Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Ramson Siagian, menyoroti kinerja Subholding Upstream PT Pertamina, yakni PT Pertamina Hulu Energi (PHE), terkait penurunan realisasi lifting minyak dan gas bumi (migas) sepanjang 2025. Ramson menilai Pertamina menjadi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang paling lambat dalam menjalankan kegiatan eksplorasi migas.
Ia menyebut percepatan eksplorasi menjadi titik lemah yang paling terlihat dari Pertamina dibandingkan perusahaan migas lainnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR bersama Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (25/5/2026),
Ramson menilai langkah eksplorasi seharusnya dilakukan lebih agresif untuk mengimbangi penurunan produksi alamiah atau natural decline yang terjadi di sejumlah sumur migas.
"Jadi percepatan eksplorasi, ini yang saya lihat terlemah ada di Pertamina," sebut Ramson di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (25/5).
Sebagai informasi, produksi minyak PT Pertamina Hulu Energi sepanjang 2025 tercatat sekitar 396 ribu barel per hari (BOPD), turun dibandingkan capaian tahun 2024 yang menembus 400 ribu BOPD.
Namun, apabila digabungkan dengan produksi dari wilayah kerja internasional, total produksi minyak PHE mencapai sekitar 556 ribu BOPD atau relatif sama dengan realisasi tahun sebelumnya.
Sementara itu, produksi gas bumi tercatat sekitar 2,7 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), terdiri dari 2,45 MMSCFD dari wilayah domestik dan 306 MMSCFD dari wilayah kerja luar negeri.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan produksi gas tahun 2024 yang mencapai 2.833 MMSCFD.
Adapun total produksi migas PHE pada 2025 tercatat sekitar 1,03 juta barel setara minyak per hari (BOEPD), menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di level 1,04 juta BOEPD.
Menurut Ramson, penurunan produksi tidak bisa hanya dijawab melalui optimalisasi lapangan tua maupun penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR).
Ia menilai percepatan eksplorasi wilayah kerja baru tetap menjadi langkah utama yang harus dilakukan untuk menjaga produksi migas nasional.
Ramson juga menyinggung penurunan produksi yang terus terjadi di sejumlah blok migas besar seperti Blok Rokan dan Blok Mahakam dalam beberapa tahun terakhir.
"Tadi menyeimbangkan natural decline ada optimalisasi lapangan tua, ada teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), tapi yang paling penting adalah percepatan eksplorasi wilayah kerja," lanjutnya.