SURYA.CO.ID, SURABAYA - Universitas Airlangga (Unair) Surabaya mencatat adanya perubahan tren dalam penerimaan mahasiswa baru tahun 2026.
Kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan vokasi, disebut meningkat signifikan dan mulai bersaing dengan program sarjana akademik (S1) pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026.
Rektor Unair, Prof Dr Muhammad Madyan, mengatakan karakter pendidikan vokasi yang lebih praktis dan berorientasi pada kesiapan kerja menjadi salah satu faktor utama meningkatnya minat calon mahasiswa.
“Pendidikan vokasi kami memang didesain fokus pada aspek vokasional agar lulusannya bisa lebih cepat terserap di dunia kerja,” ujarnya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, tingginya minat juga terlihat dari pola pilihan peserta SNBT.
Lebih dari 50 persen calon mahasiswa yang lolos di program vokasi, ternyata menempatkan program tersebut sebagai pilihan ketiga saat pendaftaran.
Prof Madyan menjelaskan, sejumlah program Diploma 3 (D3) di Unair kini mulai ditingkatkan menjadi Diploma 4 (D4).
Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan industri, sekaligus menjawab kebutuhan mahasiswa yang ingin mendapatkan kompetensi sarjana terapan.
“Program D3 yang orientasi kerjanya cepat sudah kami tingkatkan menjadi D4, untuk mengakomodasi kebutuhan mahasiswa yang menginginkan masa studi lebih panjang dengan kompetensi sarjana terapan,” jelasnya.
Untuk memperkuat link and match dengan dunia industri, Unair juga berencana melibatkan lebih banyak praktisi dalam penyusunan dan pembaruan kurikulum.
Berikut fokus penguatan pendidikan vokasi di Unair:
Selain membahas tren pendidikan vokasi, Unair juga menegaskan komitmennya menjaga integritas seleksi Jalur Mandiri.
Prof Madyan menyebut, pihak kampus telah mengevaluasi berbagai modus kecurangan dari tahun-tahun sebelumnya, termasuk praktik perjokian.
“Kami sudah mengantisipasi segala bentuk potensi kecurangan untuk Jalur Mandiri nanti. Pengamanan dilakukan mulai pemeriksaan fisik menggunakan metal detector, hingga pencocokan dokumen dan wajah peserta secara langsung di ruang ujian,” tegasnya.
Ia menambahkan, Unair juga menyiapkan mekanisme pengamanan tambahan yang tidak dipublikasikan demi efektivitas pengawasan.
Terkait kuota penerimaan, Unair menetapkan rata-rata kuota Jalur Mandiri sebesar 48 persen, sesuai batas maksimal regulasi pemerintah sebesar 50 persen.
Namun, kuota tersebut tidak sama di setiap program studi.
Beberapa program studi dengan tingkat persaingan tinggi, hanya membuka kuota jalur Mandiri sekitar 20 hingga 30 persen.
“Program studi Kedokteran tetap menjadi jurusan dengan tingkat persaingan paling ketat,” lanjut Prof Madyan.
Di sisi lain, Prof Madyan, memastikan tidak ada kenaikan uang kuliah tahun ini, termasuk untuk program studi Kedokteran.
Namun, Unair melakukan perubahan skema Iuran Pengembangan Institusi (IPI) dengan menerapkan sistem tarif tunggal atau single tariff.
Sebelumnya, IPI memiliki beberapa kategori nominal sesuai pilihan saat pendaftaran. Kini sistem tersebut disederhanakan menjadi satu tarif tetap.
“Perubahan ini kami lakukan agar sistem pembayaran lebih transparan, adil dan memberikan kepastian bagi orang tua mahasiswa,” ujarnya.
Sementara itu, skema Uang Kuliah Tunggal (UKT) tetap dipertahankan dengan dua kategori seperti sebelumnya.
Menutup keterangannya, Prof Madyan, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada oknum atau calo yang menjanjikan kelulusan melalui jalur tidak resmi.
Ia menegaskan, satu-satunya penentu kelulusan jalur Mandiri di Unair adalah nilai tes murni peserta.