Sambut Bhikkhu Thudong di Kepatihan, Sri Sultan HB X: Laku Ini Simbol Harmoni dan Kebinekaan
Muhammad Fatoni May 25, 2026 09:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, menerima kedatangan 57 bhikkhu peserta laku spiritual Thudong "Indonesia Walk for Peace 2026" di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta, Senin (25/5/2026) sore.

Tiba sekira pukul 15.46 WIB dengan iringan meriah atraksi barongsai, kehadiran para bhikku ini dimaknai oleh Sri Sultan HB X sebagai sebuah rajutan kedamaian yang mempertegas kekayaan keberagaman bangsa Indonesia.

Penyambutan ini merupakan titik krusial dari agenda Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, sebuah rangkaian kegiatan menyambut Waisak 2570 Buddhist Era (BE) Tahun 2026 yang dijadwalkan mencapai puncaknya di Candi Borobudur pada 28 Mei mendatang.

Di hadapan para bhikkhu dan segenap tamu undangan, Sri Sultan HB X menyoroti nilai historis dari lokasi penyambutan.

Kompleks Kepatihan, yang di masa silam merupakan kantor Pepatih Dalem sekaligus pusat birokrasi Kasultanan, dinilai sebagai tempat yang tepat untuk menyambut laku spiritual ini seraya mengenalkan kearifan lokal.

"Adalah suatu kehormatan, bahwasanya pada hari ini, Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat kehormatan untuk menyambut serta menerima Rombongan Bhikkhu peserta Indonesia Walk for Peace 2026, di sebuah Pendapa dalam Kompleks Kepatihan yang bersejarah ini. Di masa silam, kompleks bangunan ini adalah kantor Pepatih Dalem, selaku pemimpin birokrasi Kasultanan, dan menjadi tempat tinggal keluarga beserta para kerabatnya. Sejak dahulu, bangunan ini memang diperuntukkan untuk melayani masyarakat luas," papar Sri Sultan.

Nilai Filosofis

Bagi Raja Keraton Yogyakarta tersebut, perjalanan panjang yang ditempuh para bhikkhu mengandung nilai filosofis yang mendalam, selaras dengan upaya merawat laku kebangsaan.

"Indonesia Walk for Peace mencerminkan retrospeksi, atau sebuah refleksi perjalanan kehidupan. Ia adalah niti-laku, menengok jejak perjalanan sejarah dari masa ke masa, dan merevitalisasinya agar bermakna untuk masa kini dan masa yang akan datang. Bagi saya pribadi, Indonesia Walk for Peace bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah simbolisasi langkah maju, menuju masa depan bangsa yang harmonis dan bermartabat, melalui penyebaran energi positif dan harmoni antarumat beragama. Perjalanan ini juga mewujudkan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mempertegas, bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya adalah kekayaan yang menyatukan, bukan memisahkan bangsa," tegas Gubernur DIY secara lugas.

Sebagai penutup sambutannya, Sri Sultan menyampaikan doa dan penerimaan yang tulus atas laku pengorbanan tersebut. 

"Dengan pemaknaan seperti itulah, Saya menyambut perjalanan para Bhikkhu sebagaimana pendapa ini menyambut setiap tamu: dengan hati yang lapang, dengan kehangatan yang tulus, dan dengan doa yang terpanjatkan. Akhir kata, Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan melimpahkan kebaikan dalam anugerah-Nya, sehingga seluruh rangkaian perjalanan Indonesia Walk for Peace berjalan lancar, selamat, hingga paripurnanya," pungkas Sri Sultan.

Baca juga: Kisah Laku Spritual Thudong IWFP 2026, Berjalan Ratusan Kilometer hingga Jahit Luka Kaki Tiap Malam

Membelah Aspal Panas, Jahit Luka Telapak Kaki

Pemaknaan mendalam dari Gubernur DIY tersebut berdasar pada realitas laku spiritual yang sungguh berat.

Ekspedisi menempuh jarak 666 kilometer ini menuntut pengorbanan fisik yang luar biasa.

Sejak memulai perjalanan pada 7 Mei 2026 di Pulau Bali, rombongan harus membelah aspal panas menyusuri Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga menembus batas Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setiap harinya, mereka menargetkan berjalan kaki sejauh 30 hingga 40 kilometer di bawah sengatan suhu Pulau Jawa yang mencapai 36 derajat Celsius.

Ketua Panitia Pusat Indonesia Walk for Peace 2026, Tosin, memberikan kesaksian rinci mengenai penderitaan fisik yang dialami para peserta yang tetap dilalui tanpa keluhan.

