TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Riuh rendah suara yel-yel penyemangat seketika pecah di pelataran Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogtakarta, Senin (25/5/2026) siang.
Di bawah langit Bulaksumur yang berarak awan syahdu, lautan manusia yang kompak mengenakan busana adat Jawa tampak berseri-seri dan penuh antusiasme.
Mereka menggenggam gelas-gelas kecil berisi jamu berwarna kuning keemasan, hingga cokelat hangat, untuk diangkat tinggi-tinggi dan ditunjukkan pada khalayak.
Begitu aba-aba dimulai, secara serentak ribuan orang di sana meneguk jamu, yang membuat wangi khas rempah kunir asam dan beras kencur seketika menguar di udara.
Rentetan aktivitas di kampus kerakyatan ini menandai hegemoni puncak peringatan Hari Jamu Nasional untuk tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Karena digelar secara hybrid, ratusan kelompok masyarakat dari lima kabupaten/kota di DIY, desa-desa binaan, rumah sakit, fakultas, hingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI), ikut tersambung secara online.
Ketua Dewan Jamu Indonesia DIY, Prof Nyoman Kertia, mengungkapkan, mereka yang terhubung via daring pun ikut melompat sejenak dari rutinitas demi satu tujuan, merayakan kearifan lokal medis Nusantara.
"Hari ini adalah gerakan minum jamu serentak untuk seluruh warga di DIY. Kita ingin kesadaran terkait jamu yang sudah mulai terbangun ini menjadi kian booming," katanya.
Di tengah gempuran kuliner modern dan gaya hidup yang arahnya semakin kebarat-baratan, tradisi jamu dewasa ini kerap diidentikkan sebagai minuman orang tua.
Dampak pergeseran budaya konsumsi ini nyata, di mana penyakit-penyakit seperti kencing manis, asam urat, kolesterol, hingga stroke, kian akrab mengintai generasi muda.
Tanpa mengesampingkan tindakan medis lain, Nyoman memandang, jamu merupakan jawaban alami untuk membendung tren penyakit modern tersebut.
Yogyakarta sendiri, lanjutnya, berkomitmen melindungi warisan ini melalui program komprehensif bertajuk Yogyakarta Sehat Lestari yang dipayungi Peraturan Gubernur Nomor 44 Tahun 2017.
"Jamu tradisional kita, seperti beras kencur dan kunir asam, kaya akan antioksidan yang bagus untuk mencegah penyakit jantung dan membuat awet muda. Kita punya ribuan jenis jamu di DIY. Melalui pilar Yogyakarta Wilayah Herbal, kita ingin masyarakat kembali ke kearifan lokal," jelasnya.
Baca juga: Cerita Jamu Tradisional Lugu Murni di Yogyakarta, Terus Rawat Tradisi Herbal Sejak 1953
Langkah jamu untuk benar-benar kembali ke marwahnya memang masih menyisakan pekerjaan rumah besar, terutama menyelaraskan persepsi antara dunia herbal tradisional dengan dunia kedokteran modern.
Menurutnya, perlu ada edukasi yang rapi agar tidak terjadi benturan, sehingga okter bisa meresepkan herbal asalkan statusnya sudah naik menjadi Herbal Terstandar (OHT) sebagai pendamping obat kimia,
"Atau Fitofarmaka yang bisa berdiri sendiri untuk pengobatan. Nanti kalau Fitofarmaka, dia boleh sendiri, kan ada aturannya. Jadi, memang tidak gampang, bisa langsung diresepkan dokter, tidak biaa begitu, ada aturannya," terangnya.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Danang Sri Hadmoko, menegaskan UGM memiliki komitmen multi-disiplin yang kuat untuk meneliti dan menghilirkan produk herbal.
Ia merinci, berbagai fakultas di UGM bergotong-royong membangun industri jamu masa depan, seperti Fakultas Farmasi yang aktif meneliti dan memiliki Kafe Jamu.
Kemudian, FKKMK giat melakukan riset medis, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) membedah jamu sebagai warisan budaya tak benda (intangible heritage), hingga Fakultas Pertanian yang menjaga keberlanjutan bahan baku.
Kini, meski beberapa industri jamu besar nasional sudah menerapkan standar tinggi setara perusahaan farmasi, UGM memandang aspek regulasi masih perlu dikawal ketat.
"Tantangan kita ke depan adalah advokasi kebijakan bersama Dinas Kesehatan dan pihak terkait. Bagaimana ke depan jamu itu benar-benar bisa diresepkan oleh dokter, tidak hanya sebagai pendamping, tetapi diterima sebagai bagian utuh dari proses pengobatan medis modern," tandasnya. (*)