TRIBUNPAPUABARAT.COM, FAKFAK – Ratusan warga Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menggelar Nonton Bareng (Nobar) akbar film dokumenter "Pesta Babi" pada Minggu malam (24/5/2026).
Pantauan Tribunpapuabarat.com, kegiatan tersebut dipusatkan di pelataran Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Pekerja Brongkendik, Fakfak Tengah. Nobar berlangsung aman, kondusif, dan lancar.
Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan rasa syukur dapat menyaksikan film tersebut.
“Kalau sa (saya) menilai, situasi di film dokumenter itu memang nyata adanya dan kitong lihat serta rasakan di Tanah Papua,” ujarnya.
Ia menyampaikan keprihatinan atas praktik perampasan tanah adat oleh negara.
Menurutnya, film itu menyoroti penggunaan aparat keamanan non-organik di Papua yang sejatinya bukan untuk melindungi masyarakat dari kelompok bersenjata, melainkan menjaga kepentingan oligarki.
“Tidak usah jauh-jauh, di Fakfak saja yang paling aman di Tanah Papua, ratusan militer non-organik dikirim,” jelasnya.
Baca juga: Polisi Hormati Kebebasan Berekpresi Warga Papua Barat Saat Nobar Film "Pesta Babi"
Warga tersebut menilai film "Pesta Babi" membuka mata banyak orang, termasuk yang tidak tinggal di Papua, bahwa kehadiran militer memiliki agenda lain di balik narasi pengamanan masyarakat.
“Film ini harus ditonton semua orang di Fakfak agar membuka mata dan menjernihkan pikiran melihat secara utuh konteks masalah di Papua,” pungkasnya.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merupakan karya jurnalis Dandhy Dwi Laksono bersama antropolog Cypri Dale.
Film ini menyoroti perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan, seperti Suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, dalam mempertahankan ruang hidup serta tanah leluhur dari ancaman eksploitasi lahan skala besar.
Judul "Pesta Babi" sendiri menjadi metafora atas kondisi di mana korporasi, elite, dan pemodal berpesta pora di atas penderitaan serta perampasan ruang hidup masyarakat adat setempat.