"Perjalanan Indonesia Walk of Peace atau Jalan Damai ini mulai dari Pulau Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan nanti akan berakhir di Candi Borobudur. Sepanjang perjalanan, walaupun terik matahari yang sangat luar biasa—kalau awal saya lihat di Bali 30 derajat, masuk ke Pulau Jawa ini luar biasa bedanya, 34 sampai 36 derajat—mereka tetap lakukan. Sepanjang perjalanan, walaupun matahari yang panas, kehujanan, mereka lalui kaki lecet sampai luka, mereka tidak putus asa. Tetap berjalan. Sampai hari ini sudah ada di Yogyakarta," ungkap Tosin.

Lebih mencengangkan lagi, rutinitas malam hari para bhikkhu bukanlah sekadar istirahat total, melainkan laku menahan perih di mana kulit telapak kaki yang pecah harus dijahit agar keesokan harinya tetap bisa melangkah.

"Kalau malam harinya, kadang mereka ada satu PR itu, menjahit kaki teman-teman yang terluka. Walaupun terluka dan dijahit, biasanya orang istirahat, ini tidak; besok tetap jalan. Kalau saya amati di kakinya itu bisa ada 3 sampai 5 jahitan. Ini sangat luar biasa. Walaupun hanya berjalan tanpa ada satu mimbar, mereka menyampaikan pesan perdamaian yang sangat dalam. Perjuangan yang tanpa henti tiap hari, dari 30 sampai 40 kilometer mereka harus jalani. Jadi bisa 8 sampai 10 jam untuk sampai ke tujuan," tutur Tosin menjelaskan.

SAMBUTAN - Sebanyak 57 Bhikkhu Thudong disambut meriah dengan taburan bunga dan kibaran bendera Merah Putih saat tiba di Kompleks Kepatihan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (25/5/2026). Penyambutan hangat dari warga ini menjadi bagian dari agenda Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, yang merupakan rangkaian peringatan Waisak 2570 BE. Diiringi berbagai atraksi, termasuk barongsai, para biksu yang tengah menjalani laku spiritual berjalan kaki sejauh 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur ini diterima langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X.
SAMBUTAN - Sebanyak 57 Bhikkhu Thudong disambut meriah dengan taburan bunga dan kibaran bendera Merah Putih saat tiba di Kompleks Kepatihan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (25/5/2026). Penyambutan hangat dari warga ini menjadi bagian dari agenda Indonesia Walk For Peace (IWFP) 2026, yang merupakan rangkaian peringatan Waisak 2570 BE. Diiringi berbagai atraksi, termasuk barongsai, para biksu yang tengah menjalani laku spiritual berjalan kaki sejauh 666 kilometer dari Bali menuju Candi Borobudur ini diterima langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X. (Tribun Jogja/R.Hanif Suryo Nugroho)

Prinsip Kesederhanaan

Laku Thudong kali ini diikuti oleh rombongan multinasional yang dipimpin oleh seorang bhikkhu muda berusia 31 tahun.

Kelompok tersebut terdiri dari total 57 peserta: 43 orang asal Thailand, 7 orang dari Indonesia, 4 orang dari Malaysia, dan 3 orang dari Laos. Rentang usia mereka sangat bervariasi, dimulai dari bhikkhu termuda yang berusia 23 tahun, hingga yang tertua menginjak usia 67 tahun.

Prinsip kesederhanaan dipegang teguh oleh rombongan ini. Meskipun berstatus sebagai tamu kehormatan lintas negara, mereka menolak dengan halus niat panitia yang ingin memberikan fasilitas kamar hotel.

Para petapa ini lebih memilih tidur di lapangan terbuka, gedung-gedung pertemuan, atau vihara dengan alas seadanya.

Keteguhan dan kesederhanaan ini nyatanya berhasil melunturkan sekat ego di masyarakat.

Dukungan penuh mengalir dari organisasi besar umat Buddha seperti Walubi dan Permabudhi. 

Di tingkat akar rumput, antusiasme warga lintas usia begitu terasa.

Masyarakat rela menunggu satu hingga dua jam di pinggir jalan hanya untuk menyambut rombongan, sebuah pemandangan yang diakui panitia mampu menghapus rasa lelah dan perih para bhikkhu.

Selama di Yogyakarta, Surabaya dan Jombang, mendapatkan keistimewaan sebagai tempat persinggahan selama dua hari.

Rangkaian laku di Kota Pelajar ini nantinya akan ditutup dengan prosesi pelepasan secara resmi oleh Wali Kota Yogyakarta di Budi Abadi Bintaran, mengiringi langkah-langkah penuh jahitan itu menuntaskan garis akhir perjalanan menuju keagungan Candi Borobudur. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.