Gordy Donovan May 25, 2026 07:47 AM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Mari simak renungan harian Katolik Senin 25 Mei 2026.

Tema renungan harian Katolik "Kasih Itu Selamanya".

Renungan harian Katolik untuk Perayaan Wajib SP Maria Bunda Gereja, Santo Gregorius VII, Paus dan Pengaku Iman, Santa Magdalena Sofia Barat, Pengaku Iman, Santo Beda, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja, Santa Maria Magdalena de Pazzi, Perawan, dengan warna liturgi putih.

Adapun bacaan liturgi katolik hari Senin 25 Mei 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Bacaan Injil Katolik Senin 25 Mei 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

 

Bacaan Pertama Kejadian 3:9-15.20

Pada suatu hari, di Taman Eden, setelah Adam makan buah pohon terlarang, Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Ia menjawab, “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”

Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan!

Dengan perutmulah engkau akan menjalar, dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu! Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan itu, antara keturunanmu dan keturunannya.

Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 87:1b-3.4-5.6-7
Ref. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangun-Nya; Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion daripada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

Aku menyebut Rahab dan Babel di antara orang-orang yang mengenal Aku, bahkan tentang Filistea, Tirus dan Etiopia Kukatakan, “Ini dilahirkan di sana.” Tetapi tentang Sion dikatakan, “Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,” dan Dia, yang Mahatinggi, menegakkannya.

Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung,”Ini dilahirkan di sana.” Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai, “Semua mendapatkan rumah di dalammu.”

Bait Pengantar Injil
Ref. Alleluya, alleluya.

Berbahagialah engkau, Perawan yang mengandung Tuhan; engkaulah Bunda Gereja yang bersukacita yang mengandung dari Roh Kudus dan melahirkan Yesus Kristus, Putramu.

Bacaan Injil Yohanes 19:25-34

Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib sebab Sabat itu adalah hari yang besar maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

Maka datanglah prajurit-prajurit lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus; tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

"Kasih Itu Selamanya”

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat salah satu momen paling menyentuh dalam seluruh kisah sengsara Kristus. Di bawah salib, berdirilah Maria, ibu Yesus, bersama murid yang dikasihi-Nya. Dalam penderitaan yang begitu besar, Yesus masih memikirkan ibu-Nya dan menyerahkannya kepada murid-Nya. Lalu, setelah semuanya selesai, lambung-Nya ditikam, dan darah serta air mengalir keluar.

Inilah gambaran kasih yang sempurna: kasih yang tetap tinggal bahkan ketika dunia meninggalkan, kasih yang tetap memberi bahkan ketika tubuh terluka, kasih yang tidak berhenti sampai akhir.

Baca juga panduan lengkap di Renungan Katolik Harian untuk memahami cara melakukan renungan setiap hari secara mendalam.
Renungan Katolik Hari Ini: Tetap Berdiri di Tengah Penderitaan
Maria yang Tidak Pergi
Dalam refleksi Sabda Tuhan hari ini, ada satu sosok yang begitu kuat namun hening: Maria.

Injil tidak mencatat Maria berteriak. Tidak ada keluhan. Tidak ada kemarahan. Ia hanya berdiri di dekat salib Putranya.

Sikap Maria menjadi pelajaran besar bagi kehidupan iman kita. Kadang-kadang, cinta sejati tidak membutuhkan banyak kata. Kehadiran yang setia jauh lebih bermakna daripada ribuan nasihat.

Banyak orang mampu hadir saat hidup penuh sukacita. Namun tidak semua orang mampu bertahan ketika salib datang. Maria mengajarkan bahwa kasih sejati tetap tinggal bahkan ketika hati terluka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengalami banyak “kaki salib”:

saat keluarga mengalami masalah,
saat doa terasa tidak dijawab,
saat hati kecewa,
saat kehilangan orang yang dicintai,
saat hidup terasa berat dan melelahkan.
Sering kali kita ingin lari dari penderitaan. Kita ingin semuanya cepat selesai. Namun renungan harian Katolik ini mengajak kita belajar dari Maria: tetap tinggal bersama Tuhan bahkan dalam air mata.

Karena di kaki salib, iman dimurnikan.

Yesus yang Tetap Mengasihi Sampai Akhir

Di tengah penderitaan-Nya, Yesus berkata:

“Ibu, inilah anakmu.”
“Inilah ibumu.”

Perkataan ini bukan sekadar perhatian seorang anak kepada ibu-Nya. Gereja melihat bahwa pada saat itu, Maria juga diberikan sebagai ibu bagi seluruh umat beriman.

Artinya, di tengah penderitaan terbesar, Yesus masih memberikan kasih.

Betapa sering manusia berubah ketika terluka. Banyak orang menjadi keras hati karena kecewa. Banyak orang kehilangan kasih karena penderitaan. Tetapi Kristus justru semakin mencintai saat Ia menderita.

Inilah keagungan cinta ilahi.


Renungan Injil Yohanes hari ini mengingatkan bahwa kasih Kristus tidak pernah egois. Bahkan ketika tubuh-Nya dipaku di salib, hati-Nya tetap terbuka bagi manusia.

Sering kali kita berkata mencintai Tuhan, tetapi mudah marah kepada sesama. Kita rajin berdoa, tetapi sulit mengampuni. Kita ingin dekat dengan Tuhan, tetapi enggan peduli kepada keluarga sendiri.

Salib mengajarkan bahwa cinta sejati selalu memberi diri.

Darah dan Air yang Mengalir dari Lambung Kristus
Lambang Rahmat dan Kehidupan Baru
Ketika lambung Yesus ditikam, keluarlah darah dan air.

