SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON - Warga Desa Blang Reubek, Kecamatan Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, yang sebelumnya mengungsi akibat semburan gas dan api dari sumur bor mulai kembali ke rumah masing-masing, Sabtu (23/5/2026).
Dari sekitar 80 jiwa yang sempat mengungsi, kini hanya sebagian kecil warga yang masih bertahan di tempat pengungsian karena khawatir terjadi ledakan susulan dari lokasi sumur tersebut. Selain itu, semburan api dari sumur bor juga dilaporkan semakin mengecil meski belum sepenuhnya padam.
Keuchik Desa Blang Reubek, Zulkarnaini, kepada Serambi, mengatakan warga yang masih mengungsi sebelumnya tersebar di beberapa lokasi, terutama di rumah kerabat mereka di luar desa. “Ada yang mengungsi ke rumah familinya di Kecamatan Tanah Luas, Syamtalira Aron, dan juga ada di kawasan Lhoksukon, tetapi bukan di Desa Blang Reubek,” ujar Zulkarnaini.
Menurutnya, sumur tersebut awalnya dibor untuk memenuhi kebutuhan air bagi areal persawahan masyarakat dan kebutuhan air bersih warga. Namun, saat proses pengeboran berlangsung, tiba-tiba muncul semburan gas bercampur lumpur yang kemudian memicu kobaran api.
Peristiwa itu sempat membuat warga yang tinggal di sekitar lokasi panik dan memilih mengungsi demi menghindari kemungkinan risiko yang lebih besar. “Sekarang warga yang masih mengungsi tinggal sedikit lagi karena sebagian besar sudah mulai pulang ke rumah masing-masing,” katanya.
Meski menimbulkan kepanikan, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, aparat kepolisian telah memasang garis polisi (police line) di sekitar lokasi dan melarang warga mendekati area sumur.
“Polisi sudah memasang police line sambil menunggu penanganan teknis dari pihak berwenang terkait sumber semburan gas tersebut,” ujar Zulkarnaini.
Mulai Mengecil
Ia menambahkan, semburan api dari sumur bor kini juga mulai mengecil dibanding saat awal kejadian, meski belum sepenuhnya padam. Langkah pengamanan turut melibatkan unsur TNI dan pemerintah kecamatan guna memastikan warga tetap berada pada jarak aman dari lokasi kejadian.
Sementara itu, Kepala Seksi Humas Polres Aceh Utara, AKP Bambang Sutrisno, mengatakan pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab munculnya semburan gas yang disertai api dari sumur bor tersebut.
Menurutnya, kobaran api saat kejadian sempat mencapai ketinggian lebih dari 50 meter sehingga menimbulkan kepanikan warga sekitar. “Kami mengimbau sementara waktu warga tidak mendekat ke lokasi. Walaupun apinya sudah mulai mengecil, kami belum menerima laporan dari tim teknis terkait tingkat keamanan sumur bor tersebut,” katanya.
Hingga Sabtu malam, aparat keamanan masih berjaga di sekitar lokasi sambil menunggu hasil pemeriksaan tim teknis untuk memastikan kondisi sumur dan lingkungan sekitar benar-benar aman sebelum seluruh warga diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.(jaf)
APARAT Desa Blang Rubek, Kecamatan Lhoksukon, Aceh Utara, memasang spanduk larangan mendekati lokasi sumur bor yang mengeluarkan semburan gas dan api, Sabtu (23/5/2026). Langkah tersebut dilakukan karena lokasi kejadian mulai ramai didatangi warga dari berbagai daerah yang penasaran ingin melihat langsung fenomena tersebut.
Spanduk bertuliskan “DILARANG!! MENDEKATI AREA SUMUR BOR GAS” dipasang di sejumlah akses menuju lokasi sumur. Selain itu, aparat desa bersama kepolisian juga memasang garis pembatas guna mencegah masyarakat memasuki kawasan yang dinilai masih berbahaya.
“Spanduk larangan tersebut kami pasang demi keselamatan warga karena kondisi di sekitar sumur belum dinyatakan aman oleh tim teknis,” ujar Keuchik Blang Rubek, Zulkarnaini, kepada Serambi.
Menurutnya, meskipun garis polisi telah dipasang, masih banyak warga dari berbagai desa yang datang ke lokasi untuk melihat langsung sumur yang sempat mengeluarkan kobaran api tinggi tersebut. Bahkan, kata dia, sejumlah anak-anak terlihat mencoba memasuki area yang seharusnya steril dari aktivitas masyarakat. “Kami meminta masyarakat tidak memasuki area semburan gas karena sangat membahayakan keselamatan,” katanya.
Zulkarnaini menjelaskan, pemerintah desa bersama aparat keamanan terus melakukan pengawasan dan sosialisasi kepada warga agar tidak mendekati lokasi semburan. Langkah itu dilakukan untuk menghindari risiko yang dapat ditimbulkan dari semburan gas yang hingga kini masih dipantau pihak berwenang.
“Pengawasan terus dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Kami mengimbau masyarakat menjaga jarak aman dan mematuhi larangan,” ujarnya.
Selain aparat desa dan kepolisian, petugas dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan juga telah turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan awal terhadap kondisi di sekitar sumur bor tersebut.(jaf)