ASN Lampung Tewas Ditembak, Dimakamkan di TPU 16C Metro Barat
taryono May 25, 2026 12:19 PM

Tribunlampung.co.id, Kota Metro - Dedi Kristian Agung (40), Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Perkebunan, Peternakan, dan Perikanan Lampung Tengah, tewas setelah ditembak seorang pria berinisial F (21).

Peristiwa tragis itu terjadi di Jalan Khairbras Jembatan Hitam, Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro, pada Sabtu (24/5/2026) sekitar pukul 19.50 WIB.

Korban yang juga dikenal sebagai pedagang ayam geprek tersebut dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) 16C Metro Barat pada Minggu (25/5/2026). 

Prosesi pemakaman berlangsung penuh duka dan dihadiri keluarga, warga, rekan kerja, serta jajaran pemerintah daerah yang datang memberikan penghormatan terakhir.

Sejak jenazah disemayamkan di rumah duka hingga diberangkatkan ke TPU, pelayat terus berdatangan. Di antara para pentakziah tampak Wali Kota Metro bersama aparat setempat yang hadir untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.

Tragedi penembakan tersebut meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Vita Lestari, istri almarhum, mengaku menyaksikan langsung peristiwa itu bersama kedua anak mereka yang masih kecil, masing-masing berusia 7 tahun dan 3 tahun, saat korban sedang berjualan ayam geprek.

“Anak saya langsung teriak, ‘Ayah kenapa, Bu? Ayah kenapa?’,” ungkap Vita, Minggu (25/5/2026).

Vita mengaku mengalami syok berat dan tidak mampu berbuat banyak saat kejadian berlangsung. Menurutnya, warga sekitar juga sempat takut mendekat untuk memberikan pertolongan karena pelaku masih menodongkan senjata api.

Korban baru dapat dievakuasi sekitar 15 menit kemudian oleh petugas Babinsa dan warga setelah pelaku melarikan diri.

Namun, nyawa korban tidak tertolong akibat luka tembak yang dideritanya.

Vita menyebut peristiwa berdarah itu dipicu persoalan utang piutang. Sebelum penembakan terjadi, sempat terjadi cekcok mulut hingga perkelahian fisik antara korban dan pelaku.

Ia juga menduga aksi tersebut telah direncanakan sebelumnya. Menurutnya, pelaku kerap melontarkan ancaman setiap kali bertemu dengan korban.

Sebagai istri korban, Vita meminta aparat penegak hukum bertindak transparan dan menjatuhkan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku tanpa intervensi pihak mana pun.

“Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Jangan ada backing apa pun. Suami saya meninggal meninggalkan dua anak yang masih kecil,” ujar Vita.

Wabup Minta Maaf

Wakil Bupati Romli menyampaikan permohonan maaf usai warganya, F (21), menyerahkan diri dalam kasus penembakan terhadap ASN Lampung Tengah, Dedi Kristian Agung (40). 

Romli datang langsung mendampingi pelaku bersama keluarga saat proses penyerahan diri di Mapolres Lampung Utara, Minggu (24/6/2026). 

“Saya mewakili perwakilan dari Lampung Utara menyampaikan permohonan maaf,” kata Romli. Ia menilai peristiwa tersebut telah menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat Lampung.

Pelaku F tiba di Mapolres Lampung Utara didampingi ayah dan keluarganya.

 Penyerahan diri itu turut disaksikan Dirreskrimum Polda Lampung Kombes Pol Indra Hermawan. 

Kasus penembakan yang menewaskan Dedi Kristian Agung, seorang ASN yang juga berjualan ayam geprek, sebelumnya menjadi perhatian publik setelah pelaku sempat buron.

Romli menegaskan pihaknya menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. 

Menurut dia, institusi Polri akan bekerja sesuai prosedur yang berlaku dalam menangani perkara tersebut. 

“Kami percaya dengan institusi Polri dalam penegakan hukumnya. Kami serahkan sepenuhnya, mohon kiranya dapat dibimbing dan diluruskan apa yang menjadi harapan kita semua,” ujar Romli.