Para Bapa Gereja melihat ini sebagai lambang sakramen Gereja:

darah melambangkan Ekaristi,
air melambangkan Baptisan.
Dari hati Kristus lahirlah kehidupan baru bagi dunia.

Ini menunjukkan bahwa penderitaan Kristus bukan kekalahan. Dari luka-Nya justru mengalir keselamatan.

Kadang hidup kita juga terasa “tertikam” oleh banyak hal:

kegagalan,
penolakan,
pengkhianatan,
rasa kesepian,
ketidakpastian masa depan.
Namun Tuhan mampu mengubah luka menjadi rahmat.

Banyak orang kudus lahir dari penderitaan yang diterima bersama Kristus. Banyak jiwa menjadi dewasa justru setelah melewati air mata.

Refleksi Sabda Tuhan hari ini mengajak kita melihat bahwa Tuhan tidak pernah membuang penderitaan manusia. Ia mampu mengubah salib menjadi jalan keselamatan.

“Kesetiaan kepada Tuhan tidak bergantung pada penerimaan manusia.”
Berdiri Bersama Maria di Kaki Salib
Dalam kehidupan modern, manusia sering takut pada penderitaan. Dunia mengajarkan kenyamanan, kecepatan, dan kesenangan instan. Akibatnya, ketika masalah datang, banyak orang mudah putus asa.

Namun Injil hari ini mengajarkan spiritualitas yang berbeda:

tetap setia bersama Tuhan bahkan ketika hati terluka.

Maria tidak memahami sepenuhnya rencana Allah. Tetapi ia percaya.

Iman sejati memang tidak selalu mengerti semuanya. Kadang kita berjalan dalam kegelapan. Kadang jawaban Tuhan terasa diam. Tetapi orang yang percaya tetap bertahan.


Renungan Katolik hari ini mengajak kita bertanya:

Apakah aku tetap setia ketika doa belum dijawab?
Apakah aku masih percaya saat hidup terasa berat?
Apakah aku tetap tinggal dekat Tuhan ketika hati kecewa?
Di kaki salib, Maria mengajarkan iman yang dewasa.

Salib Bukan Akhir dari Segalanya
Harapan yang Lahir dari Luka

Peristiwa salib tampak seperti kekalahan. Namun justru dari sanalah kebangkitan dimulai.

Tuhan sering bekerja melalui jalan yang tidak dipahami manusia. Apa yang tampak hancur bisa menjadi awal rahmat baru.

Karena itu, jangan takut jika hidup sedang berat.

Mungkin hari ini:

ada doa yang belum terjawab,
ada beban keluarga,
ada kecemasan tentang masa depan,
ada rasa lelah dalam pekerjaan,
ada luka yang belum sembuh.

Datanglah ke kaki salib Kristus.

Yesus memahami penderitaan manusia karena Ia sendiri pernah menderita. Tidak ada air mata manusia yang asing bagi-Nya.

Dalam renungan harian Katolik ini, kita diajak percaya bahwa kasih Tuhan tetap bekerja bahkan ketika segalanya terasa gelap.

Menjadi Murid yang Tetap Tinggal
Murid yang dikasihi Yesus tetap tinggal di kaki salib ketika banyak murid lain melarikan diri.

Kesetiaan sejati terlihat saat situasi sulit.

Mengikuti Kristus bukan hanya tentang menerima berkat. Mengikuti Kristus juga berarti memikul salib bersama-Nya:

tetap jujur di tengah godaan,
tetap mengampuni saat disakiti,
tetap berdoa saat lelah,
tetap mengasihi ketika kecewa,
tetap berharap ketika dunia terasa gelap.
Inilah panggilan murid Kristus.

Refleksi Sabda Tuhan hari ini mengingatkan bahwa iman bukan sekadar emosi sesaat. Iman adalah keputusan untuk tetap tinggal bersama Tuhan apa pun keadaannya.

Belajar Mengasihi dari Salib Kristus
Kasih yang Mengorbankan Diri
Salib adalah sekolah cinta sejati.

Dunia sering mengajarkan cinta yang mencari keuntungan:

mencintai jika dihargai,
membantu jika dibalas,
setia jika menguntungkan.
Namun Kristus menunjukkan cinta yang berbeda:

kasih yang memberi diri sepenuhnya.

Kasih seperti inilah yang dibutuhkan dunia hari ini.

Keluarga membutuhkan kasih yang sabar.

Persahabatan membutuhkan kesetiaan.

Gereja membutuhkan hati yang rela melayani.

Dunia membutuhkan orang-orang yang membawa damai.

Dan semua itu lahir ketika kita belajar dari salib Kristus.

Penutup Renungan Katolik Hari Ini

Bacaan Injil Yohanes 19:25-34 membawa kita masuk ke suasana kaki salib: tempat kasih diuji, iman dimurnikan, dan harapan dilahirkan kembali.Kekristenan

Maria berdiri dengan setia.

Yesus tetap mengasihi sampai akhir.

Dan dari lambung Kristus mengalir kehidupan baru.

Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk tidak lari dari salib kehidupan. Sebaliknya, Ia mengundang kita datang lebih dekat kepada hati-Nya.

Karena di kaki salib, kita belajar:

arti kasih sejati,
arti kesetiaan,
arti pengorbanan,
dan arti harapan yang tidak pernah padam.
Semoga renungan Katolik hari ini membantu kita semakin dekat kepada Kristus dan semakin setia berjalan bersama-Nya dalam setiap musim kehidupan. Amin.  (sumber the katolik.com/kgg).

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.