SRIPOKU.COM, PALEMBANG – Rencana Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), melakukan safari politik atau tour ke berbagai wilayah di Indonesia termasuk ke Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai bukan sekadar agenda silaturahmi biasa.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal kuat bahwa Jokowi tengah mengonsolidasikan kekuatan politiknya menuju Pemilu 2029.
Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Palembang, Amrah Muslimin, menilai dipilihnya Provinsi Sumsel sebagai salah satu destinasi kunjungan sangatlah beralasan.
Sumsel merupakan salah satu lumbung suara potensial yang menempati posisi tiga besar pemilik suara terbanyak di Pulau Sumatera setelah Sumatera Utara dan Lampung.
"Kalau Jokowi keliling, wajarlah karena provinsi Sumsel ini potensi, memiliki tiga besar suara terbanyak di pulau Sumatera di bawah Sumut dan Lampung. Di mana selisih pemilih hanya ratusan ribu saja antara Lampung dengan Sumsel," ujar Amrah, Senin (24/5/2026).
Dijelaskan mantan ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumsel ini, dengan Jokowi keliling dengan membawa panji PSI, pastinya Jokowi ingin pada pemilu 2029 nanti PSI bisa lolos ke Senayan.
"Kita tahu, di Sumsel pada pemilu dua kali sebelumnya tidak banyak memperoleh suara, dan indikator raih suara pemilu waktu itu sangat kecil, sehingga Jokowi perlu turun untuk keliling, karena Sumsel dianggap salah satu lumbung suara di Sumatera," jelasnya.
Diungkapkan dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang tersebut, saat ini PSI masih membutuhkan sosok Jokowi untuk menjual PSI ke masyarakat.
"Kenapa Jokowi? karena PSI membutuhkan figur, karena potik kita sampai saat ini dominan mengutamakan figur, itulah menjadi salah satu dasar memilih di Indonesia ini adalah figur, dan Jokowi dianggap PSI dari hasil survei masih cukup tinggi di Survei. Sehingga wajar saja Jokowi keliling, dan bukan saja di Palembang atau Sumsel, tetapi di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Ditambahkan Amrah, PSI harus bisa memanfaatkan moment 'Jokowi turun gunung tersebut', dengan memunculkan kader- kader potensial, yang akan bertarung dalam Pemilu Legislatif (Pileg) 2029 mendatang, sehingga keinginan untuk lolos di Senayan terwujud.
"Untuk potensi, ketika Jokowi keliling harus juga dimanfaatkan PSI. Bagaimana? Dengan memunculkan calon-calon potensial. Saya berpengalaman di 4 kali pemilu terakhir, dan saya lihat ketokohan yang dimunculkan di PSI masih kurang," bebernya.
Namun, pasca pemilu 2024, PSI di Sumsel diungkapkan Amrah mulai berbenah. Salah satu contoh Ketua PSI Sumsel saat ini dipegang mantan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) Heri Amalindo, yang merupakan eks politikus PDIP.
"Nah di sini, Heri Amalindo merekrut beberapa mantan politikus PDIP yang cukup lama, seperti ketua PSI OKI (Ogan Komering Ilir) dan beberapa daerah juga di Sumsel, merekrut politikus yang memiliki basis massa di daerahnya," paparnya.
Dilanjutkan Amrah, kehadiran Jokowi dianggap relevan untuk menarik simpatik dan menyampaikan ke masyarakat, bahwa dalam politik sampai 2029 nanti jika ia saat ini berada (mendukung) di PSI.
"Dengan demikian, masyarakat bisa mengalihkan pilihan ke Jokowi . Tentu ini akan berimbas ke partai lain. Kalau Jokowi tur ke Indonesia untuk PSI bisa saja meningkatkan elektabilitas PSI, dan tentunya akan memakan korban partai lain elektabilitasnya turun. Jadi lihat saja apakah elektabilitas PSI justru akan menggerus suara partai lain yang selama ini identik dengan Jokowi atau tidak, itu tentu pertarungan politik dan PDIP bersama partai lainnya akan kita lihat," tukasnya.
Diterangkan Amrah, selaku pengamat politik ia menyarankan PSI harus memanfaatkan moment ini degan baik.
Sebab, kalau hanya mengandalkan figur Jokowi tanpa tindakan yang mendukung elektabilitas masyarakat, pastinya akan sia-sia.
"Jadi, PSI harus menyiapkan kader terbaiknya, seperti caleg yang potensial berkualitas dengan melakukan gerakan simpatik, dan melakukan sosialisasi ke desa- desa, pastinya ini positif sekali." pungkasnya.