Ia juga mengapresiasi kerja aparat kepolisian dari Polres Metro, Polres Lampung Utara hingga Polda Lampung yang terus melakukan pengejaran terhadap pelaku. 

Romli mengaku memahami kerja keras petugas yang disebutnya sampai tidak beristirahat demi mengungkap kasus tersebut. 

“Karena ulah warga kami dan kami mohon maaf dan sekali lagi mohon maaf,” kata dia.

Korban Tinggalkan 2 Anak Masih Kecil

Duka mendalam menyelimuti keluarga Dedi Kristian Agung (40). 

Kepergian tragis Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Perikanan Lampung Tengah tersebut meninggalkan seorang istri, Vita Lestari, dan dua anak yang masih kecil. 

Bocah-bocah malang itu terpaksa menyaksikan langsung momen mengerikan saat sang ayah tersungkur bersimbah darah setelah diterjang peluru panas di Kelurahan Ganjar Asri, Kecamatan Metro Barat, Kota Metro.

Peristiwa kelam ini bermula saat korban sedang menemani istrinya berdagang ayam geprek sampingan mereka. Tiba-tiba, seorang pria datang menghampiri Dedi yang kala itu tengah duduk santai. 

Kehadiran pelaku awalnya dianggap sebagai obrolan biasa oleh korban, yang juga merasa sungkan karena lokasi tersebut berada tepat di depan pemilik usaha pencucian mobil setempat.

Namun, suasana santai tersebut mendadak berubah tegang ketika pelaku mulai tersulut emosi.

“Awalnya suami saya mengira hanya mengobrol biasa. Mungkin dia juga sungkan karena di depan bos pemilik tempat cucian itu. Tapi saya tidak tahu kenapa pelaku kemudian emosi,” ujar Vita dengan suara bergetar saat diwawancarai, Minggu (24/5/2026).

Adu mulut pun tidak terhindarkan hingga memicu perkelahian fisik. Pelaku sempat melayangkan pukulan namun meleset, yang kemudian langsung dibalas oleh korban. Situasi kian mencekam saat pelaku berbalik badan, merogoh tas selempang kecilnya, dan mengeluarkan senjata api.

“Pas balik badan, tahu-tahu dia langsung menghadap suami saya dan nembak begitu saja. Pistolnya dikeluarkan dari tas selempang kecil. Setelah itu suami saya langsung tersungkur,” kata Vita melanjutkan.

Vita menduga kuat bahwa insiden berdarah ini dilatarbelakangi oleh masalah utang piutang. Berdasarkan ingatan sang istri, pelaku memang kerap melontarkan ancaman pembunuhan setiap kali mereka berpapasan sebelumnya.

“Suami saya sempat bilang ke pelaku, ‘Kamu selalu ngancam saya mau nembak saya.’ Jadi sepertinya pelaku memang sudah menyiapkan senjata itu dari awal,” tuturnya.

Ketakutan sempat mencekam lokasi kejadian pasca-penembakan. Warga sekitar tidak ada yang berani mendekat karena pelaku terus menodongkan senjatanya ke segala arah.

Korban baru bisa dievakuasi sekitar 15 menit kemudian setelah petugas Babinsa bersama warga melarikan Dedi ke rumah sakit, meski akhirnya nyawanya tetap tidak tertolong.

Saat ini, jenazah korban telah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) 16C Metro Barat. Sementara itu, pihak Polres Metro telah mengamankan pelaku dan sedang mendalami asal-usul kepemilikan senjata api ilegal serta motif aslinya.

Menghadapi kenyataan pahit ini, Vita menegaskan agar aparat penegak hukum bertindak tegas tanpa pandang bulu demi keadilan suami dan masa depan kedua buah hatinya.

“Saya cuma minta keadilan seadil-adilnya. Jangan ada backing apa pun. Suami saya meninggal dan meninggalkan dua anak yang masih kecil. Saya minta pelaku dihukum seberat-beratnya,” pungkas Vita.

(Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.